RSS

Hubungan Manusia dengan Alam Semesta dari sudut pandang Peradaban Melayau dan China

08 Mar

1. Pendahuluan
Kehidupan manusia tidak dapat terpisah daripada alam semesta, namun cara manusia memandang dan melayani alam semesta telah melahirkan nilai serta kebudayaan masing-masing. Hakikatnya, kosmologi sebuah peradaban berbeda dan nilai-nilai atau ideologi-ideologi ketamadunan yang dipegang oleh tiap-tiap peradaban juga berlainan.
Kita mencoba menganalisa kosmologi peradaban/kebudayaan Cina dan Melayu dari 2 prespektif yaitu:
1- Prespektif Mitologi
2- Presfektif Filsafat.
Dengan merujuk kepada hubungan manusia dengan alam semesta
SetiapPeradaban masing-masing mempunyai mitos. Berdasarkan definisi Mitos,
Mitos ialah cerita zaman dahulu yang dianggap benar, terutamanya yang mengandungi unsur-unsur konsep atau kepercayaan tentang sejarah awal kewujudan sesuatu suku bangsa, kejadian-kejadian alam dan sebagainya . atau cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yg diungkapkan dengan cara gaib;

Mitos merupakan warisan kerohanian yang berharga dari sudut sastera dan budaya. Kebanyakan mitos disampaikan secara bercerita dari satu generasi ke generasi yang lain.
Mitos telah memperlihatkan daya kreativiti nenek moyang manusia yang penuh imaginasi, romatik dan mistik. Walaupun kandungan mitos tidak mudah dipercayai, namun ia telah memanifestasikan semangat dan pandangan dunia yang paling asas bagi sesebuah bangsa atau kebudayaan atau peradaban.
Oleh karena itu mitos dapat dikatakan melambangkan semangat atau jiwa sebuah Peradaban dalam usaha mengenali dunia yang mereka tinggal dan kesungguhan mereka menyelesaikan masalah dunia .
Dalam usahan mengenali dunia, kerangka pemikiran atau sistem kepercayaan yang dasar akan terwujud. Hal sedemikian menunjukkan sesebuah peradaban sedang mengalami perubahan / peralihan dari suatu peringkat yang primitif kepada peringkat yang lebih rasional. Ini adalah kerana kerangka pemikiran atau sistem kepercayaan tersebut akan menggariskan dasar nilai dan estetika indvidu kepada dasar masyarakat dan kemajuan sosial. Sistem pemikiran demikian menjelaskan dan menentukan hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan telah berlanjut sehingga munculnya ilmu falsafah yang lebih sistematik dan
rasional. Oleh yang demikian, , proses pada peringkat ini menjadi lebih sering dan lebih mendalam. Dalam prosese peralihan tersebut, kelihatan juga masuknya pengaruh asing seperti budaya dan fikiran daripada peradaban lain telah menjadikan kosmologi sesebuah peradaban lebih komplek dan berwarna-warni.

2. Mitos Tentang Penciptaan Alam Semesta dan Kewujudan Manusia

Kepercayaan Tao Yin dan Yang:

seni dan budaya Cina dan Konghucu berbicara tentang yin dan yang atau gelap dan terang. Mereka percaya bahwa Yin dan Yang menjadi kekuatan kreatif yang menopang kehidupan. Yin dan yang adalah kekuatan alam di balik bentuk kekuatan lain bahkan para dewa sekalipun. Ada suatu kekuatan terbesar yang jauh lebih tinggi dibandingkan para Dewa. Menurut teori ini, ada waktu kacau, kabut dan kekosongan sebelum alam semesta diciptakan. Tiba-tiba, ada cahaya yang berwarna-warni dari berbagai sudut kekosongan. Kabut mengguncang dan cahaya semuanya berdiri, sementara benda berat semua tenggelam dan menjadi padat. Langit dan bumi menghasilkan dua kekuatan yang kuat – yin dan yang. Sementara panas, api, dan laki-laki tercipta, begitu juga yin yang lembab, dingin dan perempuan tercipta begitu saja. Terjadilah keseimbangan dan harmoni. keyakinan adalah Yang menciptakan matahari dan bulan itu datang dari yin. Bersama-sama mereka menciptakan empat musim dan lima unsur dan segala jenis makhluk hidup. Pada awalnya, bumi hanyalah sebuah bola tanpa fitur. Yin dan yang diciptakan P’an Ku, ia ditugaskan untuk menjaga bumi. Dia melipat gunung-gunung dan bukit-bukit dan dari lembah-lembah sungai nnengalir. Suatu hari P’an Ku roboh dan meninggal. Ketika ia jatuh ke tanah, tubuhnya menjadi lima gunung suci. Taoisme percaya bahwa rambutnya menjadi tanaman dan darahnya membentuk sungai. Pada awal orang tinggal di gua-gua, tapi para penghuni surge dan para dewa mengajarkan manusia untuk membuat alat dan rumah-rumah, membangun perahu, ikan, membajak dan berkebun. Maka terjadilah kehidupan yang terus berkembang sampai sekarang.

Mitos merupakan salah satu corak sastra rakyat atau suku bangsa tertua dan hamper pada semua suku bangsa dalam peradabannya mengandung Mitos tentang keberadaan suku bangsa tersebut , Contoh : Asal usul Suku Batak di Sumatera utara sbb:
Menurut mitologi Batak di sebelah barat-laut Danau Toba terdapat gunung Pusuk Buhit yang diyakini sebagai tempat asal suku Batak. Etnis Batak percaya kepada Allah Yang Esa, yang di sebut Mulajadi Na Bolon, yang menjadi awal dari segala yang ada; Dialah Yang Mahatinggi, Allah yang oleh suku Batak dipercayai sebagai Allah dari segala ilah yang menjadikan langit, bumi, dan segala isinya. Suku Batak juga meyakini Mula Jadi Na Bolon berkuasa menjadikan yang ada dari yang tiada dan suku Batak meyakini bahwa singgasana Mulajadi Na Bolon berada di atas langit ketujuh. Keyakinan tersebut dapat diketahui pada saat upacara Martonggo (memanggil sang ilah) yang berbunyi, “Daompung Debata na tolu, na tolu suhu, na tolu harajaon sian langit na pitu tindi, sian ombun na pitu lapis”, yang artinya: “Allah Yang Maha Agung, yang tiga rupa, yang menguasai tiga kehidupan, yang berkuasa atas tiga kerajaan yang terdapat di langit yang ketujuh tingkat dan di atas awan-awan yang terdiri dari tujuh lapis”.
Menurut sejarah, suku Batak mengenal burung layang-layang berkedudukan seperti kurir atau penghubung antara langit dan bumi.Boru Deak-Parujur adalah putri dari dewa yang berada di bumi. Mula Jadi Na Bolon menyuruh burung layang-layang tersebut untuk menyerahkan lodong (poting; bambu tabung air) berisi benih kepada Boru Deak-Parujur tersebut. Setelah itu burung layang-layang menyuruh Boru Deak-Parujur agar menenun sehelai ulos ragidup (kain adat Batak) dan melilitkan ke lodong tersebut. Setelah Boru Deak-Parujur melakukan seperti yang di perintahkan burung layang-layang tersebut akhirnya muncullah seorang pria yang di sebut Tuan Mulana (yang awal). Sejak saat itu Tuan Mulana dan Boru Deak-Parujur diyakini sebagai nenek-moyang orang Batak di atas dunia ini.

2.1 Penciptaan Alam Semesta / Universal

Alam semesta, atau dikenali sebagai universal, merupakan suatu bidang yang luas dan jauh daripada pengetahuan manusia kuno, bahkan manusia kini. Kekurangan pengetahuan sains dan teknologi mengakibatkan manusia menggunakan ilmu yang sedia ada dan terhad untuk menjelaskan fenomena atau kejadian alam yang telah berlaku di
sekelilingnya. Untuk memunasabahkan penjelasan mereka, maka peminjaman unsur-unsur ghaib merupakan satu cara penyelesaian yang paling sesuai. Berikut merupakan beberapa contoh mitos tamadun Cina dan Melayu tentang penciptaan universal.

(i) Peradaban Cina

China, mempercayai bahawa dunia pada mulanya adalah berbentuk telur. Di dalam telur tersebut terdapat segala macam Materi dan ambiguitas. Seorang tokoh yang bernama Pan-gu telah dilahirkan di antaranya. Pan-gu memecahkan kerangka telur mengakibatkan bahagian kerangka atas berkembang menjadi langit dan bahagian
kerangka bawah telah menjadi bumi. Materi yang terang dan ringan di dalam telur telah berkembang menjadi udara dan awam, manakala materi yang berat jatuh ke bawah menjadi tanah. Pecahan-pecahan kerangka telur yang tercampur dengan materi berat bertukar menjadi batu-batuan, manakala pecahan yang tercampur dengan materi ringan bertukar menjadi bintang. Dua pecahan kerangkan telur yang besar pula bertukar menjadi matahari dan bulan. Sejak itu, terwujudnya langit dan bumi, pagi dan malam. Selepas Pan-gu mati, badannya bertukar menjadi gunung Kunlun dan rohnya menjadi dewa petir. (TaoYang & Zhong Xiu, 1990:1)
Terdapat juga cerita yang mengatakan bahawa selepas Pan-gu mati, matanya bertukar menjadi matahari dan bulan; rambut dan jangutnya bertukar menjadi bintang; nafas dari mulutnya menjadi angin dan awan; bunyinya menjadi petir, darahnya menjadi sungai dan sebagainya. Roh dan semangat Pan-gu pula melahirkan manusia serta segala haiwan, burung dan serangga di dunia. Dengan itu, maka wujudnya dunia sekarang. (TaoYang &Zhong Xiu, 1990: 8-10)

(ii) Peradaban Melayu

Sekiranya ditinjau dari pandangan orang asli atau penduduk asli di kepulauan Tanah Melayu, kita dapat meneliti sedikit sebanyak tentang asas kosmologi Peradaban Melayu. Misalya menerusi mitos orang Iban, mereka percaya dunia dan manusia sekarang adalah dicipta oleh dua ekor burung dewa yang bernama Ara dan Irik. Pada masa dahulu, terjadi banjir yang besar di alam dunia, Ara dan Irik telah mengeluarkan dua bentuk telur dari banjir tersebut dan menukarkan mereka kepada langit dan tanah.
Ara dan Irk kemudiannya menciptakan gunung-gunung, sawah padi, sungai dan tanah rendah (Ling Ching Ching, 2005: 117-118)
Selain daripada mitos tersebut di atas, terdapat versi lain yang popular di kalangan orang Iban. Orang Iban juga percayai bahawa dunia ini dicipta oleh Raja Entala dan isterinya. Mereka menggunakan kotoran badan mereka untuk menciptakan langit dan bumi. Disebabkan bumi lebih besar daripada langit, Raja Entala terpaksa memanpatnya menyesuaikan langit. Akibatnya, wujudlah gunung, bukit, lembah, sungai dan tanah rendah.
Kemudian bertumbuhanlah paku pakis, pokok, bunga dan rumput. (Ling Ching Ching, 2005:118)
Begitu juga di Indonesia, misalnya di daerah Batak Toba terdapat mitos yang mengisahkan penciptaan bumi, matahari bulan dan manusia oleh Raja Odap-Odap dan Boru Deak Parujar. Di daerah Sikka pula terdapat mitos yang mengkaitkan perkahwinan Lero Wulang dan Ni.ang Tana dengan kelahiran dunia kini. (Abdul Rahman Abdullah, 1999: 12-13).
Dalam al-Quran telah mengisahkan bahawa Allah menggunakan 6 hari untuk mencipta dunia, seperti yang berikut:
.Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa lalu Ia bersemayam di atas Arasy; Ia melindungi malam dengan siang yang mengiringinya dengan deras dan matahari dan bulan serta bintang-bintang,tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian makhluk) dan urusan pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam.. (al-Qural, 7: 54)

2.2 Mitos Tentang Kewujudan Manusia

Mitos penciptaan universal biasanya akan disambung atau diteruskan oleh mitos kewujudan manusia. Kesinambungan ini memperlihatkan pandangan manusia zaman kuno menganggap bahawa manusia adalah dilahirkan kemudian setelah dunia tercipta.
Alam semesta telah memberi nyawa kepada manusia serta semua mahluk di dunia, dan membekali mereka dengan segala keperluan demi kehidupan. Oleh yang demikian, manusia primitif percaya bahawa alam semesta mempunyai kuasa ghaib atau semangat yang boleh mempengaruhi kehidupan mereka. Kepercayaan ini melahirkan fahaman animisme dan dinamisme, iaitu kepercayaan terhadap jiwa, roh atau semangat yang boleh memepengaruhi kehidupan manusia.

(i) Peradaban Cina

Selain memberi penjelasan terhadap sumber keberadaan alam semesta serta fenomena alam alami, mitos peradaban Cina turut memberikan penjelasan terhadap keberadaan manusia di dunia. Terdapat banyak mitos yang mencerita tentang keberadaan manusia.
Kandungan mitos tersebut juga adalah berbeda-beda sesuai masing-masing bangsa.
Namun di antaranya, mitos yang paling popular adalah mitos Nüwa mencipta manusia. Nüwa dikatakan ialah seorang dewi berbadan ular tetapi berkepala manusia. Setelah Pan-gu mencipta dunia, Nüwa merasakan masih terdapat kekurangan di dalam dunia tersebut. Oleh itu, Nüwa menggunakan tanah liat dari Sungai Kuning untuk mencipta patung manusia. Dengan kesaktiannya Nüwa berhasil mengibaskan
mereka kepada manusia yang hidup. (TaoYang & Zhong Xiu, 1990: 30, 126-130; Wikipedia, 2009a, 2009b)

(ii) Peradaban Melayu

Merujuk kepada contoh mitos orang Iban, terdapat beberapa versi tentang keberadaan manusia. orang Iban percaya bahawa burung dewa Ara dan Irik telah mencipta dua orang manusia (lelaki dan perempuan) daripada tanah liat. Oleh itu, kedua-dua orang manusia tersebut ialah nenek moyang manusia. Selain itu, juga dipercayai bahawa manusia adalah dicipta oleh Raja Entala dan isterinya. Setelah mencipta dunia, Raja Entala dan isterinya ingin mencipta manusia supaya menguasai dunia tersebut, maka mereka menggunakan pokok pisang sebagai bentuk manusia, dan cairan pohon pala yang berwarna merah sebagai darah manusia. (Ling Ching Ching, 2005: 118)
Kaum Dayak pula percaya bahawa nenek moyang manusia dari mulut burung enggang. Burung enggang adalah jelmaan dewa Mahadallah dan isterinya dewi Putir yang dipercaya menciptakan dunia sekarang. (Ling Ching Ching, 2005: )
Dalam Hikayat Hang Tuah pula, juga mengisahkan tentang kemunculan manusia (puteri yang cantik) akibat kemuntahan seekor lembu putih. (Azmi Rahman, 2008)
Melihat dari kanca Islam, menurut Hikayat Nur Muhammad, manusia adalah dicipta daripada peluh burung merak. Burung merak tersebut dibentuk daripada pancaran cahaya jat putih. Allah mencipta sebatang pokok dan meletakkan burung merak di atas pokok.
Burung merak memuji Allah selama tujuh puluh ribu tahun. Setelah itu, Allah meletakan cermin di hadapannya lalu burung merak merasa malu dan mula berpeluh. Peluhnya bertukar menjadi jiwa rasul, khalifah dan segala benda di alam semesta. (Mohd. Nor bin Ngah, 1985: 9-10)

3. Manusia dan Alam Semesta dalam Konteks Falsafah

Berdasarkan contoh-contoh mitos yang berkaitan dengan keberadaan alam semesta dan manusia, dapat dikatakan bahawa mitos-mitos dasar kosmologi di peradaban Cina dan peradaban Melayu mempunyai banyak persamaan. Dalam kepercayaan kedua-dua peradaban ini, unsur-unsur dualisme dapat diperhatikan di mana dunia / universal biasanya dicipta oleh dewa-dewi yang merupakan suami isteri; keadaan geografi alam seperti langit dengan bumi; manusia dicipta pada mulanya ialah dua orang, iaitu lelaki dan perempuan dan sebagainya. Selain itu, mitos tentang keberadaan manusia juga saling berkait dengan sumber bumi (tanah liat), atau berasal daripada hewan, tumbuhan dan sebagainya.
Pemilikan kosmologi asas sedemikian juga mendorong tamadun Cina bahkan peradaban Melayu bersifat animisme. Kedua-dua peradaban ini percaya kepada semangat ghaib atau kuasa luar biasa yang dapat menentukan kebaikan atau keburukan kehidupan mereka. Dengan demikian, untuk mendapat berkat daripada kuasa alam semesta, upacara-upacara penyembahan dan pengorbanan selalu diadakan.
Semangat kepecayaan demikian melahirkan larang (pantangan) bagi manusia kedua-dua peradaban supaya dapat hidup menjauhi segala malapetaka, berharmoni dan mengamati alam semesta yang dipercayai sebagai satu entitas yang mistik tetapi mulia. Segala aktiviti dan interaksi dengan alam semesta telah mendorong mereka membina budaya, sastera, teknologi dan falsafah pemikiranan mereka. Tambahan lagi pengaruh budaya atau agama dari luar seperti Hindu-Buddha, Islam turut memberi masukan, terutamanya kepada peradaban Melayu untuk membangunkan kosmologi mereka.
Di sini, dicoba mengemukakan beberapa konsep filsafat / keagamaan secara singkat, yang berhubungan dengan hubungan manusia dengan alam semesta:

Konsep Taiji

Dalam peradaban Cina, unsur-unsur dualisme tersebut telah melahirkan konsep Taiji.
Taiji bererti sesuatu yang bersifat universal, dan digunakan untuk menjelaskan perubahan dunia serta segala kewujudan benda di alam dunia. Taiji adalah prinsip dan displin kepada semua benda di alam dunia ini, dan selalu berada dalam keadaan bertentangan, iaitu Ying (negatif) dan Yang (positif). Maka segala fenomena dan benda adalah saling kait mengait dan saling tentang menentang, seperti wujudnya kelahiran tentunya ada kematian. Ini merupakan tatatertib pengedaran alam semesta. Taiji telah memberi pengaruhan yang dalam kepda aliran falsafah Konfusianisme dan Daoisme di Cina.

Konsep .Tian Ren He Yi.

Ahli falsafah Cina, Zhang Dainian berpendapat bahawa .Tian Ren He Yi. merupakan salah satu dasar budaya peradaban Cina. (2004: 211-222) Oleh karena itu, konsep penyatuan manusia dengan alam semesta merupakan satu aspek yang amat penting dalam aliran-aliran falsafah Cina. Istilah .Tian. di sini mengacu pada alam semesta, universal, langit, syurga atau Tuhan.Oleh itu, untuk menyatukan manusia atau diri sendiri dengan alam semesta, manusia perlu memupuk dirinya sehingga ke suatu tahap tertentu. Atas konsep ini, aliran Daoisme telah melanjutkan makna .Tian Ren He Yi. ke sesuatu lingkup yang lebih luas, iaitu membincangkan tentang sifat alami manusia. Daoisme berpendapat bahawa .Tian. adalah sesuatu yang alami, begitu juga dengan .Ren. (manusia):
.Given man, and you have Heaven; given Heaven, and you still have Heaven. (Zhuang zi, 2009a: .The Tree on the Mountain.)
.Heaven, Earth, and I were produced together, and all things and I are one.(Zhuang zi, 2009b: .The Adjustment of Controversies.)
Konfusianisme pula merupakan aliran falsafah yang praktikal. Bagi Konfusianisme, Tian. merupakan ketinggian etika dan akhlak dalam universal. Oleh karena itu, pengikut-pengikut Konfusianisme harus memupuk sifat alami mereka supaya tidak dipengaruhi oleh pelbagai nafsu. Dengan hanya memerlihara hati / sifat alami, manusia boleh mencapai ke tahap .Tian Ren He Yi. yang merupakan ukuran ketinggian nilai akhlak sesebuah tamadun atau individu.

Dunia Kehidupan dan Akhirat

Setelah kedatangan peradaban Islam di Nusantara pada abad ke-13, kosmologi Peradaban Melayu telah mengalami perubahan. Kenyataan sedekian disetujui oleh Syed Muhamad Naguib Al-Attas (1972) yang berpendapat bahawa kedatangan Islam telah memberi pengaruhan ke atas sistem dan cara hidup orang Melayu yang sebelum itu menganut animisme dan Hindu-Buddha. Maka kosmologi peradaban Melayu turut
mengalami perkembang ke tahap yang lebih beradab. Kini, tujuan manusia dicipta bukan tanpamaksud, tetapi adalah disebabkan Allah ingin manusia mengenali-Nya. (Mohd. Nor bin Ngah, 1985:19)
Dalam pandangan Islam, Allah membahagikan alam universal kepada dunia kehidupan dan akhirat. Kedua-dua dunia ini adalah penting bagi seseorang muslim kerana segala perbuatannya di dunia kini akan berdampak di dalam akhirat. Kehidupan akhirat penting dalam Islam dan kita dapat menelitinya melalui ayat-ayat al-Quran seperti yang berikut:
…. Kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.. (al-Quran, 3: 185)
….Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan, dan sesungguhnya hari akhirat itulah sebenarnya negeri yang kekal.. (al-Quran, 40: 39)
Oleh karena itu, kehidupan seseorang di akhirat amat bergantung kepada cara dia hidup di dunia. Maka, seseorang perlu menjaga kelakuan dan bertanggungjawab atas perbuatannya, termasuk tidak merusak sumber alam dunia. Al-Quran mencatatkan bahawa:
.Allah akan membalas setiap perbuatan seseorang (al-Quran, 14: 51)
Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah diberikan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu; dan janganlah engkau melakukan kerusakan di muka bumi; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan..(al-Quran, 28: 77)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 8, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: