RSS

“Putih Kata Bung Karno, Putih Kata KKO…. Hitam kata Bung Karno, Hitam kata KKO”

16 Jan

Letjen KKO Hartono

Letjen KKO Hartono, adalah Perwira tinggi yang berani terang- terangan mendukung Bung Karno. Ucapannya yang terkenal adalah “Putih Kata Bung Karno, Putih Kata KKO…. Hitam kata Bung Karno, Hitam kata KKO” ini adalah ucapan kesetiaan prajurit komando pada

pimpinan. Tak lama setelah itu ada demo di jalan yang dilakukan prajurit KKO di Surabaya. Slogan terkenal Demo itu adalah “Pejah Gesang Melu Bung Karno” Hidup Mati Ikut Bung Karno. Kejadian itu di tahun 1966.

Sumitro dilantik Suharto

Hal ini jelas membuat khawatir Suharto, maka Suharto memerintahkan Jenderal Sumitro untuk ke Surabaya yang tujuan utamanya adalah memapankan kekuasaan Suharto. Di Surabaya Soemitro mengumpulkan semua mantan Panglima Brawijaya, kecuali Panglima Brawijaya yang pertama Imam Soedja’i yang emang udah meninggal di tahun 1953.

Sumitro

Disana Sumitro juga mengeliminir perbedaan antara Resimen Ronggolawe dengan Resimen Narotama yang selalu menjadi rivaal di dalam tubuh Brawijaya. Sumitro juga melancarkan serangan ke Jenderal Hartono, yang kemudian akhirnya Jenderal KKO Hartono di dubeskan ke Pyongyang tahun 1968.

Saat menjadi Dubes Korea di Pyongyang ia dipanggil di Jakarta pada tahun 1971 dan kemudian dikabarkan bunuh diri. Tapi apa benar kabar Letjen KKO Bunuh diri? banyak yang meragukan termasuk Ali Sadikin. banyak berita yang mengabarkan hal ini, dan sepertinya pernah juga diangkat sebagai berita selidik kasus di Stasiun Televisi Swasta. Ini salah satu kabar tentang keraguan Letjen KKO bunuh diri.

 

KEMATIAN LETJEN KKO HARTONO MASIH MISTERI

Seandainya Pemerintah Orde Baru mau berterus terang lewat berbagai argumentasi ilmiah, mungkin kematian Letnan Jenderal KKo (sekarang Marinir) Hartono yang sudah terjadi 28 tahun lalu tidak lagi menjadi bahan  pembicaraan Negatif di kalangan rekan sejawatnya.

Korban yang dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan pada tanggal 7 Januari 1971 diduga meninggal di  kediamannya jalan Prof Dr Soepomo akibat pembunuhan oleh orang tak dikenal.

Bukan seperti yang dijelaskan secara tersembunyi oleh rezim Orde Baru sebagai bunuh diri dengan menggunakan senjata api pistol miliknya sendiri.

Beberapa sahabat korban yang sampai saat ini belum yakin benar rekannya itu meninggal akibat bunuh diri adalah Letjen KKo (Pur) Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jaya dan Laksamana Madya Rachmat Sumengkar, mantan Wakil KSAL.

Kedua tokoh TNI AL ini menyebutkan, sulit untuk mengatakan Letjen KKo Hartono bunuh diri hanya dengan data yang ditemukan di kediaman korban pada waktu itu.

Ditambah lagi dengan data yang menyebutkan, korban tidak divisum oleh dokter Rumah Sakit Angkatan Laut ataupun RSCM yang waktu itu dinilai netral setelah ditemukan meninggal di rumahnya sekitar pukul 05.30. Tapi oleh petugas rezim Orde Baru, mayat korban langsung dibawa ke Rumah Sakit  Angkatan Darat.

Baru setelah itu mayatnya disemayamkan di rumahnya untuk kemudian dibawa ke Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk dimakamkan secara militer dengan inspektur upacara KSAL Laksamana Madya Soedomo.

Disebutkan, dari data yang mereka miliki terlihat korban bukan tipe manusia yang mudah putus asa. Apalagi mau bunuh diri hanya karena ada dugaan ia putus asa atas hasil pekerjaannya yang tidak berhasil sebagai Duta Besar Luar  Biasa untuk Korea Utara. ” Saya masih ragu jika Letjen Hartono disebut sebagai bunuh diri”, ujar Rachmat Sumengkar yang saat ini berwiraswasta pada Pembaruan, Rabu lalu.

Pendapat kedua tokoh TNI AL ini ditepis oleh Komandan Korps Marinir TNI AL Mayor Jenderal (Mar) Soeharto di Surabaya Rabu lalu yang menyebutkan, Letjen KKo Hartono, salah seorang tokoh pendiri Marinir, benar meninggal akibat bunuh diri.

Semua data tentang peristiwa  kematian Letjen KKO Hartono menguatkan jika mantan komandannya itu bunuh diri dan tidak perlu dijadikan sebagai polemik di masyarakat.

Perlu Ditelusuri

Keterangan ini membuat beberapa rekan korban tetap berkeinginan agar peristiwa kematian Letjen KKO Hartono ditelusuri kembali oleh pemerintah agar masalahnya bisa jelas dan tidak menjadi bahan pertanyaan generasi  muda dimasa mendatang. Jika kasus kematian korban tetap dinyatakan sebagai bunuh  diri hanya dengan data yang ada dari rezim Orde Baru dikhawatirkan pertanyaan  terus berlangsung. Dan generasi muda mendatang mendapatkan sejarah bahwa seorang tokoh Marinir pernah membuat kesalahan dengan bunuh diri.

Disebutkan, apakah kematian korban ada kaitannya dengan ucapannya yang pernah menggegerkan masyarakat yang menyebutkan, “Putih kata  Presiden Sukarno, putih pula kata KKO. Hitam kata Presiden Sukarno, hitam pula kata KKo”. Jika hal ini ada kaitannya, perlu ada penelusuran agar sejarahnya bisa  diluruskan.Demikian pula bila bila sebaliknya perlu dijelaskan kepada masyarakat.

Sementara itu dalam berita harian Sinar Harapan tertanggal 7 Januari 1971disebutkan, kematian Letjen KKO Hartono diliputi misteri. Sebelum ditemukan meninggal di rumahnya, korban yang menjabat sebagai Dubes di Korea Utara dipanggil ke Jakarta untuk mengadakan pembicaraan dengan beberapa  pejabat penting di Departemen Luar Negeri dan Kopkamtib. Ia berada di Jakarta sejak 19 Desember 1970 dan merencanakan kembali ke Pos tugasnya di Pyongyang pada hari ia ditemukan meninggal.

Selama berada di Jakarta selain bertemu dengan Menlu Adam Malik dan Presiden Soeharto yang bersangkutan juga berkunjung ke Kopkamtib pada tanggal 29 Desember 1970. Tidak diketahui apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu.

Korban ditemukan tergeletak di lantai kamarnya oleh ibu kandungnya yang sudah tua dalam keadaan berlumuran darah akibat tembakan peluru pistol di bagian belakang kepala. Pistol yang menyebabkan kematian korban ditemukan tergeletak dekat mayat korban.

Karena korban adalah warga KKo AL, pihak pertama yang segera dihubungi adalah Komandan KKo Mayjen Mukiyat yang segera datang ke lokasi kejadian.

Kemudian datang juga KASAL Soedomo dan Kolonel CPM NICHLANY. Mayat korban kemudian dibawa ke RSPAD untuk mendapatkan visum dokter. Almarhum yang lahir di Solo 1 Oktober 1927 memulai kariernya sebagai anggota marinir pada tahun 1945 dengan pangkat Letnan Muda. Dan puncak kariernya di TNI AL adalah Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut pada tahun 1966. Sesudah itu tanggal 8 November 1968 ia diangkat menjadi Dubes RI di Korea Utara.

Pertama, saya harus menulis “Hartono KKO” untuk membedakan antara Letnan Jenderal (KKO) Hartono dengan nama-nama Hartono lainnya. Dia adalah satu di antara sekian banyak jenderal loyalis Bung Karno. Dia adalah satu di antara elite militer negeri kita pada masanya, yang begitu loyal kepada presidennya. Ucapan yang terkenal dari Hartono adalah, “Putih kata Bung Karno, Putih kata KKO. Hitam kata Bung Karno, Hitam kata Bung Karno”. Akibat statemen itu, tak lama kemudian di Jawa Timur, prajurit KKO berdemo dan membentang poster bertuliskan, “Pejah-gesang Melu Bung Karno”… yang artinya, Mati-Hidup Ikut Bung Karno. Ini adalah nukilan sejarah yang terjadi tahun 1966.

Tahun 1966 adalah tahun genting. Tahun transisi pemerintahan dari Bung Karno ke Soeharto. Dengan dukungan Kostrad (baca: Angkatan Darat), serta back-up asing, Soeharto makin mengukuhkan dominasi politiknya. Melalui jalan merangkak, satu per satu kekuataan Bung Karno dipreteli. Kewenangan yang dikebiri, hingga penggantian sebagian besar anggota DPR-MPR dengan kader-kader karbitan yang pro Soeharto, sehingga memuluskan semua proses penggulingan Bung Karno, yang seolah-olah konstitusional.

Kembali ke Hartono KKO. Dia termasuk elite militer yang mengetahui adanya gelagat mencurigakan sebelum peristiwa Gestok. Bukan itu saja, Hartono juga termasuk yang mencurigai Soeharto sebagai “master mind” di balik Gestok. Pernah suatu hari, dia bersama Waperdam Chaerul Saleh diutus Bung Karno untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Soeharto sebagai pelaksana Supersemar. Intinya adalah, meluruskan hakikat Supersemar, termasuk melarang Soeharto mengambil tindakan-tindakan politik yang menjadi wewenang Presiden. Jawab Soeharto, “Sampaikan ke Bapak, itu tanggung jawab saya.”

Sebagai jenderal pasukan elite, mendidih hati Hartono. Meradang amarah demi melihat sesama prajurit (meski beda angkatan) tetapi berani menentang panglima tertinggi. Karena itu pula, tidak sekali dua, Hartono meminta izin Bung Karno untuk mengerahkan kekuatan KKO menggempur Soeharto dan semua anasir militer yang dia kendalikan untuk menggulingkan Bung Karno.

Peta kekuatan militer saat itu, sangat memungkinkan untuk menumpas Soeharto dan pasukannya, mengingat, angkatan lain, Laut, Udara, dan Kepolisian bisa dibilang mutlak berdiri di belakang Bung Karno. Bahkan beberapa divisi Angkatan Darat, juga tegas-tegas menyatakan loyal kepada Bung Karno. Sejarah menghendaki lain. Bung Karno melarang. Bung Karno tidak ingin persatuan dan kesatuan bangsa yang ia perjuangkan sejak remaja hingga menjadi presiden, kemudian hancur kembali oleh perang saudara, hanya demi membela dirinya. Bung Karno pasang badan untuk menjadi tumbal persatuan Indonesia.

Ketidakharmonisan hubungan Hartono – Soeharto, disadari benar bisa menjadi “ancaman” bagi berdirinya Orde Baru. Karena itu, pelan tapi pasti, dengan penyelewengan kewenangan, Soeharto mulai menghabisi lawan-lawan (nyata) politiknya, maupun loyalis Bung Karno semata. Seorang Sukarnois saat itu, bisa dengan mudah dijebloskan ke penjara.

Akan halnya Hartono, Soeharto tidak berani berhadapan muka, kecuali dengan “membuangnya” ke Pyongyang, Korea Utara, dengan dalih tugas sebagai Dubes Luar Biasa pada tahun 1968. Tiga tahun menjadi Dubes di Korea Utara, Hartono dipanggil ke Jakarta pada tahun 1971. Ia pulang sendiri, istri dan anak-anaknya masih di Pyongyang. Ia kemudian dikabarkan meninggal bunuh diri dengan cara menembakkan pistol ke kepalanya. Kisah bunuh diri itu disebutkan terjadi di kediaman Hartono, Jl. Prof. Dr. Soepomo, Menteng, Jakarta Pusat pada pagi hari pukul 05.30. Begitu bunyi statemen resmi rezim Orde Baru.

Ironis. Sebab, jenazah Hartono tidak divisum di rumah sakit netral seperti RSAL atau RSCM, melainkan dibawa ke RSPAD Gatot Subroto. Dari RSPAD baru kemudian jenazah disemayamkan di kediaman, untuk sejurus kemudian dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, dengan inspektur upacara KSAL, Laksamana Madya Soedomo.

Kabar bunuh diri Jenderal KKO Hartono, begitu sulit dinalar akal sehat. Dua pentolan TNI-AL, seperti Letjen KKO Ali Sadikin dan Laksamana Madya Rachmat Sumengkar, Wakil KSAL, adalah sedikit dari sekian banyak orang yang meragukan Hartono meninggal bunuh diri. Kuat dugaan Hartono adalah korban pembunuhan.

Tak terkecuali, Grace, istri Hartono dan putrinya yang masih berada di Pyongyang. Betapa shock dan terpukul demi mendengar kabar suaminya meninggal akibat bunuh diri. “Suami saya meninggal 6 Januari 1971, tanggal di mana seharusnya dia kembali ke Pyongyang. Belakangan saya mendapat informasi, pagi sebelum meninggal, ada dua orang yang datang ke rumah,” ujar Grace. Nah, dua orang misterius inilah yang diduga membunuh Hartono di pagi buta itu, dengan cara menembak kepalanya di tempat tidur.

Grace dan keluarganya bahkan tidak dihadirkan segera. Tercatat dia baru bisa mendarat di Jakarta dua minggu setelah kematian suaminya. “Seminggu setelah suami saya meninggal, Menlu Adam Malik menghubungi saya. Dia berjanji akan memberi penjelasan detail menganai kematian suami saya. Janji yang tidak pernah ditepati,” ujar Grace pula.

Setiba di rumah, makin kuat dugaan bahwa suaminya memang dibunuh. Ia menyebutkan, menemukan sebuah lubang peluru di dinding kamar. Ini adalah hal yang janggal. Kemudian, kejanggalan lain adalah, tidak terdengarnya suara letusan pistol pada pagi buta itu. “Penggunaan alat peredam tembakan, hanya dilakukan oleh para pembunuh. Bukan oleh orang yang bunuh diri,” tandasnya. Ihwal alasan mengapa suaminya dibunuh, Grace hanya mengatakan, “Mungkin Bapak mengetahui suatu rahasia besar.”

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 16, 2012 in Uncategorized

 

One response to ““Putih Kata Bung Karno, Putih Kata KKO…. Hitam kata Bung Karno, Hitam kata KKO”

  1. Aku gaptek

    Juni 11, 2012 at 11:58 am

    Suharto pengkhianat mbokneancok,negaraku digadaikan pada kapitalis yahudi,rockefeller cs,freeport taek,exxon gendeng,caltex kurang ajar.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: