RSS

Mbah Hadi pengawal spiritual Bung Karno

11 Jan

HadiIni adalah salah satu bagian dari sejarah yang tercecer. Bung Karno, banyak dikelilingi pengawal. Nah, pengawal ini pengertiannya ada yang ofisial, dalam arti organik di struktur Detasemen Kawal Presiden (DKP), ada juga yang non-organik. Artinya, pengawal khusus. Disebut pengawal khusus, yaaa karena tidak ada dalam struktur DKP.

Ini adalah sekelumit kisah dari seorang Hadi Sukismo, seorang pengawal khusus Bung Karno, yang bekerja sejak tahun 1950 sampai tahun 1962. “Saya waktu sedang bekerja di pabrik gula sebagai mandor tebu. Tiba-tiba datang surat dari pak Juanda yang meminta saya datang ke Jakarta, menghadap Bung Karno untuk jadi pengawal beliau,” ujar Mbah Hadi, begitu ia akrab disapa, mengawali kisah-mula ia menjadi pengawal khusus Bung Karno.

Keesokan harinya, Mbah Hadi bertolak ke Jakarta naik kereta api. Setiba di Jakarta, ia langsung menuju ke Istana. “Wah, waktu itu saya disuruh menunggu hampir seharian. Pertama datang, pengawal menanyakan siapa saya, apa keperluannya datang ke Istana, dan pertanyaan-pertanyaan khas petugas Istana yang penuh curiga…. Yaaa, saya kasih saja surat dari pak Juanda, saya bilang, ‘baca sendiri surat ini’,” ujar Mbah Hadi sambil mengepulkan asap rokok Ji-Sam-Soe.

Demi membaca surat pengantar Juanda, petugas itu sontak berubah sikap lebih lunak. “Tapi ya tetap saja saya disuruh nunggu. Nunggu lamaaaa sekali…. Hampir sore baru saya diterima petugas pengawal Bung Karno. Jadi saya belum ketemu Bung Karno pada hari itu,” katanya.

“Saudara bersedia menjadi pengawal Presiden?,” tanya petugas.

“Saya bersedia,” jawab Hadi.

“Baik. Mari ikut kami,” ujar petugas sambil mengajak Hadi pergi.

Sore itu, Hadi dibawa tim pengawal naik mobil menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Di tengah perjalanan, seorang petugas menunjukkan foto lelaki kekar asal Papua. Hadi ditugaskan menangkap lelaki yang diduga sebagai pelaku kejahatan di kapal. “Saya cuma mbatin, ah… mungkin untuk jadi pengawal Bung Karno, inilah ujian yang harus saya lewati,” kenang Hadi.

Benar. Tak lama kemudian, sebuah kapal merapat di pelabuhan Tanjung Priok. Di antara para penumpang yang turun, salah satunya adalah “target” yang harus diringkus. Begitu ia melihat “tersangka”, Hadi diperintahkan untuk menangkap. Ia pun turun dan menjemput lelaki itu. Tak ada rasa takut sedikit pun, sekalipun sebelumnya ia diberi tahu, bahwa tidak ada orang yang sanggup menangkapnya.

Begitu Hadi mendekati “tersangka”, ia langsung bilang, “Berhenti. Saudara kami tangkap. Mari ikut kami.” Belum sempat lelaki tadi beraksi melakukan perlawanan, Hadi sudah berhasil memegang tangannya, dan membantingnya seketika. “Saya tidak merasakan berat. Enteng saja saya banting dia,” kata Hadi yang berperawakan cukup besar untuk ukuran orang Indonesia.

Heran bin ajaib, penjahat itu tidak melawan. Ia menatap Hadi dengan ketakutan, dan menyerah digelandang petugas. Di kemudian hari, Hadi tahu, ia terbukti melakukan sejumlah kejahatan di kapal. “Saya lupa, kalau tidak salah ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara,” kata Hadi.

Mbah Hadi punya pirasat:

Mbah Hadi

Ini adalah fragmen lanjutan tentang Mbah Hadi, Haji Hadi Sukismo, seorang pengawal spiritual Bung Karno. Saat dijumpai di kediamannya, Bakulan Wetan, RT 04/RW 04, Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Bantul Akhir november 2012, mbah Hadi masih kelihatan bugar. Pria kelahiran 12 Juli 1908 itu, juga masih sesekali turun ke sawah, menggarap sebidang lahan hasil jerih payahnya menjadi petugas keamanan kampung.

“Sekitar tahun 1962, saya memutuskan meninggalkan Bung Karno, pulang ke Jogja menjadi petani. Saya tidak membawa apa-apa dari Jakarta. Saya juga tidak meminta apa-apa dari Bung Karno,” ujar Mbah Hadi.

Saat diminta menceritakan, apa alasan dia meninggalkan Bung Karno, dia sejenak terdiam dan mata tuanya menerawang ke atas. “Ini cerita lama, tetapi tidak apa-apa saya ungkap. Ketika itu, firasat batin saya tidak enak. Makin hari, perasaan tidak enak itu tertuju ke orang dekat Bung Karno, orang yang justru sangat bertanggung jawab terhadap keselamatan Bung Karno….” ujar Hadi, tanpa menyebut nama,

Karena penasaran, saya menyebutkan nama, “Siapa Mbah? Siapa orang yang panjenengan firasati tidak enak? Apakah ajudan Bung Karno?”, Hadi spontan menjawab, “Bukan!”, lalu diam. Suasana hening. Saya yang datang berempat, juga diam. Tidak satu pun yang berniat mengusik “diam”nya mbah Hadi. Sampai saya habis kesabaran dan menanyakan lagi, “Lalu siapa mbah? Apa pak Mangil?”, spontan mbah Hadi menggeleng, “Bukan!”. Saya kejar lagi, “Brigjen Sabur?”, dia menatap saya dan menjawab, “Ya!”

Dalam sebuah percakapan di tahun 62-an, Hadi matur ke hadapan Bung Karno, “Sabur sudah terlalu lama di dalam. Dia akan lebih bermanfaat buat Bapak, kalau ditempatkan di luar Istana.” Dalam banyak hal, menurut pengakuan Hadi, Bung Karno banyak mendengar saran-saran Hadi, tapi untuk saran tentang Sabur, Bung Karno tidak sependapat. “Sabur itu pinter. Dia lebih baik di dekat saya!”

Merasa sarannya tidak didengar, Hadi dengan lugunya mengatakan kepada Bung Karno, “O, ya sudah. Kalau begitu besok saya pulang ke Jogja….”

Sampai di situ, Mbah Hadi terdiam lagi. Cukup lama. Padahal saya penasaran sekali untuk mendengar apa reaksi Bung Karno demi mendengar niat Hadi pulang ke Jogja, yang itu berarti tidak lagi menjadi pengawalnya. Rupanya, tidak keluar jawab kalau tidak diajukan pertanyaan, “Apa kata Bung Karno, mbah?”

“Dia diam saja. Ya saya besoknya langsung pulang. Saya tinggalkan semua fasilitas kendaraan, sopir, bahkan pengawal saya. Saya pulang ke Jogja tidak membawa apa-apa. Saya juga tidak menerima pesan apa-apa dari Bung Karno. Dia diam saja,” tutur Hadi.

Entah firasat Hadi yang benar, entah kepastian jalannya sejarah… ketika Gestok meletus tahun 1965, tiga tahun setelah Hadi menyampaikan firasatnya ke Bung Karno, memang kemudian melibatkan pasukan Cakrabirawa pimpinan Sabur.

Dari lebih tiga jam berbincang dengan Mbah Hadi, memang belum banyak yang bisa dikorek. Saya berniat mendatanginya lagi suatu saat. Selain masih penasaran dengan kisah-kisah human interest antara Hadi Sukismo dan Bung Karno, juga berharap ada serpihan sejarah lian yang bisa diungkap. (roso daras)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 11, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: