RSS

Dari Negara Federal Menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia (2-Habis)

28 Mei

 

              Setelah   Kalimantan   Barat   digabungkan   ke   dalam   R   I   melalui    sidang    MajelisPermusyawaratan pada tanggal 22 April 1950,[xvii] maka tinggal tiga negara bagian dalam R I  S,yaitu; R I, N S T, dan N I T. Masih kokohnya dua negara bagian terakhir itu disebabkan  beberapafaktor. Berhubungan dengan kokohnya N I T sebagai negara bagian dalam R I S,  terdapat  banyakhal bersifat kompleks yang telah membentuk aliansi anti  republik.  Aliansi  itu  terdiri  dari  kaumbangsawan  Melayu,  bagian  terbesar  raja-raja  Simalungun,  beberapa  Kepala  Suku  Karo,   dankebanyakan tokoh masyarakat  Cina.[xviii]  Mereka  itu  semua  merasa  kedudukannya  terancam dengan   berdirinya   negara   baru.   Perasaan   itu   muncul   karena   selama    tahun-tahun    awal  kemerdekaan terdapat pengalaman pahit berkaitan dengan tekanan kaum  republik  terutama  kaumpemudanya yang sangat anti bangsawan. Oleh karena itu, bagi kaum bangsawan  Sumatera  Timurmereka  mendambakan  kembalinya   Pemerintah   Kolonial   Belanda   yang   mampu   menjaminkedudukan dan keselematannya. Dalam pandangan kaum bangswan Melayu, R I akan mengancamkelanjutan perlindungan dan keistimewaan  yang  mereka  nikmati  di  bawah  payung  pemerintahkolonial. Kondisi itu kemudian  ditambah  munculnya  kesadaran  oleh  para  petani  Melayu  padaakhir 1945 bahwa ada keinginan di kalangan mayoritas penduduk non-Melayu  untuk  menghapushak-hak   istimewa   kaum   Melayu   atas  tanahnya.[xix]   Sehingga   mereka   menyambut   baikkalangancampur  tangan  Belanda  di  Sumatera  Timur.  Harapannya  adalah  dengan  kembalinyaBelanda,  maka  akan  pulih  kembali  hak-hak  adat  penduduk  Melayu  maupun   penduduk   aslilainnya. Selain itu, tentu saja akan terjaga segala kepentingannya.

 

Bersamaan  dengan  itu  beberapa  anggota  pribumi   Pemerintah   Kolonial   yang   kolot,terutama beberapa tokoh Batak karena takut terhadap penguasaan Pemerintah Republik oleh kaum”ekstrimis” bergeser lebih jauh ke dalam kubu kaum anti-republik.[xx] Perasaan  phobia  terhadapkehadiran R I juga merasuki kaum Cina di Sumatera Timur. Mereka itu telah menderita  di  bawahtekanan kaum ”ekstrimis” republik. Bentuk fisik yang  berbeda  dengan  penduduk  asli,  ditambahdengan kedudukan ekonomi yang lebih baik sehingga  sering  menimbulkan  kecemburuan  sosial.

 https://thpardede.files.wordpress.com/2013/05/7b283-ferdinad-l-tobing.jpg

Semua itu  menjadikan  orang-orang  Cina  sebagai  sasaran  kekejaman  para  pemuda  ”pejuang”.Selama bulan-bulan awal revolusi sekelompok pemuda secara  teratur  merampoki  toko-toko  dangudang-gudang milik orang Cina.[xxi] Sebagai jawabannya kemudian masyarakat Cina di  Medanmendirikan  kesatuan  Poh  An  Tui,  yaitu  pasukan  keamanan  Cina  yang  dipersenjatai  Inggris.

 

Mereka ini meronda daerah pecinan di Medan, Binjai, dan Pemantang Siantar.  Kesatuan  tersebutbersama dengan pasukan Belanda turut serta mempersiapkan berdirinya  N  S  T  yang  disponsoriBelanda dan bangsawan setempat.[xxii] Secara riil, kelompok masyarakat  yang  tergabung  dalamaliansi anti R I sesungguhnya hanya sepertiga saja dari jumlah seluruh pendukungnya.[xxiii] Akantetapi  dengan   adanya  perpecahan  antar  elit   dan   masyarakat   membuat   daerah   itu   mampudimanfaatkan Belanda sebagai salah satu negara bagian dengan tokoh-tokoh  dan  pasukan  militeryang kuat dan gigih menentang keberadaan R I di wilayahnya.

 Kombinasi dari semua faktor  itu  akhirnya  mendukung  lahirnya  aliansi  anti  republik  diSumatera Timur. Keadaan itu membuat N S T masih berdiri hingga saat terakhir eksistensi R  I  S.

 

Walaupun demikian,  tidak  berarti  rakyat  di  Sumatera  Timur  tidak  menghendaki  pembubarannegara bagiannya dan memilih bergabung dengan R I. Selama revolusi  fisik,  di  Sumatera  Timurbahkan muncul berbagai  macam  kelompok  bersenjata  yang  gigih  berjuang  melawan  Belanda.Meskipun kontrol pemerintah pusat terhadap mereka sangat lemah, bahkan dapat  dikatakan  tidakada sama sekali.

N I T mampu bertahan hingga akhir karena beberapa faktor. Pertama, Belanda  sejak  awal  sudah memilih  Indonesia  Timur  untuk  dijadikan  daerah  utama  yang  akan  bergabung  dengansebuah negara federal Indonesia Serikat. Di samping itu, ada satu hal  yang  penting  yaitu;  secaramiliter  Belanda  aktif  di  kawasan  itu.  Belanda  sejak  lama   menjadikan   daerah   Ambon   danMinahasa sebagai keanggotaan K N I  L.[xxiv]  Dengan  kondisi  itu,  tidak  heran  bila  IndonesiaTimur  menjadi  daerah  pertama  yang  dijadikan  Belanda   sebagai   daerah   bagian   yang   akanbergabung ke dalam apa yang disebut Negara  Indonesia Serikat. Indonesia timur dapat seperti  itu karena Belanda mempunyai persiapan matang untuk kembali berkuasa di wilayah tersebut.

       Kondisi itu disebabkan adanya dukungan kuat dari militer Australia yang  ditugasi  Sekutuuntuk mengamankan kawasan tersebut terhadap Belanda. Oleh karena itu, para  pejabat  N  I  C  A(Netherlands  Indies  Civil  Administration)  dengan  leluasa  dapat  masuk  ke  wilayah   Sulawesidengan membonceng pasukan Sekutu, termasuk pasukan pelopor yang mendarat  di  Makassar  21September 1945. Mereka itulah yang kemudian membebaskan semua tahanan Sekutu di  SulawesiSelatan  dan  menempatkan   sekitar   3000   orang   Belanda   bekas   tahan   Jepang   kembali   keMakassar.[xxv]           

Keadaan itu memang berbeda  dengan  tindakan  pasukan  Inggris  di  Jawayang tidak leluasa karena khawatir membahayakan keselamatan tahanan dan tawanan perang yangbanyak jumlahnya. Pasukan Australia di Sulawesi relatif bebas untuk  berurusan  dengan  pasukanJepang ataupun dengan bekas pejabat lokal.

Tujuan utama mereka adalah mendirikan  pemerintahan  yang  dapat  menjamin  ketertibanumum  dan  mendapatkan  beras   dari   daerah   pedalaman   bagi   kebutuhan   pangan   pendudukMakassar. Untuk itu mereka segera mengangkat para pejabat Belanda sebelum  P  D  II.  Beberapadiantaranya adalah  interniran  yang  baru  saja  dibebaskan  dari  kamp  tahanan  Jepang,  sebagaipejabat sementara pemerintahan sipil. Kondisi itu segera dipergunakan Belanda untuk membanjiridaerah-daerah yang  diduduki  Pasukan  Australia  dengan  pasukan  Belanda  dan  bekas  pegawaipamong praja (Corps Binneland Bestuur), seperti residen, asisten  residen,  kontrolir  atau  jabatanlainnya.[xxvi] Dengan demikian sesungguhnya tentara Australia telah bekerja  untuk  kepentinganBelanda.

Dukungan terang-terangan pasukan sekutu (Australia)  terhadap  Belanda  dapat  diketahuidari maklumat Panglima Tentara Australia di Makassar Brigadir Jendral Chilton pada  tanggal  29Oktober  1945 yang isinya sangat menekan gerakan pemuda pendukung proklamasi kemerdekaan.

 

Salah  satu  isinya  adalah  melarang  orang  memakai  seragam  militer  atau  uniform  lain,  selainanggota pasukan Sekutu atau  polisi.  Selain  itu,  dalam  maklumat  itu  juga  melarang  pendudukuntuk mengikuti latihan militer, memakai atau mempunyai segala macam senajat  api  dan  senjatatajam, mengadakan pawai atau pertunjukan, dan sebagainya. Lebih lanjut Jendral Chilton   bahkantelah melarang Gubernur Sulawesi saat itu Dr.  G.S.S.J.  Ratulangi  untuk  menjalankan  tugasnya,karena pemerintaha sipil telah dijalankan oleh NICA dengan  tanggung  jawab   dan  perlindungantentara Australia yang bertindak sebagai kesatuan Sekutu. Apabila perintah itu dilanggar  oleh  Dr.G.S.S.J. Ratulangi maka terhadapnya akan diambil tindakan penahanan.[xxvii]

Posisi  Belanda  semakin  kuat  dengan  diijinkannya  Pemerintah  Belanda   menempatkanseorang berpangkat Chief Commanding Officer NICA (Chief Co-NICA) di  Morotai  mendampingiPanglima Tertinggi Tentara Australia. Chief Co-NICA ini mempunyai wewenang seluruh  wilayahIndonesia Timur dan Kalimantan (kecuali Bali). Selain itu  dia  juga  membawahi  semua  petugasNICA yang ada di Indonesia Timur. Dengan kesempatan yang diberikan  oleh  Pasukan  Australia,

 Belanda dalam waktu singkat berhasil mengembalikan fungsi aparat pemerintahannya  di  wilayahIndonesia bagian timur. Semuanya itu jelas mempunyai  pengaruh  atas  perkembangan  politik  diwilayah yang bersangkutan. Oleh  karena  dengan  persiapan  matang  itulah,  maka  secara  politiswilayah Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku yang kemudian  disebut  sebagai  Indonesia  Timurmenjadi salah satu daerah yang secara politis cukup  kuat  untuk  menjadi  semacam  daerah  yangberdiri sendiri terpisah dengan Pemerintah R I di Yogyakarta. Hal itulah yang menyebabkan N I Tdapat bertahan lama menjadi daerah bagian dalam wilayah federal R I S.

Semua kondisi itu kemudian ditambah  dengan  adanya  dukungan  yang  datang  dari  paraaristokrat, terutama mereka yang telah diangkat sebagai pengganti para kepala dan penguasa  yangpro-RI.[xxviii]  Sehingga  kedudukannya  sangat  tergantung  kepada  keberadaan  dan   dukunganBelanda. Mereka itu biasanya adalah para bekas Binneland Bestuur (pamong praja) yang  dulunyabekerja untuk  Belanda  pada  masa  kolonial.  Oleh  karena  itu  wajar  apabila  kemudian  bekerjakembali untuk tuannya itu.

 Bersama-sama dengan polisi lokal yang dipekerjakan di bawah  kekuasaan  dan   tanggungjawab Pemerintah Indonesia Timur melalui SK Letnan Gubernur Jendral 14 Maret 1946 No 3  danSK Komisariat Pemerintahan Umum untuk Borneo dan Timur Besar tanggal  14  Maret  1946  NoARC 1/9/43 dan No ARC 1/9/7. Kondisi itu berarti semua residen, asisten residen,  kontrolir,  danpamong praja Indonesia seperti bestuur assistant, menteri polisi dan pegawai administrasi lainnya,demikian  juga  dengan  pegawai  kepolisian  dari  Hoofkomisaris  sampi  pangkat  terendah   yangdulunya dipekerjakan di wilayah Indonesia Timur  mulai  saat  itu  ada  di  bawah  kekuasaan  dantanggung jawab Kementerian Dalam Negeri N I T.[xxix]

 Dengan semua latar belakang yang seperti itu wajar apabila N I T mampu bertahan  hinggaakhir dalam tubuh R  I  S.  Meskipun  demikian  dalam  wilayah  N  I  T  dapat  pula  diketemukangerakan   perlawanan   terhadap   Belanda   yang   sangat   keras,   bahkan   tidak   kalah   kerasnyadibandingkan yang  ada  di  Jawa.  Akan  tetapi,  karena  kuatnya  militer  Belanda  di  sana,  makagerakan kaum  republiken  dapat  diatasi  oleh  Belanda  dan  para  kolaboratirnya.  Pada  akhirnyaketika militer Belanda  ditarik  dari  wilayah  itu,  maka  kaum  federalis  mulai  menyadari  bahwamereka tidak akan mampu  bertahan  dari  arus  republiken.  Hal  itu  semakin  jelas  ketika  ribuantahanan politik yang semuanya kaum republiken dibebaskan, maka tuntutan terhadap  pembibaranN I T dan penggabungan ke dalam R I semakin nyata dan kuat.

 

Sehubungan  dengan  semakin   kuatnya   gerakan   pro-republik,   maka   tanggapan  yangdiberikan oleh elit N I T ada  dua  cara.  Pertama,  mereka  berusaha  mencegah  gerakan  tersebut.Akan tetapi ketika gerakan itu  semakin  kuat,  maka  mereka  berusaha  memisahkan  diri  denganmembentuk negara terpisah dari  Indonesia.  Gerakan  ini  dipimpin  oleh  Dr.  Soumokil  cs  yangberusaha mendirikan Republik Maluku Selatan (RMS).  Sedangkan  yang  lainnya  berusha  untukmeleburkan diri ke dalam tuntutan masyarakat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Presiden N  I  TSukawati, Menteri Dalam Negeri Daeng Passewang dan lainnya yang ada dalam  kabinet  terakhirN I T. Sesungguhnya kabinet terakhir N I T berisi tokoh-tokoh  yang  siap  meleburkan  N  I  T  kedalam R I.[xxx] Oleh karena itu proses perubahan R I S menjadi  negara  kesatuan  dapat  berjalantanpa hambatan dalam tataran politis.

 

D. Peleburan Federal Menjadi Negara Kesatuan

 

Dengan semua perkembangan politik di Indonesia itu memaksa para elit yang ada di N I T  dan  NS T untuk berunding dengan pemerintah R I S. Oleh karena itu, dari tanggal 3 sampai 5 Mei  1950diadakan perundingan antara PM R I S M. Hatta, Presiden  N  I  T  Sukawati,  dan  PM   NST  Dr.Mansyur. Hasilnya adalah disetujuinya pembentukan  suatu  negara  kesatuan.  Akan  tetapi,  padatanggal 13 Mei  1950  Dewan  Sumatera   Timur  menentang  keputusan  itu.  Meskipun  demikian,

Dewan Sumatera  Timur  masih  bersedia  menerima  pembubaran  R  I  S  dengan  syarat  N  S  Tdileburkan ke dalam R I S bukan ke dalam R I. Walaupun ada dukungan kuat dari  sebagian  besarpenduduk Sumatera Timur, tetapi  PM  Hatta  mendukung  Dewan  N  S  T.  Keputusan  Hatta  itudidasari situasi di Sumatera Timur yang masih rapuh untuk bergabung dengan R I.  Hatta  berpikirbahwa  apabila  diambil  jalan  penggabungan  N  S  T  langsung  ke  dalam  R  I,  mungkin   dapatmendorong para bekas K N I L yang saat itu masih menjadi  anggota  batalyon  keamanan  N  S  Tuntuk memberontak sebagaimana tindakan yang diambil teman-temannya di Ambon.

 

Sehubungan dengan hasil konferensi antara Hatta, Mansyur  dan  Sukawati,  maka  sebagaitindak lanjut diadakan perundingan antara PM-R I S Hatta yang mewakili N I T beserta dengan  NS  T  di  satu  pihak  dan  PM-RI  A.  Halim  pada  pihak  lainnya.   Hasilnya   adalah   tercapainyapersetujuan pada tanggal 19 Mei 1950 diantara kedua belah  pihak  untuk  membentuk  N  K  R  I.Persoalannya adalah bagaimana  cara  untuk  membentuk  sebuah  negara  kesatuan,  sebagaimanayang dikenhendaki seluruh rakyat Indonesia.

 

Pilihan yang diambil para pemimpin Indonesia adalah dengan cara mengubah Konstitusi R I S. Pilihan ini diambil karena apabila semua negara bagian melebur  ke  dalam  R  I  S  (R  I  akanmenjadi  satu-satunya  negara  bagian  dari  R  I  S,  sehingga  R  I  S  akhirnya  terlikuidasi)  akanmenimbulkan  berbagai  macam  kesulitan.  Pertama,  akan  timbul  masalah  dengan   para   bekasanggota K N I L. Di samping itu ada alasan penting  lainnya  menyangkut  hubungan  dengan  luarnegeri.  Jika  seluruh  negara  bagian  bergabung   dengan   R   I,   maka   akan   timbul   kesulitan.

Persoalannya adalah R I yang masih eksis adalah R I sebagai negara bagian R  I  S(sebagai  akibatpersetujuan KMB). Padahal yang menyelenggarakan hubungan luar negeri adalah R I S yang telahdilikuidasi. Dengan perkataan lain proses kembali dari R I S ke N  K  R  I  melalui  cra  ini  berartipeleburan negara  yang  telah  mendapat  pengakuan  internasional  dengan  memunculkan  sebuahnegara  baru. Oleh karena itu agar pengakuan dunia internasional  tetap  terpelihara  secarayuridis,maka pembubaran R I S harus dihindari.

 

Satu pilihan cerdik akhirnya diambil, yaitu dengan jalan mengubah konstitusi  R  I  S.  Jadisecara yuridis N  K  R  I  adalah  perubahan  dari  R  I  S  sebagai  negara  federal  menjadi  Negaraberbentuk kesatuan. Melalui cara itu terhindar permasalahan berkaitan dengan dunia internasional.

Apabila R I S dibubarkan dan digantikan oleh R I sebagai negara bagian dalam tubuh R I S,  makanegara baru  yang  muncul  itu  tidak  dapat  menjalankan  hubungan  internasional  secara  yuridisformal. Hal itu disebabkan R I sebagai  negara  bagian  tidak  dapat  menyelenggarakan  hubunganinternasional. Akan lain persoalannya apabila  R  I  S  berganti  menjadi  negara  kesatuan.  Secarayuridis tidak akan  ada  permasalahan  dengan  dunia  internasional,  karena  yang  berubah  hanyakonstitusinya saja, bukan negaranya.

 E. Kesimpulan

 Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa bahwa  perkembangan  masalah  ketatanegaraanIndonesia  masa  revolusi  sangat  erat  kaitannya  dengan  kehadiran  kekuatan   asing.   Indonesiamengalami perubahan bentuk negara dari kesatuan menjadi negara federal bukan  saja  disebabkanoleh  faktor  dalam  negeri,  tetapi  ada  hubungannya  dengan  kehadiran  Belanda  dan  Australia.

 Kuatnya  keinginan  Belanda   sebagai   negara   koloni   untuk   mempertahankan   pengaruh   dankekuasaannya di Indonesia  membuat  negara  ini  sempat  mengalami  perubahan  bentuk  negara.Selain itu, masih ada satu  faktor  lagi  yaitu  adanya  sebagian  kecil  masyarakat  Indonesia  yangmerasa lebih nyaman dan tenang di bawah payung  kolonial Belanda membuat  ide  negara  federaldapat  hidup  dan  bertahan  selama  masa  sekitar  K  M  B.  Kehadiran  pasukan  Belanda  dengankekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan militer Indonsia, yang  baru  terdiri  dari  pemudapejuang menjadikan pendukung ide negara federal di beberapa tempat berada di  atas  angin.  Oleh

karena itulah, negara federal dalam bentuk R I S sempat terwujud melalui KMB, meskipun  hanyaseumur jagung.

 Terjadinya perubahan dari negara federal menjadi negara  kesatuan  tidak  dapat  disangkaldisebabkan dukungan politik dari masyarakat Indonesia terhadap ide negara federal sesungguhnyasangat lemah. Ide negara federal muncul dari ambisi politik  orang-orang  Belanda  yang  agaknyatakut  negerinya  tidak  lagi  mempunyai  peran  di   Asia.   Oleh   karena   itulah   ketika   masalahkemerdekaan Indonesia sudah tidak dapat  ditawar  lagi,  mereka  memperkenalkan  ide  mengenaipembentukan negara federal. Akan tetapi, ide ide hanya didukung oleh sebagain kecil  masyarakat  Indonesia, yaitu mereka yang  pernah  merasakan  nikmatnya  hidup  dalam  lindungan  kekuasaankolonial Belanda.  Hal  itu  terbutki  ketika  sebagian  besar  pasukan  Belanda  mulai  ditarik  dariIndonesia.

 Bersamaan dengan itu dibebaskannya tahanan politik yang sebagaian besar  merupakan

elit politik pro-republik membuat  desakan  masyarakat  untuk  mengganti  negara  federal  kepadabentuk  negara  kesatuan  semakin   kuat.   Dengan   demikian   jatuhnya   negara   federal   tinggalmenunggu waktu setelah situasi politik di Indonesia benar-benar berubah.

 

Catatan

 [i] George Mc Turnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi di Indoensia (Jakarta: Pustaka

Sinar Harapan kerja sama dengan Sebelas Maret University Press, 1995), hlm. 571.

 ii]Bukti keterlibatan oknum tentara Belanda ada pada gerakan Westeling di Bandung dan Jakarta.  Peristiwaitu membuktikan  bahwa  di  kalangan  militer  Belanda  masih  ada  ketidakrelaan  dengan  berdirinya  sebuah  NegaraIndonesia yang merdeka dan berdaulat  penuh.  Sekaligus  bukti  ketidaksukaan  tentara  Belanda  atas  perkembanganpolitik di Indonesia yang sedang mengarah kepada pembentukan kembali sebuah negara kesatuan.

 [iii]Meutia Farida Swasono, Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (Jakarta: Sinar Harapan, 1980), hlm. 184-187.

 [iv]G. Moedjanto, Indonesia Abad ke-20 II (Yogyakarta: Kanisius 1988), hlm. 70

[v]Kahin, 1995, op. cit., hlm. 569.

[vi]Herbert Faith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia (New York: Ithaca, 1962), hlm. 47.

[vii]Baca; Kedaulatan Rakyat, 21 Januari 1950.

[ix] Pada umumnya  rakyat  daerah  Indramayu  menaruh  kepercayaan  kepada  TNI  untuk  melindungi  danmengembalikan keamanan dan ketertiban dalam  masyarakat.  Lebih  jelas  baca;   Kedaulatan  Rakyat,  17  Desember1950

 [x]Kedaulatan Rakyat, 20 Desember 1949.

 [xi]Kahin, 1995, op. cit., hlm. 578; Beberapa perwira  polisi  Belanda  yang  disersi  dan  terlibat  dalam  aksigerakan Westerling adalah Bolk van Beelden dan Van der  Meulen.  Selain  itu  terlibat  pula  dua  seksi  dari  resimenStootoepen. Lebih jelas baca; Indonesia Timur, 24  Januari  1950.  Lihat  juga  A.H.  Nasution,  Memenuhi  PanggilanTugas II (Jakarta: Gunung Agung, 1983), hlm. 223.

 [xii] Sewaka, Tjorat-Tjoret dari Jaman ke Jaman (Bandung: Visser, 1955), hlm. 171.

 [xiii]Tanu Suherly, Sekitar Negara Pasundan, Naskah  Seminar Sejarah Nasional II(Yogyakarta: 26-29 Agustus 1970).

 [xiv]Helius Sjamsudin et al., Menuju Negara Kesatuan: Negara Pasundan (Jakarta: Departemen Pendidikandan Kebudayaan, 1992), hlm. 82.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: