RSS

Nama Kabinet dan Menteri sejak Era Sukarno – Era SBY (2)

27 Jul

Kabinet Syahrir II dan III

Dalam kabinet Sjahrir ke kedua (13 Maret 1946 – 2 Oktober 1946), kebijaksanaan pemerintah sedikit melenceng akibat ulah PP yang ingin memperjuangkan kemerdekaan 100 %. Hal ini sulit dilaksanakan karena perundingan dengan Belanda sudah setengah jalan yang didasarkan kepada kesepakatan bersama. Sedangkan minimal program PP tidak mungkin diterima Belanda, meskipun Soekarno punya perhatian pada kegiatan PP secara menyeluruh.
Kelompok oposisi (P.P) berada dibalik penculikan Sjahrir 27 Juni 1946 dan usaha kup 3 Juli 1946. Karena mereka menganggap Sjahrir tidak mewakili rakyat Indonesia yang sedang berevolusi. Pemerintah menumpas P.P dan tokoh-tokohnya dipenjarakan. Keadaan ini sangat membantu dalam mewujudkan situasi sosial politik dan keamanan dalam negeri yang kondusif guna berlangsungnya perundingan Linggarjati. Ketika Sjahrir diculik, Pemerintah yang berkuasa adalah kabinet presidensiel karena Soekarno menerbitkan maklumat pemerintah no.1 tahun 1946 yang isinya mengambil alih kekuasaan Pemerintah. Ketika maklumat ini dicabut melalui maklumat Pemerintah no.2 tahun 1946,

3-Kabinet Sjahrir II

 

Masa bakti : 12 Maret 19462 Oktober 1946

No

Jabatan

Nama Mentari

 

1

2

Perdana Menteri Menteri Luar Negeri

Syahrir

3

Meneteri Muda Luar Negeri

Agus salim3.jpg

H.Agus Salim

4

Menteri Dalam Negeri

Sudarsono

5

Menteri Pertahanan

Amir syarifudin.jpg

Amir Sjarifuddin

5

Menteri Muda Pertahanan

Arudji Kartawinata

6

Menteri Kehakiman

Suwandi.jpg

Prof.Ir.R.M.Suwandi (1)

7

Menteri Muda Kehakiman

Hadi

8

Menteri Penerangan

Moh. Natsir

9

Menteri Keuangan

Surachman Tjokro adisurjo

10

Menteri Muda Keuangan

Sjafrudin prawiranegara.jpg

Sjafruddin Prawirangara

11

Menteri Pertanian dan Persediaan

Zainuddin Rasad(2)

Menteri Muda Pertanian dan Persediaan

Saksono (2)

12

Menteri Kemakmuran

Darmawan Mangunkusumo(2)

13

Menteri Perhubungan

Abdulkarim

14

Menteri Muda Perhubungan

Djuanda Cartawidjaja.jpg

Djuanda Kartawidjaja

15

Menteri Pekerjaan Umum

Putuhena.jpg

Martinus Putuhena

16

Menteri Muda Pekerjaan Umum

Laoh.jpg

H.Laoh

17

Menteri Sosial

Maria ulfa santosa.jpg

Maria Ulfah Santoso

18

Menteri Pengadjaran

Muhammad Sjafei

12

Menteri Muda Pengadjaran

TSG Mulia

13

Menteri Agama

Rasjidi

14

Menteri Kesehatan

Darma Setiawan

15

Menteri  Muda Kesehatan

Leimena.jpg

J. Wimena

16

Menteri Negara Urusan Pemuda

Wikana.jpg

Wikana

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

Catatan

1.       ^ Suwandi mengundurkan diri pada 22 Juni 1946.

2.       ^ a b c Menteri Pertanian dan Persediaan berubah menjadi Menteri Kemakmuran pada 26 Juni 1946 dengan Darmawan Mangunkusumo sebagai Menteri dan Saksono sebagai Wakil/Menteri Muda. Zainuddin Rasad mengundurkan diri.

Dari kiri ke kanan Tan Po Gwan, Amir Sjarifuddin, Agus Yaman (staf menteri), Maria Ulfah, J. Leimena, Ali Budiardjo (staf menteri), A.K. Gani, Sutan Sjahrir

dibentuklah kabinet Sjahrir ke III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947). Dwitunggal Soekarno-Hatta mendukung kebijakan kabinet Sjahrir III, khususnya untuk berunding dengan Belanda. Antara lain menguasai sidang KNIP tanggal 25 Februari 1947 guna meratifikasi persetujuan Linggarjati, melalui penambahan anggota sehingga berjumlah 500 orang lebih. Ahirnya meskipun melalui jalan yang alot dan berbelit-belit akibat ulah Parlemen Belanda, Persetujuan Linggarjati ditanda tangani juga pada tanggal 25 Maret 1947.
Masalah yang kemudian muncul adalah justru kegagalan dalam mengimplementasi perjanjian Linggarjati itu. Visi dan Misi Belanda tidak cocok dengan pihak Indonesia. Lebih parah lagi adalah perpecahan dalam kubu partai Sosialis. Artinya dukungan sayap kiri pada kabinet Sjahrir dan kebijakan Pemerintah, berhenti. Kabinet Sjahrir ke III bubar. Sejarah kemudian membuktikan bahwa kabinet Amir Sjarifudin I, mulai berkuasa.

4- Kabinet Sjahrir Ketiga

Masa bakti : 2 Oktober 19463 Juli 1947

No Jabatan Nama Menteri Partai Politik
1 Perdana Menteri Soetan Sjahrir.jpg
Sutan Sjahrir
PSI
2 Menteri Luar Negeri
Wakil Menteri Luar Negeri Agus salim3.jpg
H Agoes Salim
Non partai
3 Menteri Dalam Negeri Moh roem2.jpg
Mohammad Roem
Masyumi
Wakil Menteri Dalam Negeri Wijono PSI
4 Menteri Kehakiman Susanto tirtoprodjo.jpg
Susanto Tirtoprodjo
PNI
Wakil Menteri Kehakiman Hadi Non partai
5 Menteri Keuangan Sjafrudin prawiranegara.jpg
Syafrudin Prawiranegara
Masyumi
Wakil Menteri Keuangan Lukman Hakim PNI
6 Menteri Kemakmuran Ak gani.jpg
A. K. Gani
PNI
Wakil Menteri Kemakmuran Jusuf wibisono.jpg
Jusuf Wibisono
Masyumi
7 Menteri Kesehatan Darma Setiawan Non partai
Wakil Menteri Kesehatan Leimena.jpg
J. Leimena
Parkindo
8 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Suwandi.jpg
Suwandi
Non partai
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 06 gunarso.jpg
Gunarso
Non partai
9 Menteri Sosial Maria ulfa santosa.jpg
Maria Ulfah Santoso
Non partai
Wakil Menteri Sosial Abdoelmadjid Djojoadhiningrat PSI
10 Menteri Agama Faturrachman Masyumi
11 Menteri Keamanan Rakyat Amir syarifudin.jpg
Amir Sjarifuddin
PSI
Wakil Menteri Keamanan Rakyat Harsono Tjokroaminoto Masyumi
12 Menteri Penerangan Mohammad Natsir1.jpg
Mohammad Natsir
Masyumi
Wakil Menteri Penerangan AR Baswedan.Lukisan.cropped.1947.jpg
AR Baswedan
Non partai
13 Menteri Komunikasi Djuanda Cartawidjaja.jpg
Djuanda Kartawidjaja
Non partai
Wakil Menteri Komunikasi Setiadjid.jpg
Setyadjit Soegondo
Partai Buruh
14 Menteri Pekerjaan Umum Putuhena.jpg
Martinus Putuhena
Parkindo
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Laoh.jpg
Herling Laoh
PNI
15 Menteri Negara Sultan hb IX PYO.jpg
Hamengku Buwono IX
Non partai
Wahid hasjim.jpg
Wahid Hasyim
Masyumi
Wikana.jpg
Wikana
(Urusan Pemuda)
PKI
Sudarsono PSI
Tan Po Gwan
(Urusan Peranakan)
Douwes.jpg
Setiabudi (Douwes Dekker)

Dibidang militer, Sjahrir tidak berhadapan langsung dengan masalah pokoknya. Disana ada Amir Sjarifudin yang sejak memangku Menteri Pertahanan berusaha menata bidang militer menurut selera dan pandangan hidupnya. Padahal jangkauannya amat terbatas pada lingkungan militer karena sebagian lapangan militer menjadi tanggung jawab Soedirman sebagai Panglima Besar. Hal ini menimbulkan koflik laten di Yogya.
Sebagai Perdana Menteri Sjahrir tidak bisa membiarkan Amir berkonflik terus menerus dengan lembaga ketentaraan yang ada. Disadarinya disana ada Soedirman yang didukung oleh Soekarno dan Hatta. Maka didekatinya Soedirman dimana kebetulan sejumlah pembantu Soedirman adalah orang-orang yang dekat dengan Sjahrir. Hubungan harmonis Sjahrir-Soedirman berhasil dibina, khususnya dalam rangka melicinkan perundingan Indonesia Belanda. Dalam gencatan senjata 14 Oktober 1946, Soedirman adalah sosok yang berada didepan mendukung perundingan Indonesia-Belanda tersebut.
Sejak kepindahan Soekarno-Hatta ke Yogyakarta, terjadi kevakuman kepemimpinan politik Nasional di Jakarta dan sekitarnya atau lebih luas di Jawa Barat. Kesempatan ini dimanfaatkan Sjahir dengan sebaik-baiknya. Dengan alasan untuk membuat Jakarta sebagai kota Internasional agar cukup kondusif bagi persiapan perundingan Indonesia Belanda yang ditengahi sekutu, kekuatan militer Indonesia diminta keluar dari Jakarta. Sementara agar sikap tentara benar dan korek, selalu dipompakan pendapat dan keyakin Sjahrir kepada lembaba-lembaga militer. Tentu saja hal ini dilaksanakan melalui para pimpinan militer intelektual yang merupakan pemuda Sjahrir. Hal yang dimaksud Sjahrir sebenarnya cukup jelas tersurat dalam Perjuangan Kita. Sjahrir membutuhkan tentara yang bersatu, solid, efisien dan kuat. Maka personil tentara merupakan unsur S.D.M yang berkualits, professional, berdedikasi, serta berdisiplin tinggi. Seperti telah diuraikan diatas, untuk membantu kantor Perdana Menteri dibidang militer telah dibentuk Kantor Penghubung Tentara di jalan Cilacap no.5 Jakarta dimana berkiprah didalamnya sejumlah pemuda Sjahrir. Kantor Penghubung Tentara berperan sebagai tangan kanan Perdana Menteri dalam mewujudkan kebijakan Pemerintah serta pelaksanaannya dibidang militer.
Sebagai kepala pemerintahan Sjahrir gagal, tapi bukan berarti usahanya tidak ada gunanya sama sekali bagi negara dan bangsa Indonesia. Manfaat dari perjuangan Sjahrir, nampak dalam kebijaksanaan Pemerintah R.I. dibidang politik luar negeri. Sjahrir telah membangun landasan kuat atau tempat berpijak bagi sikap dan langkah yang diambil Departemen Luar Negeri R.I terhadap kolonialisme sejak tahun 1945 sampai sekarang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 27, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: