RSS

Pembantaian Westerling II (Gestapo) -2

12 Sep

WESTERLING sang PENJAHAT PERANG


Dan kenapa dia bertindak kejam kapada bangsa Indonesia? siapa yang menyuruhnya?

Kapten Raymond Westerling yang dikenal sebagai algojo pembantaian di Medan
dan 40.000 rakyat di Makassar itu, dalam gerakannya telah berkolaborasi
dengan Sultan Hamid II dan pemuka-pemuka Negara Pasundan buatan Van Mook dan DI/TII yang merencanakan membentuk Negara Islam Pasundan.

Westerling, yang punya nama lengkap Raymond Pierre Paul Westerling, lahir di Istanbul, Turki, Minggu, 31 Agustus 1919. Dan karena lahir di Turki-lah, makanya Westerling biasa dipanggil “Kaptein de Turk” atau “Si Kapten Turki”. Ia lahir sebagai anak kedua dari ayahnya yang pedagang karpet, Paul Westerling yang asli Belanda dan ibunya yang keturunan Yunani, Sophia Moutzou.

Nasib kurang baik dialami Westerling sejak dia kecil. Saat berusia 5 tahun, kedua orangtuanya meninggalkan Westerling. Ia pun akhirnya hidup di panti asuhan. Dan, di tempat inilah, pribadi Westerling ditempa yang kemudian membentuk dirinya menjadi orang yang tidak bergantung dan terikat pada siapa pun.

Jiwa bebas dan mandiri Westerling kecil membuatnya tertarik pada buku-buku perang. Dan kesempatan menjadi tentara itu datang ketika Perang Dunia pecah. Desember 1940, ia mendatangi Konsulat Belanda di Istanbul. Westerling menawarkan diri menjadi sukarelawan. Ia diterima.

Tapi untuk itu, sebelumnya ia harus bergabung dengan pasukan Australia. Bersama kesatuannya, Westerling ikut angkat senjata di Mesir dan Palestina. Dua bulan kemudian ia dikirim ke Inggris dengan kapal. Di sinilah sifat pembangkangannya mulai muncul.

Ia menyelinap menuju Kanada, melaporkan diri ke Tangsi Ratu Juliana, di Sratford, Ontario. Dia masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. Di situlah ia belajar berbahasa Belanda.

Pada 27 Desember 1941, Westerling dikirim kembali ke Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton, dekat Birmingham. Westerling termasuk 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin dan tak berpenghuni.

Melalui pelatihan yang sangat keras dan berat, mereka dipersiapkan untuk menjadi komandan pasukan Belanda di Indonesia. Seorang instruktur Inggris sendiri mengatakan pelatihan ini sebagai: “It’s hell on earth” (neraka di dunia).

Pelatihan dan pelajaran yang mereka peroleh antara lain “unarmed combat” (perkelahian tangan kosong), “silent killing” (penembakan tersembunyi), “death slide”, “how to fight and kill without firearms” (berkelahi dan membunuh tanpa senjata api), “killing sentry” (membunuh pengawal) dan sebagainya.

Di Skotlandia ini, Westerling memperoleh baret hijau. Spesialisasinya adalah sabotase dan peledakan. Ia pun mendapat baret merah dari SAS (The Special Air Service), pasukan khusus Inggris yang terkenal.

Dan yang membanggakannya, ia pernah bekerja di dinas rahasia Belanda di London, pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, dan menjadi instruktur pasukan Belanda untuk latihan bertempur tanpa senjata dan membunuh tanpa bersuara.

Meski begitu, Westerling pernah ditugaskan di dapur sebagai pengupas kentang. Ini membuat hidup Westerling menjemukan, karena harus terus berada di barak. Ia ingin mencium bau mesiu dan ramai dari pertempuran sebenarnya, bukan cuma latihan.

Setelah bertugas di Eastbourne sejak 31 Mei 1943, maka bersama 55 orang sukarelawan Belanda lainnya pada 15 Desember 1943 Sersan Westerling berangkat ke India untuk bertugas di bawah Vice Admiral Lord Louis Mountbatten, Panglima South East Asia Command (Komando Asia Tenggara). Mereka tiba di India pada 15 Januari 1944 dan ditempatkan di Kedgaon, 60 km di Utara kota Poona.

Pada 15 Maret 1944 di London, Belanda mendirikan Bureau Bijzondere Opdrachten BBO (Biro untuk Tugas Istimewa), kemudian Markas Besarnya berkedudukan di Brussel dan dipimpin oleh Pangeran Bernhard. Pada 23 Oktober 1944, Westerling dipanggil untuk bertugas di BBO di Brussel, dan pada 1 Desember 1944 pangkatnya naik menjadi Sersan Mayor.

Menurut buku De Zuid-Celebes Affaire, seperti dikutip Aan Mansyur, di Belgia itulah Westerling kali pertama merasakan perang sesungguhnya. Tapi, menurut Westerling sendiri, dalam Westerling, “De Eenling” (Westerling, Si Penyendiri), perkenalan pertamanya dengan perang terjadi di hutan-hutan Burma.

Berkilau agaknya prestasi militer Westerling. Tapi entah mengapa ia meninggalkan satuannya, pasukan elite Inggris. Tanggal 25 Juni 1945 dia masuk ke dinas KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) dengan pangkat (reserve) tweede luitenant (Letnan II Cadangan) dan ditugaskan di Sri Lanka pada Anglo-Dutch Country Section yang di kalangan Belanda disebut Korps Insulinde (KI). Di Eropa, Jerman sudah menyerah dan kekalahan tentara Jepang hanya tinggal menunggu waktu saja.

Di Australia dan Sri Lanka, Belanda melakukan persiapan besar-besaran untuk kembali ke Indonesia. Pimpinan militer Belanda melihat perlu membentuk pasukan khusus baik darat maupun udara yang dapat dengan cepat menerobos garis pertahanan tentara Republik Indonesia.

Segera setelah diangkat menjadi Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Hindia Belanda, Letnan Jenderal Spoor mengemukakan rencananya untuk membentuk pasukan infanteri, komando serta parasutis yang mendapat pelatihan istimewa.

Pada 14 September 1945, bersama beberapa pasukan, Westerling diterjunkan ke Medan, Sumatera Utara. Tujuannya, menyerbu kamp konsentrasi Jepang Siringo-ringo di Deli, dan membebaskan pasukan pro-Belanda yang ditawan. Ia berhasil. Sebulan kemudian tentara Inggris mendarat di Sumatera Utara, dan entah bagaimana Westerling bergabung dengan pasukan ini.

Tugasnya, melakukan kontraspionase, demikian kata buku Westerling, De Eenling. Itu makanya di Medan ia mengkoordinir orang-orang China, membentuk pasukan teror Poh An Tui (PAT).

Pada 3 Maret 1946, 60 orang serdadu Belanda pertama kali tiba di Indonesia dan langsung dibawa ke Bandung, di mana mereka memperoleh pelatihan dari seorang perwira Belanda mantan anggota Korps Insulinde.

Setelah itu, realisasi untuk pembentukan pasukan parasutis berjalan dengan cepat. Pada 12 Maret 1946, Letnan KNIL Jhr MWC de Jonge, Letnan KNIL Sisselaar dan Letnan KNIL AL Cox (dari Angkatan Udara) ditugaskan ke Eropa untuk melakukan penelitian serta meminta bantuan dari unit parasutis Inggris dan melakukan segala sesuatu yang memungkinkan pelatihan parasutis di Hindia Belanda.

Pada 13 Maret 1946, Letnan de Koning dan Letnan van Beek, dua perwira Belanda yang pernah bertugas di Korps Insulinde, dipanggil dari Sri Lanka ke Jakarta untuk menjadi pelatih calon pasukan para. Pada 15 Maret 1946 secara resmi School voor Opleiding van Parachutisten SOP (Sekolah Pelatihan Parasutis) didirikan dan Kapten C Sisselaar menjadi komandan pertamanya.

Pasukan jebolan SOP inilah yang kemudian digunakan dalam agresi militer Belanda kedua pada 19 Desember 1948 untuk menduduki Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia waktu itu.

Agar tidak dapat diketahui oleh pihak Republik, kamp pelatihan dipilih sangat jauh, yaitu di Papua Barat. Semula dipilih Biak, di mana terdapat bekas pangkalan udara tentara Amerika yang masih utuh. Kemudian pada bulan April tempat pelatihan dipindahkan ke Hollandia, juga di Papua Barat, yang arealnya dinilai lebih tepat untuk dijadikan kamp pelatihan.

Yang dapat diterima menjadi anggota pasukan para tidak boleh melebihi tinggi 1,85 m dan berat badan tidak lebih dari 86 kg. Selain tentara yang berasal dari Belanda, orang Eropa dan Indo-Eropa juga pribumi yang menjadi tentara KNIL ikut dilatih di sini.

Mereka berasal dari suku Ambon, Manado, Jawa, Sunda, Timor, Melayu, Toraja, Aceh dan beberapa orang Tionghoa. Pelatihan yang dimulai sejak bulan April 1946 sangat keras, sehingga banyak yang tidak lulus pelatihan tersebut. Sekitar 40 persen pribumi, 20 persen orang Eropa dan 15 persen orang Indo-Eropa dinyatakan tidak lulus menjalani pelatihan.

Pada 1 Mei 1947 telah terbentuk Pasukan Para I (1e para-compagnie) yang beranggota 240 orang di bawah pimpinan C Sisselaar, yang pangkatnya naik menjadi Kapten. Pada 1 Juni 1947, pasukan para tersebut dibawa ke lapangan udara militer Belanda, Andir (sekarang bandara Hussein Sastranegara), di Bandung. Dengan demikian pasukan ini berada tidak jauh dari kamp pelatihan tentara KNIL di Cimahi. Namun parasut yang dipesan sejak bulan Desember 1946 di Inggris baru tiba pada bulan Oktober 1947.

Untuk Angkatan Darat, dibentuk pasukan khusus seperti yang telah dilakukan oleh tentara Inggris di Birma. Jenderal Mayor Charles Orde Wingate (1903 – 1944) yang legendaris membentuk pasukan khususnya yang sangat terkenal yaitu “The Chindits”, yang sanggup menerobos garis pertahanan musuh untuk kemudian beroperasi di belakang garis pertahanan musuh. Taktik seperti ini kemudian dikenal sebagai “Operasi Wingate”, yang juga dipergunakan oleh TNI selama agresi militer Belanda II.

Sejak kedatangannya di Indonesia pada bulan Desember 1945, Kapten KNIL WJ Schneepens mengembangkan gagasan untuk membentuk suatu “speciaale troepen” (pasukan khusus) dalam KNIL (Ayahnya, Lekol WBJA Scheepens adalah perwira Korps Marechaussee -marsose- yang bertugas di Aceh.

Dia tewas pada tahun 1913 akibat tusukan rencong). Gagasan ini kemudian mendapat persetujuan pimpinannya. Pada 15 Juni 1946 dia mendirikan pusat pelatihan yang dinamakan Depot Speciale Troepen – DST (Depot Pasukan Khusus) yang ditempatkan langsung di bawah Directoraat Centrale Opleidingen – DCO (Direktorat Pusat Pelatihan) yang dipimpin oleh Mayor Jenderal KNIL E Engles.

Direktorat ini baru dibentuk setelah Perang Dunia II untuk menangani pelatihan pasukan yang akan dibentuk di Hindia Belanda. Kamp dan pelatihan DST ditempatkan di Polonia, Jakarta Timur. Dan Westerling diangkat menjadi komandan pasukan khusus DST pada 20 Juli 1946.

Awalnya, penunjukan Westerling memimpin DST ini hanya untuk sementara sampai diperoleh komandan yang lebih tepat, dan pangkatnya pun tidak dinaikkan, tetap Letnan II (Cadangan).

Namun dia dianggap berhasil meningkatkan mutu pasukan menjelang penugasan ke Sulawesi Selatan, dan setelah “berhasil” menumpas perlawanan rakyat pendukung Republik di Sulawesi Selatan, dia dianggap sebagai pahlawan dan namanya membubung tinggi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 12, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: