RSS

Pembantaian Westerling II (Gestapo) -3

12 Sep

PEMBANTAIAN 40.000 di Sulawesi Selatan

Yang mungkin banyak orang tidak tahu adalah dia menulis dan menerbitkan
memoarnya pada tahun 1952 berjudul, “Mijn Memoires” yang diterjemahkan dengan judul baru dalam bahasa Inggris, “Challenge to Terror” yang isinya menceritakan pengalamannya selama di Hindia Belanda (Indonesia).

Didalam memoarnya Westerling mengaku membunuh banyak teroris, bukan orang sipil dan jumlahnya tidak sampai 40,000 orang seperti yang dituduhkan pihak Indonesia, tetapi “hanya” sekitar 1500 orang. Dia yakin betul semua orang yang dibunuhnya dan pasukannya adalah teroris-teroris yang selalu meneror orang-orang sipil. Dia bahkan menegaskan sewaktu dia melaksanakan operasi militer di Sulawesi Selatan, situasi disana menjadi aman dan orang-orang sipil Indonesia sangat menyenangi dan bersimpati kepada dia. Bahkan mereka sampai ramai-ramai mengantar dia dengan penuh rasa haru sewaktu dia meninggalkan Makassar. Itu kata dia…

Gambaran yang diberikan Westerling dalam memoarnya sangat bertolak belakang dengan apa yang kita dengar atau tahu tentang operasi militer Westerling di Sulawesi selatan.

Berikut ini adalah kesaksian dari seorang saksi mata:

Bapak Sie Hok Tjwan sebagai cicit dari Kong Siu Tjoan menceritakan nuliskan kisah ini yang saya dengar lansung dari kakek nya.

Konon pada waktu itu, Ida kuneng putri raja Maros jatuh cinta dengan seorang perantau Tiongkok yang baru datang dari Tiongkok daratan. Pemuda yang bermarga Kong ini ikut berjuang dengan Sun Yat Sen sebagan nasionalis, namun melarikan diri dari Tiongkok ketika Komunis mulai masuk dan menguasai Peking. Dari perkimpoia ala sam pek in tai ini diturunkanlah keturunan peranakan yang beragama Islam dan peranakan yang beragama Buddha. Kebetulan nenek saya dalam kelompok peranakan yang beragama Buddha.

Rumah kakek saya di Tamajene, hanya beberapa blok dari tugu peringatan
korban 40.000 jiwa. Yaitu suatu tragedi pembantaian besar-besaran oleh Belanda kepada penduduk Makassar atau merah putih pada waktu itu. Nenek saya sebagai saksi mata dari pembantaian itu seringkali masih berkaca- kaca ketika menceritakan pembantaian yang mengerikan itu.

Pada waktu itu, terdengar desas desus bahwa akan ada pembersihan.
Barangsiapa yang didapati menyembunyikan bendera merah putih akan diangkut sekeluarga dan dibunuh. Dan benar pada siang itu, jalan didepan rumah dipenuhi dengan ratap tangis orang -orang yang kedapatan mempunyai merah putih. Mereka dibawa ketanah kosong dan rawa-rawa di belakang rumah kami.

Konon waktu itu mereka disuruh menggali lubang besar, setelah itu disuruh
berdiri berjajar dan ditembaki dari belakang. Begitu selanjutnya. Ratap
tangis minta ampun ibu-ibu, anak-anak, terdengar sangat memilukan. Semakin
siang semakin banyak orang yang dibawa oleh tentara belanda. Suara tembakan terdengar tidak henti-hentinya.

Seisi rumah dicekam ketakutan yang luar biasa. Pintu dan jendela ditutup
rapat-rapat. Yang laki-laki dengan bersenjatakan tombak menunggu dengan
was-was. Nenek saya yang baru menikah waktu itu bersembunyi dengan pisau ditangan. Beruntung rumah kami sama sekali tidak diperiksa, entah karena kebetulan atau karena rumah orang Tionghoa. Dan disangka tidak punya merah putih.. Tidak tahan mendengar suara orang dibunuh, dengan memberanikan diri kakek saya menulis surat ke konsulat general (Wang Tek Fun) atau atase perdagangan Tionghoa waktu itu, bahwa pembantaian tersebut melanggar perjanjian dan tidak berperikemanusiaan.

Dengan mengendap ngendap dan mempertaruhkan nyawa dia membawa surat tersebut.

Pada saat itu jalan-jalan menjadi sangat lengang, kedapatan di jalan bisa
berakibat dituduh sebagai mata-mata atau merah putih, panggilan Westerling
kepada pejuang kemerdekaaan pada waktu itu. Berbekal bintang mas tanda jasa dari Sun yat Sen kepada bapaknya, sebagai tanda pengenal, setelah mendapat pemberitahuan itu, konsul Tiongkok datang dan menghentikan pembantaian tersebut.

Menurut nenek saya, kalau tidak ada interfensi dari konsul RRT tersebut akan lebih banyak lagi orang mati terbunuh di Makassar. Cerita ini tidak pernah diketahui oleh orang luar, hanya kalangan keluarga saja .

“Kudeta” Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)

markas Siliwangi dikuasai APRA.

Mungkin bab mengenai Westerling adalah lembaran paling hitam dalam sejarah Belanda di Indoensia. Yang telah dilakukan oleh Westerling serta anak buahnya adalah pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang sangat berat, sebagian besar dengan sepengetahuan dan bahkan dengan ditolerir oleh pimpinan tertinggi militer Belanda. Pembantaian penduduk di desa-desa di Sulawesi Selatan adalah kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity), kejahatan terbesar kedua setelah genocide (pembantaian etnis).

Westerling, yang bagi sebagian besar rakyat Indonesia adalah seorang pembunuh kejam berdarah dingin, bagi bangsa Belanda dia adalah seorang pahlawan yang hendak “menyelamatkan” jajahan Belanda dari kolaborator Jepang dan elemen komunis.

Pada 23 Januari 1950, segerombolan orang bersenjata di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond “si Turki” Westerling, mantan komandan pasukan khusus (Korps Speciaale Troepen), masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui. Ternyata aksi gerombolan ini -yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)- telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.

Sudah diketahui rencana tsb oleh Belanda
Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda telah menerima laporan, bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Pengikutnya kebanyakan adalah mantan tentara KNIL dan yang desersi dari pasukan khusus KST/RST. Dia juga mendapat bantuan dari temannya orang Cina, Chia Piet Kay, yang dikenalnya sejak berada di kota Medan.

Pada 25 Desember malam, sekitar pukul 20.00 dia menelepon Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda, pengganti Jenderal Spoor yang meninggal secara misterius. Westerling menanyakan bagaimana pendapat van Vreeden, apabila setelah penyerahan kedaulatan dia (Westerling) akan melakukan kudeta terhadap Sukarno dan kliknya. Van Vreeden memang telah mendengar berbagai rumors, antara lain ada sekelompok militer yang akan mengganggu jalannya penyerahan kedaulatan. Juga dia telah mendengar mengenai kelompoknya Westerling.

Jenderal van Vreeden, sebagai yang harus bertanggung-jawab atas kelancaran “penyerahan kedaulatan” pada 27 Desember 1949, memperingatkan Westerling agar tidak melakukan tindakan tersebut. Bahwa van Vreeden tidak segera memerintahkan penangkapan Westerling adalah suatu kesalahan, karena kurang dari satu bulan kemudian terbukti, bahwa Westerling melaksanakan niat jahatnya yang membawa malapetaka baru bagi bangsa Indonesia terutama TNI.

APRA masuk kota Bandung dari Batujajar.

Membunuh anggota TNI yang mereka temui di jalan.

mayat anggota TNI dibantai APRA

 

teror terhadap TNI

Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang isinya adalah suatu ultimatum. Dia menuntut agar Pemerintah RIS menghargai Negara-Negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalm waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar.

Ultimatum Westerling ini tentu menimbulkan kegelisahan tidak saja di kalangan RIS, namun juga di pihak Belanda dan dr. H.M. Hirschfeld, Nederlandse Hoge Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) yang baru tiba di Indonesia. Kabinet RIS menghujani Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi sangat tidak nyaman. Menteri Dalam Negeri Belanda, Stikker menginstruksikan kepada Hirschfeld untuk menindak semua sipil dan militer Belanda yang bekerjasama dengan Westerling.

Sementara itu, pada 10 Januari 1950 Westerling mengunjung Sultan Hamid II di Hotel Des Indes, Jakarta. Sebelumnya, mereka pernah bertemu bulan Desember 1949. Westerling menerangkan tujuannya, dan meminta Hamid menjadi pemimpin gerakan mereka. Hamid ingin mengetahui secara rinci mengenai organisasi Westerling tersebut. Namun dia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan dari Westerling. Pertemuan hari itu tidak membuahkan hasil apapun. Setelah itu tak jelas pertemuan berikutnya antara Westerling dengan Hamid. Dalam otobiografinya Mémoires yang terbit tahun 1952, Westerling menulis, bahwa telah dibentuk Kabinet Bayangan di bawah pimpinan Sultan Hamid II dari Pontianak, oleh karena itu dia harus merahasiakannya.

Ketika berkunjung ke negeri Belanda, Menteri Perekonomian RIS Juanda pada 20 Januari 1950 menyampaikan kepada Menteri Götzen, agar pasukan elit RST (Reciment Speciaale Troepen) yang dipandang sebagai faktor risiko, secepatnya dievakuasi dari Indonesia. Sebelum itu, satu unit pasukan RST telah dievakuasi ke Ambon dan tiba di Ambon tanggal 17 Januari 1950. Pada 21 Januari Hirschfeld menyampaikan kepada Götzen bahwa Jenderal Buurman van Vreeden dan Menteri Pertahanan Belanda Schokking telah menggodok rencana untuk evakuasi pasukan RST.

Namun upaya mengevakuasi Reciment Speciaale Troepen, gabungan baret merah dan baret hijau terlambat dilakukan. Dari beberapa bekas anak buahnya, Westerling mendengar mengenai rencana tersebut, dan sebelum pengiriman pasukan RST ke Belanda dimulai, pada 23 Januari 1950 Westerling melancarkan “kudetanya.” Subuh pukul 4.30 hari itu, Letnan Kolonel KNIL T. Cassa menelepon Jenderal Engles dan melaporkan: “Satu pasukan kuat APRA bergerak melalui Jalan Pos Besar menuju Bandung.” Namun laporan Letkol Cassa tidak mengejutkan Engles, karena sebelumnya, pada 22 Januari pukul 21.00 dia telah menerima laporan, bahwa sejumlah anggota pasukan RST dengan persenjataan berat telah meninggalkan kamp di Batujajar. Mayor KNIL G.H. Christian dan Kapten KNIL J.H.W. Nix melaporkan, bahwa compagnie “Erik” yang berada di Kampemenstraat malam itu juga akan melakukan desersi dan bergabung dengan APRA untuk ikut dalam kudeta, namun dapat digagalkan oleh komandannya sendiri, Kapten G.H.O. de Witt. Engles segera membunyikan alarm besar. Dia mengontak Letnan Kolonel TNI Sadikin, Panglima Divisi Siliwangi. Engles juga melaporkan kejadian ini kepada Jenderal Buurman van Vreeden di Jakarta.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 12, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: