RSS

Tafsir Pancasila versi Agus Salim

25 Sep

agussalim-psila

HAJI AGUS SALIM, salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta, tanggal 22 Juni 1945
telah mengemukakan ulasan dan penafsiran dirinya terhadap Pancasila. Hal itu beliau
tulis dalam sebuah karya tulisnya berjudul “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tulisan beliau itu
selengkapnya kami paparkan di bawah ini.
Republik Indonesia berdasarkan “Pancasila”, yang terkandung di dalamnya lima pasal,
pokok-pokok idiologi yang diberi nilai terpenting dalam pendirian Republik kita, sebagai
negara merdeka dan berdaulat. Merdeka artinya negeri dan rakyat tidak takluk kepada dan
tidak tunduk dibawah kekuasaan asing. Berdaulat, artinya negeri dan rakyat memiliki
kekuasaan penuh untuk mengadakan dan menjalankan hukum atas negeri dan bangsa
sendiri.
Sebagai suatu semboyan politik, maka ucapan yang mengatakan Republik kita
“berdasarkan Pancasila” nyatalah tidak menegaskan mana tiap-tiap kata yang terpakai di
dalamnya dan tidak mengikat tafsirnya dengan kepastian makna yang mesti dipakai
dengan tiada syak atau ragu-ragu. Dengan demikian diharapkan, supaya rata-rata segala
golongan yang mengikuti berlain-lain aliran pikiran dalam berbagai kepartaian,
perhimpunan, perserikatan, yang merupakan “lembaga” atau “badan” atau yang tidak
tergabung dengan bentuk yang tertentu, pada umumnya dapat menyetujui atau sedikitnya,
tidak ada keberatan untuk menerima semboyan itu dijadikan “lambang persatuan” yang
meliputi segenap bangsa kita. Dan dalam tiap-tiap pernyataan atau statement yang
bersifat nasional, yakni atas nama rakyat sebangsa segenapnya, kita gunakan semboyan
Pancasila itu, dengan menjaga betul-betul, jangan sampai kita tegaskan paham kita yang
sejelas-jelasnya tentang tiap-tiap kata itu, oleh keyakinan kita, bahwa dengan menegas-
negaskan makna itu akan kentaralah pertikaian yang tersimpan di dalam semboyan,
yang ke luar merupakan persatuan itu.
Akan tetapi dengan kehati-hatian menjaga “persatuan” ke luar itu, kita terus menerus
membiarkan tiap-tiap aliran paham kepartaian, dan lain-lain sebagainya itu, menanamkan,
mendidik dan memasak-masakkan di dalam kalangan masing-masing sendiri, fahamnya
sendiri-sendiri yang menyimpang, bertikaian bahkan barangkali ber-tentangan dengan
faham aliran-aliran yang lain. Sebaliknya kita menjauhi satu-satunya jalan, yang mungkin
sungguh-sungguh menolong menambah luasnya “persatuan faham” yang nyatalah lebih
berharga daripada “paras persatuan” yang di-tujukan ke luar itu.
Inilah bahayanya “persatuan” dan “kesatuan” yang kita perlukan untuk kita seru-serukan
ke luar, yang menyebabkan kita ngeri menilik kepada retak dan belah, kepada perceraian
dan pertentangan di dalam kalangan ummat kita yang sebangsa dan setanah air.
Pada mulanya “semboyan persatuan” itu kita harapkan mempengaruhi faham tentang
“asas, tujuan dan perjuangan” tiap-tiap aliran (kepartaian, dan lain-lain sebagainya) kita
harapkan bahwa tiap-tiap aliran itu akan berikhtiar menyesuaikan fahamnya, dan
selanjutnya “asas, tujuan dan perjuangannya” itu dengan semboyan persatuan itu. Tapi
oleh karena tiap-tiap aliran membawa pulang semboyan itu ke dalam kalangan kaum dan
pengikut-pengikutnya sendiri-sendiri, maka sebaliknya yang sesungguhnya berlaku. Yaitu,
tiap-tiap aliran menafsirkan “Pancasila” kita bersama itu sesuai dengan “keterangan
asasnya”, “acara tujuannya” dan “rencana perjuangannya”. Dan lama kelamaan tiap-tiap
aliran akan membanggakan bahwa hanya ialah yang berpegang kepada “Pancasila yang
sejati”. Dan masing-masing mendasarkan kesejatian itu atas sifat pahamnya yang dihiasi
dengan tambahan keterangan misalnya “kerakyatan” atau “demokrat”, atau “progresip”.
Dan tiap-tiap aliran menuduh mendakwa aliran yang lain-lain dengan “khianat” kepada
asas Pancasila dan memutar balikkan kenyataan.
Adapun hal yang berbahaya itu disebabkan oleh karena keadaan aliran-aliran yang
masing-masing mewujudkan bentuk kepartaian dan sebagainya itu dengan cara dan
aturan yang mencontoh dari dunia Barat itu, pada hakikatnya sudah menyalahi Pancasila
kita. Pancasila kita sekali-kali tidak menegaskan adanya aliran-aliran faham yang berlain-
lain itu. Aliran berlain-lain itu mesti ada, oleh karena hidup manusia di tengah alam yang
makhluk di muka bumi kita ini amat banyak macam ragam dan coraknya; berbagai-bagai
hajat keperluannya, berlapis-lapis, bertingkat-tingkat. Kekayaan kehidupan dengan corak
dan ragam yang bermacam-macam itu dengan sendirinya mewajibkan adanya tujuan
bermacam-macam, yang perlu semuanya, tapi tak mungkin dapat sesuatu pihak melayani
semua-semuanya itu dengan berbagai tugas yang akan sengaja dipentingkan lebih dari
pada yang lain-lain. Maka tumbuhlah berbagai-bagai aliran itu, tiap-tiapnya mementingkan
satu bagian dengan memakai satu haluan yang tententu. Hajat keperluan itu memang
diadakan dan diberi keterangannya di dalam Qur’an (Al-baqarah 148):
“Maka bagi sekalian, masing-masingnya adalah tujuan dan cara yang diutamakannya;
maka berlombalah berbuat kebajikan. Biar dimanapun kamu ada, niscaya Allah
menghimpunkan kamu. Bahwa sesungguhnya Allah kuasa atas segala sesuatu apa.”
Tapi maksud kita bersama-sama mengakui Pancasila itu, ialah supaya pokok-pokok
Pancasila itu, menjadi tempat pertemuan kita di mana kita harus berhimpun. Maka biar
betapa pun dan bagaimanapun kita pisah-pisah oleh karena tugas kita berlain-lain, tapi
tiap-tiap tugas itu dan cara bagaimana kita mengusahakannya, harus termaktub di dalam
salah satu pokok Pancasila itu, menurut paham yang lebih dulu sudah kita sesuaikan
atau sudah kita mufakati antara kita dengan tidak ada syak dan tidak ragu-ragu. Tapi juga
dengan tidak memaksa keyakinan sesuatu pihak.
Syarat-syarat ini dengan sendirinya menyebabkan: pertama bahwa persatuan yang
berharga itu tak mungkin dapat menghimpunkan segala aliran, semua-semuanya dengan
tak ada kecuali dan tak ada sisa, setiap waktu dan dalam segala urusan. Dan kedua,
bahwa untuk mendapat kepastian tentang aliran-aliran manakah yang dapat kita bersatu
dengan dia dalam suatu urusan, haruslah kita senantiasa memeliharakan perhubungan
aliran lain-lain itu dan dapat merundingkan dengan orang-orangnya tentang apakah dan
cara bagai-manakah kita dapat kerja sama menurut pokok-pokok pancasila.
Dengan cara yang demikian itu dapatlah kita harapkan demokrasi berlaku dengan ikhlas
antara berbagai aliran kepartaian dan sebagainya yang ada dalam bangsa kita. Artinya
kerjasama antara yang terbanyak dalam segala urusan kebajikan dengan ikhlasnya; dan
bukan hanya suara bersama yang terbanyak senantiasa menghalangi berlakunya dan
menantang berlangsungnya tiap-tiap usaha untuk melancarkan pemerintahan, untuk
memajukan pekerjaan dan penghasilan ekonomi, untuk memulihkan dan memeliharakan
tertib dan keamanan umum dalam masyarakat kita.
Padahal bencana kenistaan yang tersebut kemudian itulah, yang terlebih banyak kita
alami dalam masa kita sekarang ini.
Sebagaimana sudah tersebut lebih dahulu tadi, akibat yang buruk itu disebabkan oleh
karena dalam bentuk susunan dan cara bekerja aliran-aliran dalam kepartaian dan
sebagainya itu sudah memang menyalahi pokok-pokok Pancasila kita.
Jika akan sesuai dengan dasar Pancasila kita itu, maka bagaimanapun perbedaan haluan
yang dipentingkan oleh berbagai-bagai aliran itu, dan bagaimanapun cara mengusahakan
atau “memperjuangkan” tujuan-tujuannya masing-masing per-tama-tama sekali dan
terutama tidaklah boleh menyalahi pokok dasar yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang
Maha Esa. Tegasnya tidak akan boleh menyimpang daripada hukum agama yang
berdasar kepada wahyu daripada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan firman Allah di
dalam Qur’an tiga kali berturut-turut yaitu: QS. Al-Maidah yang menyatakan :
Maka barangsiapa tidak membuat hukum menurut apa yang diturunkan oleh Allah dalam
kitabNya dan agamaNya yang berturut-turut (yaitu Taurat, Injil dan Qur’an), maka mereka
itu kafir adanya (tegasnya meniadakan Tuhan dan agama) (43) mereka itu zhalim adanya
(tegasnya aniaya menyalahi keadilan; (50) mereka itu fasik adanya (tegasnya melanggar
tertib sopan santun dengan sengaja menyalahi perintah dan petunjuk Allah)”
Tentang pokok dasar yang pertama ini, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memang
menjadi pokok yang istimewa dalam karangan ini, masih akan berikut keterangan yang
lebih luas, Insya Allah pada hakekatnya memanglah pokok yang pertama ini bersifat
meliputi, dan telah terkandung di dalamnya empat pokok dasar yang berikut di dalam
Pancasila kita. Bahkan banyak lagi pokok dasar lain daripada yang empat itu. Dan
memang pula masih banyak perkara dalam urusan negara, tanah air dan masyarakat dan
yang boleh merupakan pokok dasar pula.
Sungguhpun begitu baik juga disini diterang-kan sedikit tentang satu dua pokok dasar
yang lain-lain.
Berkenaan dengan Kebangsaan, pokok ini adalah pusaka dari masa penjajahan yang lalu,
yang hukumnya melebihi mengurangkan (discriminatie), atas dasar kebangsaan, antara
bangsa Eropa (Belanda). Bumiputera (Indonesia) dan peranakan bangsa Timur atau Asia
(turunan Asing) dan orang-orang yang disamakan dengan bangsa Eropa atau dengan
bangsa “Bumiputera” Pada hakikatnya dalam negara kita, yang kita tentukan menjadi
negara hukum yang adil tak mungkin kita meng-adakan perbedaan melebih-mengurangkan
di dalam hukum dengan alasan kebangsaan, melain-kan rakyat dan penduduk sekalian
disamakan terhadap kepada hukum. Hanya dalam beberapa hal yang tertentu perlu
diadakan perbedaan antara penduduk warganegara, yang mengakui kewajiban setia-bakti
(loyality atau loyaliteit) kepada negeri kita yang diakuinya sebagai tanah airnya (wathan)
dan orang bangsa asing, yang wajib setia bakti kepada tanah airnya masing-masing diluar
negeri kita ini.
Dalam hal ini perlu sekali ditegaskan, bahwa asal usul turunan “kebangsaan” berkenan
dengan peranakan tidak boleh menjadi dasar untuk membeda-bedakan di dalam hukum.
Oleh karena itu perlu sekali rasanya, kita tegaskan, bahwa, pokok dasar “kebangsaan” itu
harus dimaknakan dengan “kenegaraan” (Statsangchorigkeit). Dengan makna ini nyatalah
“bangsa” (nationality) se-seorang ditentukan oleh negara yang ia mengakui wajib setia
bakti (loyality) kepadanya. Semangat sikap yang dikehendaki disini ialah cinta tanah air
(hub-al-wathan; patriotisme); berbeda dengan cinta kebangsaan (nationalisme) yang
mungkin tetap terikat kepada tanah air asal atau tanah leluhur di luar negara kita ini.
Berkenaan dengan kerakyatan yang dimaknakan dengan demokrasi, baik kita tegaskan
bahwa yang menjadi pokok yang menentukan dalam hal ini ialah rakyat sekalian dalam
seluruh negara. Menurut pokok dasar ini kita sekalian mengakui kewajiban kita sekalian
tunduk kepada keputusan yang diterima oleh jumlah yang terlebih banyak daripada rakyat
itu, sebagaimana ditetapkan dengan suara yang terbanyak oleh badan per-wakilan rakyat
yang anggota-anggotanya dipilih oleh rakyat menurut aturan yang tertentu dengan suara
yang terbanyak pula.
Berhubung dengan pokok dasar ini tidaklah dibenarkan sesuatu golongan daripada rakyat
memisah menyendiri atas dasar lapisannya dalam masyarakat (buruh, tani, pedagang,
tentara, kaum agama, suku bangsa dan sebagainya), menentang, melawan atau
melanggar sesuatu hukum atau aturan yang ditetapkan dengan sah oleh suara terbanyak
daripada rakyat itu (ijma’ al-ummah) dengan menggunakan kekuatan perkosaan memak-
sa yang mengancam tertib negeri dan keamanan umum dengan bencana dan kerusakan.
Tiap-tiap perbuatan yang demikian itu yang menggunakan intimidasi (menakut-nakuti),
terror (aniaya kezaliman yang mendahsyatkan, sabot (merusak) abstruksi (menghalang-
halangi) nyatalah termasuk kepada fitnah (khianat) mungkar (keja-hatan, kelicikan) dan
bagha (durhaka). Maka haruslah ditentang dengan segenap tenaga masyarakat sepenuh-
penuhnya, biar dari pihak manapun terbitnya; oleh karena itu jika dibiarkan saja, tak dapat
tidak kenistaan semacam itu membencanai, bahkan membinasakan masyarakat.
Berkenaan dengan hal yang semacam ini baiklah kita peringati firman Allah di dalam
Qur’an. (QS. Anfal 25):
“Jagalah dirimu baik-baik supaya terpelihara daripada perdayaan, kekacauan dan huru-
hara yang pasti menimpa bukanlah hanya mereka yang berbuat aniaya saja diantara
kamu dan ketahuilah, ingatlah, sadarlah bahwa sesung-guhnya Allah teramat sangat
hukumanNya yang menjadi akibat daripada bencana semacam itu”.
Dalam ayat-ayat yang dahulu daripada yang tersebut itu tadi telah terkandung keterangan-
keterangan yang menunjukkan bahwa bencana yang semacam itu terbitnya daripada
pihak yang membuta-tuli, tak mau mendengarkan petunjuk-petunjuk daripada Allah,
sehingga jika pun mereka diberi mendengar, mereka akan tetap menentang dan berbalik
membelakang.
Baiklah kita cukupkan dulu keterangan tentang dua pokok dasar dalam Pancasila kita ini
yang sudah terdahulu itu dan menegaskan bahwa dengan dua lagi yang berikut, segala
pokok-pokok itu men-camkan kesatuan kita sekalian yang bersama-sama mengakui
Pancasila kita itu; kesatuan ibarat suatu tembok batu, yang segala bagiannya sendi-
menyendi, sokong-menyokong antara satu sama lain.
Dengan mengingat sifat-sifat ini dapatlah kita mengenal tiap-tiap golongan, rombongan
atau gerombolan dengan bentuk kepartaian atau badan atau lembaga apapun juga, yang
dengan sikapnya dan tingkah lakunya terbukti mengasingkan diri daripada ummat se
bangsa, se tanah air kita, sekalipun mulutnya mengakui ikut. Mereka itu dengan berbagai
corak dan ragamnya yang agak berlain-lain, tak orang semuanya dapat dikenali dengan
tanda-tanda seperti di dalam ayat Qur’an (S. Al Anfal 2123):
Janganlah kami menjadi sebagai mereka yang (dengan mulutnya) berkata: “Kami
mendengar padahal mereka tidak mendengar. Bahwa sejahat-jahat binatang yang melata
di muka bumi dalam pandangan Allah ialah yang ibarat tuli dan bisu tak ada ia mengerti.
Jika mereka ada baiknya pada pengetahuan Allah, niscaya diberi oleh Tuhan mendengar,
tapi sekalipun diberi mendengar,mereka hanya akan berbalik belakang juga sedang
mereka membantah dan menentang”.
Sampai disini baiklah kita kembali kepada pokok dasar yang pertama daripada Pancasila
kita, yaitu yang menyatakan bahwa negara kita didasar-kan atas Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Sebagai salah seorang yang turut serta membuat rencana pernyataan Kemerdekaan
sebagai pendahuluan (preambule) rencana Undang-undang Dasar kita yang pertama di
dalam Majlis Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zyunbi Tyosakai) di masa
akhir-akhir kekuasaan Jepang, saya ingat betul-betul bahwa di masa itu tidak ada di
antara kita seorang pun yang ragu-ragu, bahwa dengan pokok dasar Ketuhanan Yang
Maha Esa itu kita maksudkan aqidah, kepercayaan agama dengan kekuatan keyakinan,
bahwa kemerdekaan bangsa dan tanah air itu suatu hak yang diperoleh daripada rahmat
karunia Tuhan Yang Maha Esa dengan ketentuanNya yang dilaksanakanNya dengan
semata-mata kekuasaanNya pada ketika masanya menurut kehendakNya.
Dan kemudian, setelah tercapai Kemerdekaan yang menjadi idam-idaman dan cita-cita,
yang tak pernah padam dalam bangsa kita, istimewa ummat Islam, dalam selama masa
kita di takluk tundukkan oleh kekuasaan asing, yakin pula kita, bahwa segenap bangsa
kita yang beragama menyambut nikmat karunia itu dengan bersyukur kepada Allah. Tuhan
Yang Maha Esa. Maka pastilah bahwa pokok dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu
menjadi pokok yang terutama mengepalai Pancasila kita sebagai pernyataan aqidah
tersebut diatas tadi. Maka dapatlah berhimpun dibawah pokok dasar itu segala umat,
yang menjadi pengikut sesuatu agama, yang didasarkan atas kitab, diturunkan pada
mulanya kepada Nabi-nabi yang menjadi pesuruhNya, di masa berlain-lain dalam negeri di
muka bumi.
Dalam masa berlama-lama kitab-kitab itu yang dahulu daripada Qur’an, di masa yang
kepandaian baca tulis terbatas di dalam kalangan satu-satu golongan (padri-pendeta) yang
sedikit sekali bilangannya, telah banyak yang bertukar-tukar di dalam kitab-kitab itu. Ada
tambahan yang termasuk atau diselakan (Addities dan inter-pelaties), ada yang diobah, di
pindah-pindahkan maknanya (alteraties), ada yang nyata-nyata dipalsukan (falaificates).
Maka dalam sebagian agama, istimewa yang terlebih tua itu Ketuhanan Yang Maha Esa
menjadi terdesak dari tempatnya di dalam ajaran-ajaran agama, oleh ramainya hikayat-
hikayat Dewata dan manusia-manusia pilihan, Nabi-nabi dan Wali-wali yang beroleh
Keramat kesaktian, yang menjadi ajaran dan agama.
Segala itu pada mulanya bermaksud hendak mendekatkan Ketuhanan Yang Maha Esa
kepada pengertian manusia umumnya. Memang di masa purba itu, masa muda ummat
manusia, amatlah cepatnya pengertian mereka tentang alam tempat mereka hidup, dan
tentang pelik dan ajaib hikmah bentuk buatan diri mereka sendiri yang dijadikan Allah
dengan kesempurnaan bentuk bangunnya dan dikaruniaNya dengan Roh dari padaNya,
mengataskan dia manusia itu, daripada segala makhluk yang lain-lain. Sehingga amat
jauhlah pengertian tentang Allah Yang Maha Luhur. Maha Meninggi itu, daripada capaian
akal manusia itu, yang belum dapat mengenal hikmah yang terkandung di dalam dirinya
sendiri pun juga.
Tapi usaha manusia itu, yang hendak pandai-pandai menyimpang daripada ajaran dan
petunjuk Tuhan Yang Maha Esa itu, bukanlah tercapai maksud yang bermula, melainkan
sebaliknya menyebabkan dalam sebagian agama itu, Tuhan Yang Maha Esa semata-
mata bertukar dengan manusia, yang mula-mula membawa berita dari-pada Tuhan itu.
Dan ada pula daripada agama-agama itu yang hendak memanjatkan pengertian manusia
sampai kepada mengenal akan Tuhan Yang Maha Esa itu dengan berjenjang naik, dari
paderi-pendeta kepada Nabi dan segala Malaikat, yang akhirnya menyelubungi Tuhan
Yang Maha Esa itu dengan jumlah yang tak terbilang daripada manusia-manusia yang
sakti dan keramat dan dari pada Malaikat-malaikat hamba Tuhan Yang Maha Esa itu,
sehingga hilang lenyap semat-mata Tuhan itu di balik selubung “Dewata Mulya Raya”
yang tidak terbilang banyaknya itu.
Demikianlah keadaan sampai kedatangan agama Islam sebagai yang diwahyukan oleh
Allah SWT kepada Nabi penutup – pengunci pengiriman Nabi-nabi dan Rasul pesuruh Allah
yang pengha-bisan dengan kitab Qur’an.
Dengan kitab wasiat Allah SWT yang peng-habisan itu diwajibkan membaca kepada
segala manusia dan diperintahkan menambatkan ilmu pengetahuan dengan tulisan,
sebagaimana di-sampaikan perintah itu oleh Nabi Muhammad Rasulullah saw Maka
dengan karena itu tiap-tiap ayat Qur’an yang diturunkan oleh Allah Ta’ala dengan wahyu
kepada Nabi saw itu dituliskan dengan segera dari bermula dan disaksikan, dipelajari
bacaannya atau dihafalkan lafaznya oleh sebanyak-banyaknya orang yang masuk ke
dalam lingkungan pengikut Rasulullah saw itu.
Penyiaran baca tulis yang dengan demikian tersiar bersama dengan berkembangnya
agama Islam daripada Qur’an itu, membukakan pula pintu masa kemajuan ilmu
pengetahuan yang pertama kali, membukakan perbendaharaan ilmu pengeta-huan yang
menjadi peninggalan masa lalu di Timur dan Barat dan mengerahkan usaha menyambung
perkembangan itu dan menyalakan cahaya pene-rangan pada akal dan budi pikiran
manusia.
Semenjak itu mulailah Qur’an menyerukan firman Allah ke Timur dan Barat untuk melak-
sanakan tugasnya yang tersebut di dalam Qur’an S. Al-Maidah 49:
“……. Membenarkan apa-apa yang telah ada didapatinya daripada kitab (yang telah
diturunkan terlebih dahulu), dan mejadi ujian (tentang) bagian-bagian yang benar dan yang
salah (atasnya)”.
Dan dari sedikit ke sedikit, bertambah-tambah tersiar seruan Qur’an mengajak kepada
aqidah Ketuhanan Yang Maha Esa yang setegas-tegasnya. Dengan jelas dan tegas,
dengan “tak boleh tawar” ajaran Qur’an membantah dan menampik paham
“Amphitheismus” yang mengadakan tanding kepada Tuhan dalam pertentangan berebut
kekua-saan atas ummat manusia. Ajaran Qur’an membantah dan menampik ajaran
“Triplotheismus” yang mengadakan banding atau tara dari Tuhan Yang Maha Esa yang
menyekutuiNya dan berbagai kekuasaan dengan Dia, Subhanahu wa Ta’ala; ataupun
banding atau tara yang berbagai tugas dengan Dia. Ajaran Qur’an membantah dan me-
nampik ajaran “Polytheismus” yang membanyak-kan Tuhan atau dewata seperti yang
sudah tersebut tadi itu.
Seruan Qur’an dengan tolongan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan lama-
kelamaan telah bertambah-tambah berhasil. Dan pada masa kita sekarang ini bolehlah
kita katakan, bahwa ahli-ahli ilmu pengetahuan dan ahli akal dan pikiran dalam segala
agama dunia yang mendasarkan ajaran-ajarannya atau kitab-kitab asli daripada pesuruh-
pesuruh Allah, rata-rata telah mengakui Monotheismus Ketuhanan Yang Maha Esa
dengan tiap-tiap agama dunia itu mencarikan tafsir sedapat-dapatnya untuk menyesuaikan
pengakuan itu dengan ajaran agamanya yang seolah-olah ber-lawanan dengan
pengetahuan itu.
Syahdan atas Umat Islam yang menurut agama Allah di dalam Qur’an sebagai yang di
ajarkan oleh Nabi Muhammad saw tergantung kewajiban akan tetap meneruskan seruan
Ketuhanan Yang Maha Esa itu dengan kebijaksanaan dengan peringatan yang lemah
lembut tapi tegas; supaya mudah-mudahan dapatlah disusun dan diatur kerja ummat
agama untuk mencapai keselamatan ummat manusia. Selamat daripada “fitnah”,
kekacauan, huru-hara, “mungkar”, “Bagha” pendurhakaan. Segala-gala itu membawa
kerusakan, yang tidak hanya akan orang-orang yang jahat saja melainkan meratai
masyarakat kita segenapnya.
Berhadapan dengan mereka, yang sekalipun dengan mulutnya mengakui pokok
Ketuhanan Yang Maha Esa itu, tapi terang dengan fi’il-tingkah laku dan perbuatannya
mengajak dan menghasut hasut kita untuk membesar-besarkan hawa nafsu keduniaan
dan loba-temaah kepada kebendaan, biar dengan apapun semboyannya hendaklah kita
memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa hidayat petunjuk dan bimbingan taufikNya,
menyesuaikan hati kita supaya dapat kita berlaku menurut firmanNya. (S. Al-Syura 15):
“Maka oleh karena itu meminta do’alah engkau dan luruskanlah pendirianmu sebagaimana
engkau telah diperintah; dan janganlah engkau peturutkan hawa mereka, melainkan
katakanlah aku percaya akan apa yang diturunkan Allah di dalam kitab dan aku telah di-
perintahkan aku mengadili antara kamu, Allah itu Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi
tanggungan kami amal perbuatan kami dan amal perbuatanmu bagi tang-gunganmu; tak
ada janji bagi tuduh menuduh antara kami dengan kamu dan menjatuhkan hukumannya
dan kepadaNyalah kesudahan sampainya kita”. ?
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 25, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: