RSS

KONSPIRASI DIAM-DIAM MASA LALU ???

02 Sep

 

Apa yang terdjadi seandainya Letnan Kolonel Kahar Muzakkar pada tahun l950 dilantik menjadi pimpinan TNI/APRIS ( Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) di Makassar dan bukan Kolonel A.Kawilarang. Mungkin sejarah politik dan keamanan di Sulawesi-Selatan akan berbeda dengan sekarang. Sulawesi-Selatan mungkin tidak tertinggal dalam pembangunan infrastruktur selama kurang lebih 10 tahun.Jika dilihat secara senioritas dan kepangkatan, menjadi orang nomor satu dalam militer di Sulawesi-Selatan memang “hak sejarah” Kahar Muzakkar. Tetapi nasib seseorang dan sejarah tampaknya bisa merombaknya menjadi lain. Pasang surut aktivitas militer di Sulawesi_Selatan dipengaruhi berbagai faktor, mulai politik, tidak sedikit karena intrik warisan masa perjuangan kemederdekaan.

Kahar Muzakkar menjadi korban, pertarungan dan tarik menarik, siapa yang berhak dipertahankan dan pantas direkrut ke dalam TNI, setelah TNI akan dibentuk menjadi pasukan militer profesional. Kahar Muzakkar, dipihak yang kalah, karena ia berpihak pada prinsip bahwa semua tokoh pejuang masa revolusi berhak diresmikan masuk ke TNI untuk menghargai perjuangan mereka. Sementara Markas Besar TNI di Jakarta, dibawah Mayor Jenderal A.H.Nasution dan Kolonel A.Kawilarang (Panglima Teritorium VII Indonesia Timur) di Makassar, (keduanya pernah menjadi personil militer Belanda), menghendaki agar setiap anggota TNI harus digojlok kembali dan hanya mereka yang memenuhi syarat tertentu untuk menjadi tentara profesional yang akan diterima. Kahar Muzakkar gagal mempertahankan solidaritas “anak dan bapak”. Ribuan pasukannya yang bergabung dalan Corps Cadangan Negara (CTN) tidak mau diresmikan. Mereka meninggalkan markas mereka di Barakka dan masuk hutan. Kahar akhirnya kecewa dan bergabung dalam pasukan yang “sakit hati”. Pemberontakan dimulai dan apa yang disebut DI/TTI dibentuk, sejarah dan akhir pemberontakan itu telah kita ketahui semua.

TENTARA DARI “ UTARA”

Mantan pejuang asal Sulawesi-Selatan yang jadi dilantik masuk ke TNI, memang cukup banyak , tetapi sukses dalam karier militer dikalangan senior mereka hanya bisa dihitung jari. Sebaliknya mantan-mantan perwira yang berasal dari utara (Menado) dalam waktu beberapa tahun, mendominasi kepemimpinan militer di TT VII Wirabuana ( l950-l957). Karena itu, tidak aneh jika dulu ada dikotomi dalam masyarakat isu adanya “Tentara asal “Utara” dan tentara asal “Selatan”. Bahkan bukan isapan jempol, jika secara diam-diam timbul persaingan tajam antar dua kubu ini. Hanya saja ketika itu, tentara-tentara yang berasal dari kesatuan Jawa Timur ( Batalyon Brawijaya ) dan kesatuan dari Jawa Tengah ( Batalyon Diponegoro) juga masih berbaur dengan kesatuan anak daerah, membuat persaingan itu tidak terlalu mencolok. Masalah yang selalu memberikan posisi “kelas dua” bagi tentara asal “Selatan”, adalah faktor pendidikan. Rata-rata tentara termasuk para perwira asal “Selatan” belum pernah mengecap pendidikan militer profesional, apalagi lulus dari akademi militer Belanda. Secara kebetulan pejabat tertinggi di Sulawesi-Selatan ketika itu, Kolonel Alex Kawilarang Panglima TT VII Wirabuana ( Menado) bersikeras meneruskan kebijakan Markas Besar Angkatan Perang di Jakarta untuk menjadikan seluruh TNI menjadi militer profesional. Hal ini berarti tidak ada jalan akan munculnya tentara “Selatan” duduk dalam struktur penting pimpinan militer. Rata-rata perwira menengah asal “Selatan”, tidak ada yang memiliki pendidikan militer profesional. Mereka menjadi tentara, hanya secara kebetulan karena panggilan pengabdian untuk mempertahankan kemerdekaan bangsanya. Walaupun pendidikan formal mereka, sebutlah A.Mattalatta, Saleh Lahade, Hertasning, Usman Djafar, juga lepasan pendidikan Belanda, tetapi dalam, profesi militer mereka nol. Sejumlah perwira muda yang mendapatkan pangkat secara kebetulan ketika bergerilya di Jawa, hanyalah menempuh pendidikan dasar kemiliteran. Bandingkan dengan perwira senior dari “Utara” seperti A.Kawilarang, Vence Sumual, Dee Gerungan, semuanya pernah mengecap pendidikan militer ( Hogere Krigschool) Breda di Belanda.

Persaingan makin kentara, ketika Panglima TT-VII Kolonel Warouw oleh pusat akan di pindahkan ke pos lain karena TNI akan memberlakukan reorganisasi territorial. Perwira asal Minahasa di Makassar mulai gelisah, karena wewenang dan peranan mereka akan hilang, padahal dengan pendidikan militer mereka yang memenuhi syarat, bisa mendominasi struktur dalam TT VII Wirabuana. Calon penggatinya walaupun tetap perwira tinggi asal Minahasa yaitu Kolonel H.V.N. Vence Sumual sebagai Panglima TT VII, tetapi tidak akan sama dengan kharisma J.F.Warouw. Sementara para perwira asal “Selatan”, juga berkeinginan agar jabatan panglima diberikan kepada anak daerah . Perwira tinggi yang memenuhi syarat ketika itu adalah Kolonel A.Mattalatta. Rupanya reorganisasi yang dirancang Markas Besar Angkatan Perang adalah pembentukan KoDPSST (Komando Pertempuran Sulawesi-Selatan Tenggara). Dengan terbentuknya, KoDPSST , Kolonel A.Kawilarang, Kolonel J.P.Warouw dipindahkan ke pos luar negeri sebagai Atase Militer. Reorgananisasi ini sebenarnya juga konspirasi terselubung, karena Pusat sudah mulai mencium jika para perwira tinggi di daerah ini, sudah mulai melakukan tindakan indisipliner, melakukan perdagangan barter. Dan ini betul terjadi. KoDSST akhirnya tidak memunculkan perwira asal “Selatan” maupun “Utara” , tetapi pusat menunjuk Kolonel R.Sudirman dari Brawijaya dan Kolonel R.A.Nasuhi dari Siliwangi sebagai Kepala Staf.

Kolonel Alex Kawilarang setelah menjadi Atase Militer di Washington kemudian terlibat dalam peristiwa Permesta. Letnan Kolonel Vence Sumual yang pernah menjadi Kepala Staf TT VII, juga menjadi tokoh sentral Permesta, habis karier militernya dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Kolonel Joop F.Warouw mantan Panglima TT VII yang menggantikan Kolonel A.Kawillarang, setelah menjadi Atase Militer di Peking, kandas dalam pangkat Kolonel dan akhirnya bernasib tragis setelah kembali bergabung dengan Permesta .

Nasib yang sama juga terjadi pada Mayor Lendy Tumbelaka, mantan Asisten III TT VII, Mayor D.J.Somba mantan Komandan Batalyon RI-24, Mayor D.Gerungan mantan Asisten IV TT VI Wirabuana, terakhir bergabung dengan Permesta kemudian DI/TII, tetapi tertangkap dan dieksekusi mati. Mereka rata-rata militer profesional. Tokoh lainnya adalah Mayor John Ottay, Mayor A.W.Supit, Mayor Wim Tenges.Perwira “ Utara” ini, tidak terhitung banyaknya yang pernah bertugas di Parepare.

Tragis, bahwa karier militer senior tentara di Utara banyak yang kandas karena keterlibatan mereka dalam Permesta, padahal mereka berlatar tentara profesional. Merekalah yang pernah mendapat kesempatan pertama menduduki posisi tertinggi dalam TT VII, dibandingkan perwira mantan penjuang revolusi asal Selatan.

 

Reorgansasi TT menjadi Kodam tahun l957 telah memberikan kesempatan pertama anak “Selatan” menjadi orang nomor satu pada struktur militer di Sulawesi-Selatan, meliputi Sulawesi-Tenggara. Pada waktu itu, dibentuk 17 Kodam di seluruh Indonesia, Sulawesi-Selatan menjadi Kodam XIV/Hasanuddin dengan Panglima Letnan Kolonel A.Mattalatta pada tanggal 1 Juni l957, Kepala Staf ditunjuk Mayor Hertasning Daeng Toro. Ini sebuah mukjizat. Bayangkan sejak tahun l950, tidak pernah sekalipun anak daerah muncul sebagai Panglima atau Komandan tertinggi di daerah mereka sendiri. Mulai ketika TT VII , Indonesia Timur, Komandonya berangsur dipegang oleh Kol.A.J.Mokoginta, Kolonel A.Kawilarang, Kolonel Gatot Subroto, Letnan Kolonel J.P.Warouw, Letnan Kolonel N.V.Sumual, Kolonel Sudirman (KoDMSST). Bahkan untuk jabatan Kepala Staf antartahun l949-l969, tidak pernah dijabat oleh perwira asal Selatan.

Setelah tahun l957 dan Kolonel A.Mattalatta diangkat menjadi panglima Kodam SST, barulah berangsur-angsur jabatan tertinggi dalam militer dipegang oleh anak daerah. Pada saat itu, sebutlah misalnya Kepala Staf Kodam SST adalah Mayor Hertasning, kemudian diganti oleh Letnan Kolonel A.Jusuf Amir, kemudian digantikan lagi oleh Letnan Kolonel Andi Rifai. Bahkan suatu ketika, Gubernur Sulawesi Selatan dijabat oleh Kolonel (titular) Andi Pangerang Petta Rani, Panglima Kodam XIV Hasanuddin dijabat oleh Kolonel Andi Mattalatta, Komandan Resimen Infantri Letnan Kolonel Andi Muh.Jusuf Amir, Komandan RI 23 dijabat oleh Letnan Kolonel Andi Rifai, dengan posisi seperti ini, beredar isu , dikuasianya jabatan militer oleh para “Andi-Andi”.

Sebenarnya jabatan yang telah diperoleh oleh perwira pejuang kemerdekaan ketika itu, hanyalah yang terlihat dipermukaan.Sebagian besar perwira perwira pejuang kemedekaan lainnya, tidaklah semujur kawan-kawan mereka dari kesatuan lain di luar Sulawesi dalam hal promosi kepangkatan. Mungkin karena latar belakang pedidikan mereka yang bukan dari profesi militer, promosi kepangkatan mereka biasanya seret dan kandas pada perwira menengah. Walaupun mereka sudah menempuh pendidikan tambahan di SSKAD dan SESKOAD ( Sekolah Staf Komando Angkatan Darat) di Bandung.

Sebutlah mereka itu antar lain Makkatang Daeng Sibali ( Komandan Batalyon 718), Andi Selle ( Komandan Batalyon 719), atau mantan komandan-komandan batalyon seperti Muharram Djaya, Andi Lantara, Hasanuddin Nawing, A.Hasanuddin Oddang, Janci Raib, Azis Taba, Arifin Nu’mang, A.R.Malaka, Musa Gani, Alim Bachri, Andi Tau, dll. Semuanya hanya terhenti pada pangkat Mayor, Letnan Kolonel dan Kolonel.

Kecuali Jenderal M.Jusuf Amir yang mencapai karier puncak dalam ABRI sebagai Panglima Tertinggi, yang lainnya mujur dapat pangkat Mayor Jenderal hanya beberapa orang, yakni Andi Mattalatta, Edy Sabara, Hertasning, Azis Bustam, A.Rifai, Ahmad Lamo, posisi Mayor Jenderal bagi A.Mattalatta dijabatnya puluhan tahun sampai meninggal dunia. Pangkat Brigadir Jenderal, masih bisa diperoleh Andi Sose, Andi Oddang, Bachtiar, Arsyad B. Tetapi pangkat kolonel yang mereka sandang usianya sampai puluhan tahun. Begitulah perjalanan karier perwira pejuang masa revolusi yang berada di daerah. Jasa-jasa mereka untuk tanah air ini tidak terhitung besarnya, walaupun mereka tidak ingin membeberkannya. Belum terhitung yang tercampak ditengah jalan seperti Letnan Kolonel Saleh Lahade, Kolonel Andi Selle, serta mereka yang menyebrang ke pihak pemberontak seperti Kahar Muzakkar, Bahar Mattaliu,dll. Berbeda sekarang ini, pangkat militer yang diperoleh dari karier pendidikan, dengan gampang menikmati jenjang kepangkatan yang tinggi, asalkan kondite mereka baik.

KONSPIRASI DIAM-DIAM MASA LALU.KOMANDAN KOREM PAREPARE

l950-l970

Setelah tahun l950, Korem Parepare ketika itu masih bernama Resimen Inftantri 23 (RI 23). Sebagaimana sudah dituturkan sebelumnya, masa itu, perwira dari “Utara” masih sangat dominant dalam struktur organisasi TNI di TT VII Indonesia Timur. Komandan pertama dijabat Letnan Kolonel J.P.Warouw ( l950-l952). Kemudian dia digantikan oleh Letnan Kolonel Chandra Hasan. Kepala stafnya Mayor Andi Mattalatta. Chandar Hasan adalah tentara dengan latar belakang profesional. Pendidikan militernya, setelah bertugas di Parepare ia berangkat ke Amerika Serikat, tepatya di U.S.Army Command and General Staff College, Fort Leavenworth Kansas (l958). Sebelumnya ia menjadi Asisten I Kepala Staf Angkatan Darat bidang intelejen. Sesudah itu, Chandra Hasan dikaryakan memimpin BUMN di Jakarta, sampai akhirnya meninggal tahun l985. Saya ingat ketika menjabat Komandan Res.23 di Parepare Chandra Hassan sudah tinggal di Jalan Pinggir Laut , sekarang Jalan Abdul Djalil Habibie. Pangkat Letnan Kolonel waktu itu, merupakan pangkat yang sangat tinggi. Bayangkan panglima saja baru berpangkat Kolonel. Sebutan Letnan Kolonel waktu itu, lebih banyak dipakai “overste”, dan apabila ada yang menyebut kata “overste”, terkesan

pangkat itu sudah luar biasa.

Setelah Letnan Kolonel Chandra Hasan, Komadan Resimen Infantri 23 Parepare di jabat oleh Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo. Yang menjabat sebagai Kepala Staf ialah Mayor Andi Rifai. (l954-l957). Suatu hal yang menarik, ketika Letkol Suadi menempati rumah jabatan Komandan Korem di Jalan Pinggir Laut, ia mencat rumah itu berwarna merah menyala. Suatu pemandangan yang aneh di Parepare ketika itu. Tetapi pergaulan Suadi dengan masyarakat sangat akrab. Ia misalnya tidak segan-segan ikut menyanyi keroncong jika Orkes Kestaria pimpinan M.Djasim mengadakan latihan. Bahkan ia pernah datang latihan menyanyi di rumah Jalan Daeng Parani l , ketika Orkes Keroncong Kesatria sedang latihan .

Setelah bertugas di Parepare, Letnan Kolonel Suadi pernah memimpin Kontingen Garuda bertugas di luar negeri. Setelah itu, Suadi menjadi Duta besar dua kali, terakhir di Australia. Pejabat selajutnya adalah Letnan Kolonel A.Rifai dengan Kepala Stafnya Kapten A.Selle kemudian digantikan oleh Mayor Andi Sose ( l957-1960) . Setelah itu, Resimen Inftanri-23 dijabat oleh Mayor A.Sose, sampai pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel.

Mayor Arsyad B menggantikan Letnan Kolonel A.Sose, kemudian perpindah lagi ke Letnan Kolonel Andi Tau, menyusul Letnan Kolonel Musa Gani. Para mantan Komandan Resimen Infantri-23, khususnya asal Sulawesi-Selatan adalah militer yang berpengalaman pada masa revolusi. Kecuali A.Sose dan Arsyad B, mereka semua tidak ada yang mencapai jenjang Jenderal. Andi Rifai, Andi Tau, Musa Gani, Arsyad B, semuanya pernah turut bergerilya di Jawa. Musa Gani di Front Jawa Timur, malah pernah memimpin kompi pasukan BBM ( Barisan Berani Mati) dan terlibat pertempuran dahsyat dengan pasukan Belanda.

Komandan Resimen RI, selanjutnya pernah dijabat lagi oleh perwira yang tidak berasal Sulawesi-Selatan. Mereka itu misalnya Kolonel Syamsir Siregar, sekarang menjadi Direktur BIN, Badan Intelejen Nasional. Jika tidak salah, pernah juga dijabat oleh Kolonel Sulatin, terakhir menjadi Asisten Wakil Presiden B.J.Habibie.

Mayor Jenderal A.Mattalatta, walaupun tidak pernah menjadi Komandan Resimen Infantri 23 di Parepare, kecuali menjadi Kepala Staf ketika Letnan Kolonel Chandra Hasan menjadi Komandan Resimen, tetapi ia banyak dikenal di Parepare. Pertama kali ketika ia menjadi Komandan Batalayon Mattalatta yang bermarkas di Parepare tahun l950. Daerah tugas Batalyon sampai di daerah Majene dan pada saat genting mulai merebaknya gerak an DI/TII di Sulawesi-Selatan.. Sebagai Komandan Batalyon, ia menempati rumah jabatan Komandan Resimen di Jalan Pinggir Laut . Setiap hari ia berpeci dan pakai dasi hitam, dilengan kiri ada emblem dengan gambar kepala kerbau yang bertanduk, lambang TT VII Wirabuana.

Pada saat itulah, A.Mattalatta mendirikan sebuah Sekolah Depot , semacam pendidikan kemiliteran untuk murid-murid sekolah lanjutan . Hal ini dilakukan untuk menampung aspirasi anak-anak muda yang banyak berminat masuk menjadi militer. Pada saat itu, memang menjadi tentara adalah sebuah kebangaan, mungkin karena masa itu dianggap profesi tentara dianggap adalah lambang patriotik dan gagah, apalagi Indonesia baru memenangkan perang dengan penjajah Belanda. Ingat lagu “Kopral Djono” ciptaan Ismail Marzuki yang sangat populer ketika itu. Betapa lirik lagu itu, melukiskan gagahnya seorang kopral. Perhatikan sebaris bait lagu itu …., “ Kopral Djono, lagak lagumu membikin wanita bertekuk lutut, oh, oh Kopral Djono “. Tetapi sekarang, apalah daya tarik seorang tentara yang berpangkat kopral ?

Waktu pendidikan tentara Depot hanya empat bulan dan diberi nama Depot Batalyon Sektor III/KMSS. Banyak siswa yang mendaftar. Tempat pendidikan di SMP Negeri I sekarang ini, lokasi sekolah ini masih terisolasi hutan dan semak. Jalan masuk utama masih melalui jalan yang menunju Rumah Sakit Sumantri sekarang ini. Komandan pendidikan adalah Kapten L.Rahmansyah, rumahnya sekarang ditempati Hotel Mudaril di jalan Bau Massepe. Salah seorang instruktur bernama Letnan Muda Zainuddin, mungkin ia mengajarkan kesenian di Depot itu, hingga ia juga populer disebut “ Tuang Guru Dero”.Ia pintar mengajar tari pergaulan “dero”. Badannya tinggi gemuk, rumah keluarganya dulu tepat dipersimpangan poros jalan masuk kota Parepare, menghadap Ujung Lero. Banyak perlengkapan dapur Depot dititipkan di rumah keluarga kami di Jalan Daeng Parani 1. Siswa Depot antar lain Tadjuddin Chalid, terakhir menjadi Dokter dan pernah menjabat Kanwil Kesehatan Prov.Sulawesi-Selatan tahun 90-an. Menurut A.Mattalatta, ketika terjadi pengacauan KNIL di Makassar, setelah peristiwa A.Azis, ia mengerahkan pasukan Depot yang minim pengalaman militer ini menyerbu markas KNIL di Makassar. Anehnya, tanpa melepaskan satu peluru, anak-anak muda dari pendidikan Depot ini, berhasil membuat KNIL menyerah di markasnya.

KASIHAN SESEPUH ITU

Pada saat penempatan batalyon A.Mattalatta di Parepare, masyarakat Parepare pernah digemparkan dengan kedatangan kapal perang “Pelikan” berlabuh di pelabuhan Parepare. Kapal jenis “ro ro” ini, menurunkan perlengkapan batalyon A.Mattalatta, berupa alat angkut truk, jeep, dan berbagai macam perlengkapan lainnya.. Masyarakat Parepare berjejal di pelabuhan memandang kagum kapal laut milik tentara Rep.Indonesia ini, berlabuh beberapa hari di Parepare. Itulah para mantan Komandan Res.Infatnri 23 Parepare yang sekarang dirubah menjadi Resimen Infantri Taro ada Taro Gau.

Tidak banyak angkatan muda dalam militer sekarang yang bertugas di Sulawesi-Selatan, tahu apa dan siapa senior/sesepuh mereka di daerah itu. Saya dengar keluhan-keluhan para veteran yang mengalami kesulitan mempertahankan hak mereka dalam soal perumahan yang salah urus, dianggap” sambil lalu” saja oleh Panglima-Panglima Kodam yang pernah ada. Bahkan rumah-rumah dinas yang sudah ditinggali bertahu-tahun oleh para tokoh pejuang dan keluarganya digusur, ada dengan cara menyakitkan. Padahal mereka rata-rata (terakhir) pensiunan berpangkat perwira tinggi ( letkol,kolonel,brigjen) adalah sesepuh masyarakat daerah. Apa tokh salahnya menghibahkan rumah dinas tua sebagai penghargaan kepada jasa-jasa mereka. Berapa tokh perumahan yang diperlukan perwira-perwira tinggi muda yang hanya berdinas satu dua tahun di daerah itu ? Tidak cukupkah perumahan

dinas yang bisa dibangun di kompleks Kodam yang ada. Daripada menyakitkan hati tokoh-tokoh senior/sesepuh mereka yang punya andil besar bagi kemerdekaan Indonesia. Mereka pernah bertarung nyawa tidak hanya di tanah Bugis Makassar, tetapi juga di seluruh pulau Jawa. Mungkin mereka tidak tahu sejarah ini, tetapi dengan demikian, semua itu hanya makin memperpanjang rasa iri dan sakit hati apa yang dulu disebut “anak daerah”.***

DARI ARSIP ANDI MAKMUR MAKKA
[The Habibie Center, Jakarta]

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 2, 2015 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: