RSS

JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!! (3)

M. Asad Shahab: Sosok Dibalik Penyebaran Proklamasi Kemerdekaan Ke Dunia Arab

M Asad Shahab: Wartawan, Sejarahwan, Intelektual dan Diplomat

 

 

Pembacaan Teks Proklamasi

Perjuangan pencapaian pengakuan kedaulatan Indonedia pada tanggal 27 Desember 1949 bukan merupakan perjuangan yang sederhana dan mudah.  Ada tiga bentuk perjuangan yang harus diraih oleh bangsa Indonesia  sebelum pengakuan tersebut. Pertama, perjuangan militer oleh TNI yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman atau Tan Malaka sebagai pemimpin gerakan sosial revolusioner yang bergaya Marxis. Kedua, melalui cara diplomasi yang dilakukan oleh Hatta, Syahrir dan Mohammad Roem. Dan yang terakhir, yaitu melalui pers yang menyebarkan berita ke dunia internasional tentang proklamasi kemerdekaan Negara Idonesia.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno – Hatta, berita tersebut tersebar  dengan cepat di seluruh penjuru Indonesia berkat penyiaran berita melalui tiga kantor berita yang sudah berdiri sebelum kemerdekaan, yaitu Antara, Domei dan Reuter. Antara sendiri dibentuk pada tahun 1937 oleh para pejuang kemerdekaan, seperti  A.M. Sipahoetar, Mr. Soemanag dan Adam Malik. Sedangkan, kantor berita Domei dibentuk oleh Jepang, tetapi para wartawannya ialah orang-orang dari Antara sendiri dan kantor berita Reuter merupakan bentukan Inggris. Tetapi ketiga kantor berita tersebut memiliki keterbatasan masing-masing. Jangkauannya hanya terbatas di dalam negeri saja, Domei dikontrol oleh Jepang dan Reuter berpihak pada kekuatan sekutu yang menjadi kendaraan bagi pendudukan Indonesia oleh Belanda.

Lalu sehari setelah diangkat sebagai Presiden, Soekarno membuat maklumat kepada segenap rakyat Indonesia. Intinya, dia sangat berharap kepada orang-orang di sekitarnya untuk bisa menjalin suatu hubungan yang luas dengan dunia internasional. Soekarno juga menyatakan pentingnya membentuk suatu kantor berita yang dapat menghubungkan Indonesia dengan negara-negara Asia dan Afrika. Hal tersebut bertujuan untuk mempengaruhi pikiran rakyat dan menentang segala usaha Belanda yang tetap ingin tinggal di Indonesia.

Asad Shahab salah seorang jurnalis yang hadir dalam pertemuan tersebut, berpikir bahwa dirinya dapat berbuat sesuatu seperti apa yang diharapkan Soekarno. Dia adalah seorang jurnalistik sejak 1936 yang sangat aktif dan membuatnya punya banyak jaringan hingga ke luar negeri, khususnya Timur Tengah. Pada 1938-1942, dia tercatat sebagai kontributor media berbahasa Arab, al-Mughatttan, di Mesir.

 

. Asad Shahab muda | detik.com

Bersama kakaknya, M. Dzya Shahab dan sahabatnya Husein Alhabsyi, dia membentuk kantor berita berbahasa Arab. Asad dan tim setuju menamai kantor berita tersebut dengan Arabian Press Board (APB) dan resmi berdiri 19 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya tanggal 2 September 1945. Menurut wartawan senior, Solichin Salam di koran Angkatan Bersenjata terbitan 1 September 1993, kata ‘Arabian’ sendiri sengaja digunakan untuk menarik perhatian dunia Islam serta negara-negara di Timur Tengah serta untuk mengelabui pihak Sekutu dan Belanda.

Bagi cendekiawan M. Dawam Rahardjo, sosok Asad Shahab bukan sekedar wartawan biasa. Dia sekaligus berperan sebagai diplomat yang bergaul dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia dari semua kalangan ideologi, baik nasionalis, kalangan partai Islam, sosialis, sekuler dan komunis. Di dunia Arab, Asad Shahab berkomunikasi politik dengan tokoh-tokoh seperti Presiden Tunisia Habib Bourguiba, Jamal Abdul Naseer (Mesir), Ibnu Suud dan Amir Faisal (Arab Saudi).

Tak cuma menulis artikel untuk surat kabar, Asad Shahab juga menulis puluhan buku yang semuanya diterbitkan di Lebanon sebagai pusat penerbitan buku berbahasa Arab.

“Masyarakat Timur Tengah mengenal Indonesia dan sejarah Indonesia dari buku-buku yang beliau tulis.” Jelas Jalaludin Rakhmat selaku pakar ilmu komunikasi yang juga cendekiawan muslim.

Jalaludin juga menambahkan, dari buku-buku yang ditulisnya Asad Shahab dapat disimpulkan bahwa Asad Shahab adalah seorang juru catat sejarah perjuangan Indonesia. Lelaki kelahiran Jakarta, 23 September 1910 yang pernah kuliah di bidang publisistik ini menulis soal sejarah masuknya Islam di Indonesia. Asad Shahab juga menulis soal perkembangan komunisme di Indonesia termasuk meletusnya Gerakan 30 September 1965.

Kantor berita APB sendiri tidak hanya menyiarkan beritanya dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan bahasa Arab dan Inggris. APB berjasa menyiarkan serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dibelahan negara dunia, khususnya negara-negara Arab dan Islam. Dari jasa dan perjuangan APB inilah kemudian meluas pengakuan dan dukungan atas kemerdekaan Indonesia, dari negara-negara Mesir, Saudi Arabia, Iraq, Pakistan, India, hingga Jerman, Inggris, Perancis dsb.

Asad Shahab juga dikenal sebagai salah seorang bapak pendiri bangsa Indonesia. Pasalnya, dia sangat berjasa dalam memberitakan proses perjuangan bangsa Indonesia melawan imperialisme dalam mempertahankan kemerdekaan RI dan memperoleh pengakuan kedaulatan oleh dunia internasional.

 

Kado Istimewa Bangsa Arab untuk Indonesia

 

Abdurrahman Azzam Pasya masihduduk terpekur di hadapan meja kerjanya.Raut muka Sekjen Liga Arab itu nampak serius. Di atas pelataran mejanya, berserakan dokumen-dokumen penting. Ada satu benda yang menarik perhatiannya, secarik kertas tergulung rapi: peta dunia.

Orang nomor satu di perhimpunan negara-negara Arab ini membuka gulungan peta itu. Ditatapnya lamat-lamat, matanya beredar ke sana kemari. Sambil menghela nafas, ia tak menemukan nama tempat yang dia cari: INDONESIA.

Indonesia? Di manakah negeri itu berada?Sambil menerawang peta, Azzam lagi-lagi menggelengkan kepalanya yang berbalut peci tarbus.Ia menyerah, bersandar di punggung kursinya. Di manakah negeri yang kabarnya baru merdeka?

Mengapa tak ada Indonesia dalam peta? Padahal beberapa masih ingat dalam benaknya, beberapa harian terkemuka dimesir memuat tentang kemerdekaan Indonesia.

Belum lagi, Mufti Palestina Syaikh Amin Al Husaini mengucapkan selamat kepada negeri nun di Timur sana. Masih ingat pula dalam benaknya, pengusaha kesohor Palestina M Ali Tahir menegaskan kepada para mahasiswa,” Saya serahkan seluruh harta saya untuk kemerdekaan Indonesia.”

 

Syaikh Amin Al Husseini. Sumber foto: Wikipedia

Syaikh Amin Al Husseini. Sumber foto: Wikipedia

Sejak saat itu, Azzam serius meminta laporan-laporan perkembangan Indonesia kepada para mahasiswa dan juga warga Arab yang simpati pada perjuangan Indonesia.

“Saya kumpulkan semua laporan yang masuk ke meja saya soal perang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ssekarang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta melawan Belanda.Saat itu jumlah penduduk Indonesia sekitar 70 juta jiwa,” kenang Azzam dalam Jauh di Mata Dekat di Hati, Potret Hubungan Indonesia-Mesir.

Indonesia, yang saat itu masih berjuang dalam sunyi masih belum dikenal di kancah global terus menyuarakan suara minor di tengah dunia internasional. Saat dunia membisu menatap penjajahan di Indonesia, Azzam Pasya justru semakin mendekat ke negeri yang terpisah ribuan kilometer.

“Saya akui bahwa ketika ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Liga Arab pada 1945, saya tidak tahu banyak tentang Indonesia. Pengetahuan saya mengenai Indonesia sangat terbatas.Tidak lebih dari yang saya baca dari buku-buku atau koran-koran internasional,” Azzam mengenang saat itu.

Abdurrahman 'Azzam Pasha.' Sumber foto: http://www.museumwnf.org/league-of-arab-states/?page=LAS-previous-secretary-general.php&sgid=SG1945

Abdurrahman ‘Azzam Pasha.’

Setelah membaca semua laporan yang masuk ke meja kerjanya mengenai perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, Azzam mulai memahami persoalan Indonesia dengan baik.

Hasil dari pengetahuannya mengenai Indonesia membuat Azzam terketuk hatinya untuk membantu perjuangan rakyat Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.

Kini, Azzam mendekat ke peta, ia melihat negeri dengan beragam pulau, tapi tak ada nama Indonesia di sana. Juzur al Hindi al Hulandiyyah as Syarqiyyah tertera di sana: Kepulauan Hindia Belanda Timur. Sambil tersenyum simpul, ia bersumpah akan membantu saudaranya di seberang lautan sana.

Azzam pun bersua dengan para pejabat tinggi Mesir.Secara khusus, Azzam bertemu dengan Perdana Menteri Mesir yang juga Menteri Luar Negeri Mesir, Mahmud Fahmi Nokrasyi.

”Bagaimana pendapat Yang Mulia seandainya kita memberi dukungan atas perjuangan bangsa Indonesia?” kata Azzam.

“Yang Mulia, bangsa Indonesia adalah bangsa muslim yang sedang berjuang untuk merebut kemerdekaannya kembali dari tangan penjajah Belanda. Menurut pendapat saya, kalau bangsa ini memperoleh dukungan dan bantuan sepenuhnya dari bangsa negeri-negeri Arab dan Islam, pasti sesudah merdeka mereka akan mempunyai pengaruh dan peranan dalam perimbangan kekuatan di dunia, menggantikan Jepang yang sudah menyerah kalah,” kata Azzam.

Tatapan matanya semakin mantap.Memang hanya impian, negeri itu kelak akan memiliki peranan penting. Harapan yang seolah tak masuk akal. Bagaimana mungkin, negeri yang tak diakui di mana pun kelak akan menjadi negeri yang berperan besar, khususnya untuk Islam dan kaum muslimin?

Tapi disitulah Azzam berharap. Negeri yang kini sendirian kelak tak lagi sendiri. Akan ada banyak saudara seperjuangan yang siap membantunya.

Perdana Menteri Nokrasyi tersenyum simpul.

“Tapi, Indonesia itu jauh letaknya. Indonesia berada di Timur Jauh dekat dengan Australia bukan?”

Dengan sorot mata yang tak berubah, Azzam meyakinkan.

“Yang Mulia, jarak antara kita dengan Indonesia bukan masalah.Menurut saya, Negara-negara Arab bisa menjalin hubungan yang erat dengan bangsa Indoensia yang mayoritas beragama Islam,” tegasnya.

“Jika kita memberikan bantuan kepada bangsa Indonesia dalam peperangan melawan Belanda, saya yakin mereka tidak akan lupa saat mereka merdeka nanti.Pastilah mereka akan mengingat kebaikan kita ini dan akan membantu perjuangan kita menghadapi tentara Inggris dan perjuangan membebaskan tanah Arab yang masih dalam pendudukan bangsa lain,” tegasnya.

Kedua orang itu saling menatap. Nokrasyi tak berkata apapun. Suasana mendadak hening. Sorot mata Abdurrahman mengatakan semuanya. Kelak, semoga Indonesia menjadi negeri yang tak melupakan sejarah, berjuang membebaskan bangsa lain yang masih terjajah.

“Saya yakin mereka tidak akan lupa saat mereka merdeka nanti. Pastilah mereka akan mengingat kebaikan kita ini membebaskan tanah Arab yang masih dalam pendudukan bangsa lain,”

Nokrasyi hanya berpesan agar diberikan data-data tentang Indonesia. Ia belum bisa menjanjikan apapun. Azzam pun tak berdiam diri, ia terus mendatangi pejabat-pejabat negara Arab. Secara khusus, Azzam pun mendatangi lingkungan Raja Mesir saat itu, Raja Faruq.

“Yang penting bagi saya, Raja setuju bahwa Mesir memberikan bantuan yang diperlukan oleh Indonesia.Setelah itu, saya akan menghubungi negara-negara Arab lainnya untuk memperoleh dukungan atas apa yang saya lakukan,” tegas Azzam.

Bak gayung bersambut, telepon tua di kantor Azzam pun berdering. Suara parau di balik sana sudah sangat dikenal Azzam. Ia terkaget-kaget rupanya Raja Mesir yang langsung menelepon dirinya.

“Apa yang paling diperlukan Indonesia?,” tanya Raja Faruq tanpa tedeng aling.

Selain pengakuan kedaulatan, jawab Azzam, yang paling dibutuhkan adalah senjata. Namun, jika ditambah dengan pengiriman sukarelawan dari negara-negara Arab, maka itu lebih baik.

Raja Faruk pun memberikan persetujuan.

“Seluruh senjata biar dikirim dari Mesir.Adapun sukarelawan, dikirim dari negara-negara Arab,” tegas.

Tetiba saja mata Azzam berkaca-kaca. Ia tak tahu mengapa ia menangis. Padahal, Indonesia saja baru-baru ini dia dengar. Melihatnya saja belum pernah. Menggenggam tanahnya apa lagi. Tapi entah mengapa, ada harapan yang terbesit begitu saja.

“Seluruh senjata biar dikirim dari Mesir. Ada pun sukarelawan (berperang), dikirim dari negara-negara Arab,”

Rasa yang sulit diungkapkan.Seakan saudara yang sudah lama tak bersua. Seakan begitu dekat, dekat sekali, bahwa Arab dan Indonesia saling bertaut. Aneh memang, bahkan para pemimpinnya pun tak pernah saling bertatap, tapi mengapa seakan terasa sangat dekat.Dekat sekali.

Keseriusan Azzam berlanjut pada Sidang Liga Arab pertama, sepenggal Rabu dipenghujung 1945. Untuk pertama kali dalam sejarah, sepucuk surat dari panitia Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia dibacakan di hadapan para pemimpin Arab.

Istana Qasr Za’faran menjadi saksi bahwa para negara Arab bertekad untuk membantu secara konkret kemerdekaan Indonesia. Pemimpin sidang yang saat itu Mahmud Fahmy Nokrasyi membacakan surat dari Indonesia pertama kali di hadapan para pemimpin Arab.

“Situasi di Indonesia semakin gawat. Sehubungan dengan digelarnya Sidang Liga Arab, kami menantikan dukungan konkret dari negara-negara Arab dan pengakuan terhadap Republik Indonesia yang merdeka. Kami juga mengharap Inggris tidak membantu Belanda dan tidak ikut campur urusan Indonesia.

Tertanda

Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia”

Ruangan terhentak sejenak. Isu kemerdekaan Indonesia sekejap menjadi Headline Negeri-negeri Arab. Abdurrahman Azzam tak perlu menunggu waktu lama. Segera ia menghubungi Pemerintah Inggris melalui kedutaannya di Kairo.

Ia meminta Inggris tidak membantu Belanda sehingga Inggris tidak dituduh oleh bangsa Islam dan Arab bersikap ta’ashshub (fanatik) dalam menentang kaum Muslim.

Azzam mengatakan kepada salah seorang diplomat Inggris di Kairo bahwa ia tidak akan ragu-ragu meminta negara-negara Arab untuk mengirim sukarelawan guna berjuang bersama para pejuang Indonesia.

Azzam pun segera mengumumkan jihad fisabilillah melawan Belanda dan siapa saja yang membantu Belanda. Setelah itu, Azzam menemui Raja Arab Saudi Abdul Aziz al-Saud ketika Raja itu berkunjung ke Mesir pada 16 Januari 1946.

“Yaa Thawiil al-‘Umri (Yang Mulia), di Timur Jauh ada bangsa muslim yang jumlahnya mencapai 70 juta jiwa. Mereka mengumumkan jihad melawan penjajah Belanda untuk meminta hak-haknya dan meminta hak-haknya dan meraih kemerdekaannya.” kata Azzam kepada pendiri Kerajaan Saudi ini.

Raja Saudi pertama ini meminta keterangan tambahan Azzam tentang perang kemerdekaan itu, lalu mengatakan:

“Ketahuilah, Ya Abdurrahman, bahwa saya dan negeri saya siap membantu bangsa Muslim itu!”

Azzam kemudian menjelaskan bahwa yang diminta bangsa Indonesia adalah senjata dan pengajuan masalah Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Raja Aziz al-Saud lantas menegaskan, “Ya, Abdurrahman, apapun yang mereka minta, saya siap melakukannya.”

Pertemuan berakhir dengan kesepakatan bahwa pengiriman senjata menjadi tanggung jawab Mesir, sedangkan biaya pengangkutan senjata menjadi tanggung jawab Arab Saudi.

Setelah mendapat dukungan dari para Raja kerajaan Arab, Azzam pun bertekad untuk segera mengirimkan bantuan kepada Indonesia.Ditatapnya lamat-lamat peta  di hadapanya. Ia tuliskan nama Indonesia.

“Harus..harus ada perwakilan liga Arab yang datang langsung ke Indonesia,” gumannya. Ia pun bertekad mengutus perwakilan bangsa Arab datang menyatakan dukungannya kepada Indonesia.Sebuah kado, kado istimewa untuk Indonesia dari bangsa Arab.

Kelak sejarah akan mencatat bagaimana perwakilan Liga Arab, M Abdul Mun’im menembus blokade, bertaruh nyawa, menyelusup ke negeri ini menyampaikan segenggam pesan sederhana: Negeri Ini Tidak Sendiri Bung!

Berbilang tahun, tak ada lagi kesendirian. Namanya tercetak gagah di peta-peta dunia. Tak sulit lagi menemukan Indonesia. Kado yang begitu istimewa dari Arab. Namun, berpuluh tahun kemudian, masih ada amanat yang belum tertunai.

Harapan Azzam akan negeri ini. Harapan akan perannya suatu saat kelak, membebaskan negeri-negeri terjajah. Negeri-negeri yang nun jauh di sana, yang mungkin masih berpeluh dalam kesendirian. Semakin tergerus waktu, namanya bahkan dari peta dunia menghilang berganti nama lain.

Sejarah seakan berulang. Akankan negeri ini mengingat ketika masih dalam kesendirian? Ketika satu persatu tangan terulur lembut.

Hari ini, kita menyaksikan berkumpulnya para pemimpin dunia Islam dalam KTT Luar Biasa OKI di negeri ini. Negeri yang dulu bahkan tak ada namanya dalam peta.Negeri yang dulu berjuang dalam sunyi.

Akankah ada kado istimewa untuk Palestina? Atau mereka lupa dengan para pendahulunya?

“Seluruh senjata biar dikirim dari Mesir.Ada pun sukarelawan (berperang), dikirim dari negara-negara Arab,” tegas Raja Faruq.

Biar sejarah yang akan mencatatnya…

 

Tulisan ini hanyalah cerita pendek yang dihimpun dari data-data tercecer yang dapat dipertanggungjawabkan:

Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, M Zein Hassan

Jauh di Mata Dekat di Hati, Potret Hubungan Indonesia-Mesir.Tim Kedubes Indonesia untuk Mesir, ed. AM Fachir

 

Bintang Mahaputra Adipradana untuk Tokoh Pejuang A.R. Baswedan

25 October 2017   by admin

Ada satu hal yang terlewatkan dalam Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan RI di Istana Negara oleh Presiden SBY tahun ini. Tanggal 13/8/13 yang lalu pemerintah memberikan Bintang Tanda Jasa kepada sejumlah tokoh yang dinilai telah memberikan jasa kepada Negara melalui Keppres no. 57/TK/2013. Dari 11 penerima Bintang Mahaputra Adipradana, — tanda penghargaan tertinggi diantara penghargaan lainnya yang diberikan pada hari itu�ada satu nama yang layak dibicarakan, yakni almarhum Abdul Rahman Baswedan (1908-1986) selaku tokoh pejuang dari D.I. Yogyakarta. Bintang Mahaputra Adipradana adalah tanda kehormatan yang diberikan Presiden kepada seseorang yang dinilai mempunyai jasa besar terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Hadir menerima penghargaan selaku wakil keluarga Baswedan adalah putranya: Dr Samhari Baswedan dan cucunya: DR Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina). Mereka berdua didampingi pihak pengusul (Yayasan Nabil), yakni Bapak Eddie Lembong dan Ibu Melly Saliman.

Siapakah A.R. Baswedan? Ia adalah seorang Nation Builder (Pembangun Bangsa) berlatar belakang keturunan Arab, yang sejak semula memiliki cita-cita meng-Indonesia. Untuk itu, tanggal 4 Oktober 1934 Baswedan dan kawan-kawannya menyelenggarakan �Sumpah Pemuda Keturunan Arab�, yang menegaskan bahwa tanah air peranakan Arab adalah Indonesia. Di masa pergerakan nasional, Baswedan berjuang secara politik melalui Partai Arab Indonesia (PAI) yang didirikannya di tahun 1934, sebagai hasil dari interaksinya dengan Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa Indonesia (1932) yang pro pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Baswedan juga salah satu Founding Father (Bapak Bangsa) Republik Indonesia, karena keikutsertaannya dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), badan yang merancang Undang-undang Dasar 1945. Ia diangkat sebagai Menteri Muda Penerangan dalam Kabinet Syahrir III (1946-1947). Terakhir, di bidang diplomasi, Baswedan juga turut memperjuangkan pengakuan diplomatik yang pertama dari Kerajaan Mesir di tahun 1947. Dengan berani ia menyelundupkan dokumen perjanjian diplomatik yang amat penting itu melewati penjagaan Belanda dan menyerahkannya kepada Presiden Soekarno.

Membaca sumbangsih Baswedan yang luarbiasa di atas, Yayasan Nabil merasa terkejut ketika menemukan kenyataan, bahwa hingga hari ini belum ada Pahlawan Nasional dari golongan keturunan Arab! Atas dasar-dasar pertimbangan di atas, Yayasan Nabil tanpa ragu-ragu mengusulkan Almarhum A.R. Baswedan menjadi Pahlawan Nasional. Pengusulan ini telah melewati kajian secara ilmiah melalui rangkaian tiga Seminar Nasional di tahun 2011 yakni di Universitas Airlangga (Surabaya); Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Jakarta), seperti yang sudah dilaporkan dalam Nabil Forum III (Juli 2011). Alangkah indahnya, bila Baswedan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, maka semakin cantik dan berwarna-warnilah taman bunga kebangsaan Indonesia. Apalagi sejak tahun 2009 sudah ada Pahlawan Nasional dari golongan Tionghoa, yaitu alm. Laksamana Muda TNI AL (Pur.), John Lie, yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional dari daerah Sulawesi Utara, antara lain karena usulan dari Yayasan Nabil. Walaupun cita-cita menjadikan Abdul Rahman Baswedan sebagai Pahlawan Nasional belum berhasil, namun Yayasan Nabil tetap berkomitmen untuk terus turut serta dalam proses Nation Building Indonesia, termasuk menghargai mereka yang berjasa pada bangsa ini tanpa memandang asal-usulnya. ***

Salim Ali Maskati, Perintis Kemerdekaan Yang Terlupakan

“Siapa lagi kalau bukan kita sendiri.
Dengan demikian sejarah akan mencatat nama kita,
sehingga akan menjadi suri teladan bagi generasi berikutnya”
(Salim Ali Maskati)

Berbicara mengenai kesadaran berbangsa Indonesia pada golongan Keturunan Arab di Indonesia, maka mau tidak mau kita akan menemukan perjuangan Partai Arab Indonesia (PAI), dengan Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada tanggal 4 Oktober 1934, di Semarang dimana mereka secara sadar mengakui bahwa Indonesia-lah tanah air mereka. Dan berbicara mengenai PAI, kita sering mendengar nama AR Baswedan sebagai tokoh pendiri PAI, sudah banyak tulisan dan buku yang menulis mengenai sosok AR Baswedan ini dan sepak terjangnya.

Tetapi sebenarnya PAI bukanlah hanya AR Baswedan sendiri. PAI bukan milik AR Baswedan sendiri. Pejuang dan Perintis Kemerdekaan dari golongan Arab bukan hanya Baswedan seorang. Masih banyak sosok lain yang sebenarnya memiliki andil yang cukup besar di dalamnya. Salah satunya adalah Salim Ali Maskati (SAM). Sayangnya masih sangat terbatas referensi yang bisa kita gali mengenai almarhum. Tulisan ini merupakan salah satu ikhtiar awal untuk mengumpulan “memori sejarah” yang terserak dan terlupakan selama ini.

Sangat sedikit informasi yang kita ketahui mengenai sosok Salim Maskati ini, selain beliau merupakan salah seorang dari Perintis Kemerdekaan RI dan merupakan wartawan Indonesia keturunan Arab yang pertamakali, seperti disebutkan oleh AR Baswedan bahwa Almarhum Salim Maskati ini merupakan salah satu dari pribadi yang memiliki “peran” didalam perjalanan lahirnya sosok AR Baswedan sebagai salah satu seorang terdekat didalam perjalanan hidup dan karir AR Baswedan.

Salim Maskati ini aktif di dalam mendirikan PAI bersama dengan AR Baswedan dan didalam perjuangan PAI ia tercatat sebagai Penulis II, secara lengkap kepengurusan PAI awal tahun 1934 adalah sebagai berikut :

Ketua                    :  AR Baswedan
Penulis I               : Nuh Alkaf
Penulis II             : Salim Maskati
Bendahara           : Segaf Assegaf
Komisaris            : Abdurrahim Argubi

Tokoh PAI lainnya adalah Hamid Algadri, Ahmad Bahaswan, HMA Alatas, HA Jailani, Hasan Argubi, Hasan Bahmid, A. Bayasut, Syechan Shahab, Husin Bafagih, Ali Assegaf, Ali Basyaib, dll.

Tetapi siapakah sebenarnya almarhum ini ?

Salim Maskati ini lahir di Surabaya pada tahun 1907 dan menurut penuturan AR Baswedan sendiri dalam rekaman kaset wawancara dengan Chaidir Anwar Makarim. Walaupun lahir di Surabaya tetapi almarhum berasal dari daerah Palembang.

Dalam usia yang masih sangat muda yaitu 18 tahun (tahun 1925) ia aktif dalam pergerakan politik bersama PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia). Pada waktu itu ia diserahi Wondoamiseno (lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 1891 – meninggal pada tahun 11 Desember 1952, seorang tokoh PSII dan juga mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia pada Kabinet Amir Syarifudin I – red.) untuk menerbitkan sebuah surat kabar “Perdamaian” sebagai sebuah media yang membawakan suara PSII. Harian tersebut dicetak di rumah kediaman Wondoamiseno sendiri. Dan dari sinilah, perkenalan awal dengan sebuah dunia jurnalistik telah meninggalkan kesan mendalam di dalam kehidupannya sehingga Salim Maskati memiliki cita-cita untuk memiliki sebuah percetakan sendiri. Dan pada tahun 1927 dari hasil penjualan rumah warisan orang tuanya, Maskati membeli sebuah percetakan yang kemudian digunakan untuk menerbitkan sebuah surat kabar “Lembaga Baroe”. Surat kabar yang diterbitkan secara perorangan, sebagaimana “Perdamaian” yang diterbitkan sebagai usaha untuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan masyarakat.

Hal tersebut merupakan sebuah langkah “idealis” yang progresif, sekaligus berani dan nekat karena pada masa masanya, ketika seseorang memutuskan untuk menghabiskan hartanya untuk membeli sebuah percetakan dan ikut di dalam usaha menyebarkan ide ide perjuangan, daripada pilihan untuk berdagang dan mengejar keuntungan finansial semata selayaknya golongan keturunan Arab pada masa itu.

Dimana kemudian AR Baswedan bersama saudaranya, Ahmad Baswedan membeli percetakan milik Maskati tersebut (Percetakan Al-Hambra) dan kemudian pada waktu itu diserahkan kepada MBA Alamudi sebagai tokoh IAV (Indo-arabische Verbond) untuk mencetak dan menerbitkan jurnal Al Jaum sebagai media.

Maskati ini disebut sebut sebagai wartawan Indonesia pertama dari golongan keturunan Arab, ia bahkan diakui sebagai merupakan mentor awal dari AR Baswedan dalam bidang tulis menulis atau jurnalistik, diceritakan oleh Hoesin Bafagih didalam sebuah pengantar untuk profil AR Baswedan selaku ketua PAI didalam majalah Aliran Baroe No. 6 Januari 1939 Th II: Ketika pada masa tahun 1920, dimana generasi muda keturunan Arab, baik dari golongan Al-Irsyad dan Ar-Rabithah, keduanya mulai timbul semangat pemberontakan terhadap kelompok tua atau golongan Totok (Wulaiti) yang menurut mereka dipandang sebagai halangan bagi arah kemajuan di dalam mengikuti perobahan zaman, dan lahirlah majalah “Zaman Baroe” dimana Hoesin Bafagih dan Salim Maskati merupakan pemimpin redaksinya. Dan pada waktu itu Baswedan sangat bersemangat untuk ikut menulis di dalam penerbitan tersebut tetapi belum bisa diterima oleh kedua pemimpin redaksi itu.

Surat Kabar Zaman Baroe tersebut diteruskan sendiri oleh Maskati yang menjadi media penyiaran dari Al-Irsyad dan kemudian setelah penerbitan tersebut mati, dilanjutkan denganLembaga Baroe, dimana Baswedan mulai ikut aktif membantu Salim Maskati dan ikut mengisi menulis dengan nama alias Bin Auff al Asrie. Mulai saat itulah kepiawaiannya menulis dan mengarang berita tersalurkan dan semakin berkembang ke arah jurnalisme professional.

Maskati yang pada awalnya merupakan mentor Baswedan akhirnya menjadi sahabat dekat dari AR Baswedan dan bahkan Maskati menulis sebuah tulisan mengenai sosok AR Baswedan yaitu AR Baswedan Boeah Pikiran dan Andjoerannja (Soerabaja 1939).

Setelah PAI dibubarkan dan anggotanya dibebaskan untuk meleburkan diri di dalam partai-partai nasional yang ada, Salim Maskati masuk dalam keanggotaan PNI (Partai Nasional Indonesia) di Malang dan kemudian menjadi Ketua II Dewan Daerah Jamiatul Muslimin Jawa Tengah.

Penghargaan sebagai Perintis Kemerdekaan

Pada tahun 1981, Salim Maskati mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan tepat pada usianya yang ke 74. Perintis Kemerdekaan merupakan sebuah penghargaan oleh Pemerintah RI, ditujukan bagi mereka yang telah berjuang mengantarkan bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan, diakui dan disahkan sebagai Perintis Kemerdekaan dengan Surat Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia. Salah satu kriterianya adalah mereka yang telah  menjadi pemimpin pergerakan yang membangkitkan kesadaran kebangsaan /  kemerdekaan. Dan Salim Maskati merupakan salah satu dari golongan tersebut.

Pada awalnya bukanlah niat almarhum untuk “meminta” penghargaan tersebut kepada pemerintah atas segala jasa perjuangan dan pengorbanannya, hanya saja waktu itu ia mendapatkan dorongan dari kedua sahabatnya yaitu AR Baswedan dan Doel Arnowo. Didalam acara tasyakuran atas penghargaannya tersebut di Ketapang Besar 28 Surabaya, almarhum mengatakan:

“Sesungguhnya tidak terlintas dalam hati saya bahwa saya telah menerima suatu hadiah yang begitu tinggi nilainya. Padahal saya hanyalah seorang petugas lapangan di tengah gemuruh perjuangan menuju kemerdekaan. Apa yang saya lakukan adalah tugas yang wajar sebagai seorang warga negara yang bertanggung jawab”.

Menurut Penuturan Ustadz Helmi Gana (tokoh Keturunan Arab Surabaya yang sering berdiskusi dengan almarhum selama hidupnya); karena jasa dan pengabdiannya sebagai Perintis Kemerdekaan, setiap tanggal 17 Agustus, Walikota Surabaya selalu menyempatkan untuk mengunjungi kediamannya di Surabaya, bahkan setelah wafatnya. Sebagai bukti penghargaan dan apresiasi pemerintah terhadap jasa-jasanya.

Salim Maskati sempat tinggal di jalan Nyamplungan Gang II No 39 dan pada akhir hidupnya almarhum hidup dengan sangat sederhana, ia hidup dari penghasilan pensiunan sebagai Perintis Kemerdekaan sebesar Rp. 62 ribu dan dibantu dengan penghasilan istrinya sebagai seorang penjahit.

Salim Maskati ini merupakan seorang jurnalis dan penulis aktif, namun sayang banyak hasil karyanya yang sampai sekarang belum ditemukan. Beberapa dari tulisannya yang ada antara lain :

  1. Indonesia Tumpah Darahku, Naskah Biografi yang diketik di Surabaya 1982
  2.  AR Baswedan Boeah Pikiran dan Andjoerannja, Soerabaja 1939

Selesai

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2018 in Uncategorized

 

JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!! (2)

Bangsa Besar adalah bangsa yang tidak lupa dengan sejarahnya                       Pernyataan DR. MOHAMMAD HATTA (Wakil Presiden Pertama RI) tentang Keturunan Arab Indonesia

Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab 1934, yang berisikan:

  1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia,
    2. Karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi).
    3. Memenuhi kewajibannya terhadap Tanah Air dan bangsa Indonesia,

adalah TEPAT SEKALI.

Dengan sumpah ini, yang ditepati pula sejak itu dalam perjuangan nasional Indonesia menentang penjajahan sambil ikut dalam organisasi GAPI, dan kemudian lagi ikut dalam peperangan Kemerdekaan Indonesia dengan laskarnya dengan memberikan kurban yang tidak sedikit, ternyata bahwa Pemuda Indonesia Keturunan Arab, benar-benar berjuang untuk kemerdekaan Bangsa dan Tanah Airnya yang baru.

Sebab itu TIDAK BENARapabila warga negara keturunan Arab disejajarkan dengan W.N.I. keturunan Cina. Dalam praktik hidup kita alami juga banyak sekali W.N.I. turunan Cina yang pergi dan memihak kepada bangsa aslinya: RRC. Warga negara keturunan Arab boleh dikatakan tidak ada yang semacam itu. Indonesia sudah benar-benar menjadi Tanah Airnya.

Sebab itulah SALAH BENAR, apabila kedua macam WNI itu disejajarkan dalam istilah “NON-PRIBUMI”.

Jakarta, 24 November 1975.

MOHAMMAD HATTA

CATATAN:
Surat asli ini ada pada AR BASWEDAN (Yogyakarta), Perintis Kemerdekaan RI.

Presiden Soekarno dan Keturunan Arab

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO KEPADA PEMUDA KETURUNAN ARAB

Saudara-saudara bangsa Indonesia toeroenan Arab!

Saja mengarti djiwa saudara-saudara, dan mengetahoei oesaha saudara-saudara sebagai poetera-poetera Indonesia.

Saudara-saudara mentjintai saja sebagai bapak. Saja poen mentjintai saudara-saudara sebagai anak-anakkoe, sebagaimana saja djoega mentjintai tiap-tiap poetera dan poeteri Indonesia.

Landjoetkanlah oesahamoe dengan seichlas-ichlasnja dan sedjoedjoer-djoedjoernja. Dan dengan djalan mendidik diri sendiri serta mendidik kalangan Arab seoemoemnja, soepaja dapat menjamboet masa perdjoangan baroe ini dengan sebaik-baiknja.

Dengan demikian, ajah-ajahmoe kelak nistjaja akan lebih mengarti akan djiwamoe, sehingga kamoe dan mereka sekalian akan dapat memberikan soembangan yang semoelia-moelianja oentoek Tanah Air, Bangsa dan Negara kita.

Saja membenarkan apa jang soedah dinjatakan oleh saudara A.R. Baswedan tempo hari, bahwa kamoelah sendiri jang haroes menentoekan pandangan hidoepmoe. Boekan orang dari loear! Salah benar, kalau nasibmoe kamoe pergantoengkan kepada toentoetan orang loear. Karena, kamoe sendirilah jang dapat mengarti perasaanmoe, djiwamoe, keboetoehanmoe, hari kemoedianmoe, dan hari kemoedian anak-tjoetjoemoe.

Dengan pertjaja pada dirimoe sendiri Insja Allah Toehan akan memberkati perdjoeanganmoe.

SOEKARNO

Djokjakarta, 29-3-1947

 

Amanat Presiden Soekarno

 

HUSEIN MUTAHAR, Penyelamat Bendera Pusaka

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya langsung ke Yogyakarta, ibukota Republik Indonesia saat itu. Nasib Republik yang baru tiga tahun merdeka ada di ujung tanduk. Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta pun dikepung oleh pasukan penjajah itu.

Dalam situasi genting itu, Presiden Soekarno lalu memanggilMayor Husein Mutahar, seorang keturunan Arab yang menjadi ajudan kepercayaannya. Soekarno menugaskan Mutahar untuk menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih, hasil karya Ibu Fatmawati Soekarno, yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Bendera Pusaka itu simbol negara yang tidak boleh jatuh ke tangan penjajah Belanda.

Bung Karno pun memanggil Husein Mutahar ke kamarnya, sementara beliau sendiri tidak tahu nasib apa yang bakal menimpanya. “Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga Bendera kita dengan nyawamu! Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkan, engkau harus mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapapun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan Bendera ini, percayakan tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkan ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya. Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu,” perintah Bung Karno seperti yang tertulis dalam buku BUNG KARNO, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.
Mutahar terdiam. Ia memejamkan matanya dan berdoa. Sementara bom berjatuhan di sekeliling Gedung Agung. Tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota. “Tanggung jawabnya sungguh berat,” kata Bung Karno dalam buku itu.

Lelaki kelahiran Semarang ini akhirnya memecahkan kesulitan itu dengan mencabut benang jahitan yang memisahkan kedua belahan dari bendera itu. Dibantu oleh Ibu Perna Dinata, benang jahitan yang menyambung warna merah dan putih Bendera Pusaka itu berhasil dipisahkan.

Hal itu terpaksa dilakukan karena kalau Belanda memergoki ia membawa bendera merah putih pasti ia akan dieksekusi karena dianggap Republiken anti-Belanda, dan Bendera Pusaka itu pun bakal disita. Ia yakin, setelah kedua kain itu dipisahkan maka tak bisa lagi disebut bendera, karena hanya berupa dua carik kain merah dan putih.

Setelah berhasil dipisahkan menjadi dua, Husein Mutahar pun memasukan dua kain merah dan putih itu ke dalam dasar dua tas miliknya, yang kemudian dijejali seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya.

HUSEIN MUTAHAR

Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta akhirnya memang ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Dan, Husein Mutahar juga ditangkap bersama beberapa staf Kepresidenan lainnya, diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Namun, saat menjadi tahanan kota, Husein Mutahar berhasil melarikan diri ke Jakarta dengan naik kapal laut.

Di Jakarta, Mutahar menginap di rumah R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kapolri pertama). Di sini ia terus mencari informasi bagaimana caranya dapat segera menyerahkan Bendera Pusaka kepada Presiden Soekarno.

Akhirnya, pada pertengahan 1949, Husein Mutahar menerima pemberitahuan dari Soedjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jl. Diponegoro) Jakarta, bahwa ada surat pribadi dari Presiden Soekarno untuknya. Mutahar pun ke rumah Soedjono, mengambil surat itu. Ternyata benar berasal dari Presiden Soekarno pribadi. Isinya adalah perintah kepadanya agar menyerahkan Bendera Pusaka yang ia bawa kepada Soedjono. Bendera itu selanjutnya akan dibawa Soedjono ke Bangka (Muntok) untuk diserahkan kepada Presiden Soekarno.

Presiden Soekarno tidak memerintahkan Husein Mutahar datang ke Bangka untuk menyerahkan sendiri Bendera Pusaka langsung kepada beliau, tetapi lewat Soedjono. Sebab, tak semua orang bebas mengunjungi tempat pengasingan Presiden. Presiden Soekarno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Nations Committee for Indonesia), dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu. Sementara Husein Mutahar bukan anggota delegasi.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, maka dengan meminjam mesin jahit milik seorang istri dokter, Bendera Pusaka yang sudah terpisah menjadi dua lembar itu dijahit kembali oleh Husein Mutahar, persis di lubang bekas jahitan aslinya. Namun, ada kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujung bendera. Selanjutnya Bendera Pusaka ini dibungkus dengan kertas koran dan diserahkan kepada Presiden Soekarno oleh Soedjono.

Pada 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa kembali Bendera Pusaka. Dan pada 17 Agustus 1949, Bendera Pusaka kembali dikibarkan di Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta, lalu tahun berikutnya di Istana Merdeka, Jakarta.

Sebagai penghargaan atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka, Pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada Husein Mutahar pada tahun 1961, yang disematkan langsung oleh Presiden Soekarno.

Husein Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 5 Agustus 1916. Setelah menempuh pendidikan dasar di ELS, yang dilanjutkan ke MULO dan AMS, ia kemudian menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, meski hanya selama dua tahun (1946-1947) karena harus berjuang. Selepas dari MULO (1945), Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta (1947).

Karirnya kemudian berpindah-pindah ke beberapa departemen, mengikuti perintah Presiden Soekarno. Salah satu puncaknya adalah saat ia diangkat menjadi Duta Besar RI di Vatikan (1969-1973). Ia menguasai paling tidak enam bahasa secara aktif. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974).

Bapak Paskibraka, Tokoh Pramuka Indonesia, dan Komponis Besar

Di luar perannya yang besar dalam penyelamatan Bendera Pusaka, Husein Mutahar dikenal sebagai komponis musik, tokoh kepanduan dan Bapak Paskibraka.

Sebagai komponis, ia menciptakan beberapa lagu nasional dan anak-anak. Lagu nasional ciptaannya yang populer adalah Mars Merdeka dan hymne Syukur. Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku, bahkan menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan lagu anak-anak ciptaannya, antara lain adalah: “Gembira”, “Tepuk Tangan Silang-silang”, “Mari Tepuk”, “Slamatlah”, “Jangan Putus Asa”, “Saat Berpisah”. Ia juga pencipta “Hymne Pramuka”.

Di bidang kepanduan, Mutahar dikenal sebagai salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, sebuah gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis dan anti-komunis. Dan ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya.

Husein Mutahar juga dikenal sebagai Bapak Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), karena beliau lah yang mendirikan dan membina Paskibraka. Sebagai salah seorang ajudan Presiden, Mutahar diberi tugas oleh Presiden Soekarno untuk menyusun upacara pengibaran bendera ketika Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun pertama kemerdekaan, 17 Agustus 1946. Pada saat itu, ia memilih lima anak muda (tiga pemuda dan dua pemudi) yang tinggal di Yogyakarta tapi berbeda asal daerahnya untuk mengibarkan Sang Saka.

Pada tahun 1967, Presiden Soeharto meminta Husein Mutahar untuk menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Saat itu Mutahar menjabat sebagai direktur jenderal urusan pemuda dan Pramuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hasilnya adalah seperti yang kita lihat setiap tahun dalam upacara Peringatakan Proklamasi 17 Agustus, yaitu pengibaran bendera oleh satu pasukan yang terdiri dalam tiga kelompok: Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu, Kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera, dan Kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Husein Muhahar selama hidupnya tidak pernah menikah. Ia meninggal dunia di Jakarta pada 9 Juni 2004 di usia 88 tahun. Meski beliau berhak dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948-1949, tapi beliau tidak ingin itu. Sesuai dengan wasiat beliau, akhirnya beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan.*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2018 in Uncategorized

 

JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!! (1)

 

Sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki hubungan dengan Arab Saudi. Kenyataannya, hubungan antara dua negara ini semakin erat. Kita dan Arab Saudi  saling memberi dan menerima jasa dari satu sama lain, tidak pernah ada habisnya dan terus berkembang. Misalnya saja, sebagian besar devisa Arab Saudi berasal dari masyarakat Indonesia yang melaksanakan ibadah haji dan umroh, sebaliknya meeka membuka banyak lapangan kerja di sana bagi pekerja asal Indonesia, Indonesia mengekspor minyak dari sana, dan berbagai kerja sama lainnya.

Hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi berawal dari kedatangan pedagang dan ulama Indonesia pada abad ke-13. Kemudian pada awal abad ke-20, rakyat Indonesia mulai melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Jumlah umat muslim Indonesia yang melaksanakan ibadah haji pun terus meningkat setiap tahunnya. Hingga akhirnya pada tahun 1950 mereka resmi melakukan hubungan diplomasi. Sejak saat itu, Arab Saudi menjadi sahabat Indonesia yang tidak segan dalam memberi.

Mengakui Kemerdekaan Indonesia

 

[Image Source]Arab Saudi memang tidak berperan secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun mereka adalah salah satu negara yang segera mengakui kemerdekaan bangsa kita. Ini sangat berarti karena jika tidak ada yang mau mengakui kemerdekaan Indonesia, bisa jadi penjajah merasa bahwa kepulauan ini masih milik mereka. Saat itu nama Indonesia belum ada dalam peta, masih berupa kepulauan tanpa nama. Mendengar ada saudara muslim yang tengah memperjuangan kemerdekaan di sini, mereka pun memberikan dukungannya bersama negara-negara Islam yang lain.

Bantuan Saat Bencana

Kargo berisi bantuan untuk korban gempa dari Arab Saudi [Image Source]Masih ingat dengan bencana besar Tsunami yang menghantam Aceh hingga seluruh Indonesia berduka? Dalam situasi yang terpuruk itu, negara yang sigap membantu adalah Arab Saudi. Kucuran dana, bantuan sosial hingga support di bidang infrastruktur sangat menolong Aceh yang tengah lumpuh saat itu. Arab Saudi adalah salah satu negara yang sering memberikan bantuan bilamana Indonesia

Menampung 1,3 Juta TKI

Alm. King Abdullah membebaskan beberapa TKI yang akan dihukum mati [Image Source]Apa jadinya jika Arab Saudi tidak mau menerima pekerja asal Indonesia?  Meskipun beberapa kebijakan mereka bikin batin kita nyut-nyutan karena hukuman mati yang dijatuhkan pada beberapa pekerja Indonesia, tapi kita tetap harus berterima kasih karena mereka turut berperan dalam kesejahteraan rakyat Indonesia. Terutama para pahlawan devisa negara, yang notabene berasal dari kalangan rakyat kelas bawah. Lagipula, hanya sedikit sekali pekerja yang terjerat kasus hukum. Sebagian besar lainnya bekerja di sana dengan aman dan sejahtera.

Beasiswa pada Pelajar Indonesia

Mahasiswa Indonesia di Arab Saudi [Image Source]Selama beberapa tahun terakhir, Arab Saudi telah mengirimkan sejumlah pengajarnya ke Indonesia. Mereka juga membuka beasiswa bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke sana. Sejumlah universitas ditunjuk untuk mnerima pelajar Indonesia yang dibiayai pemerintah Arab Saudi seperti Universitas Sains dan Teknologi King Abdullah, Universitas King Abdul Aziz, dan Universitas Umm Al-Qura.

Baru-baru ini Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Arab Saudi menambah kuota haji dari Indonesia. Ini untuk membantu umat muslim yang harus mengantre lama demi dapat menginjakkan kakinya di tanah suci.

Sejak jaman Soekarno, Indonesia dan Arab Saudi memang menjalin hubungan baik. Selain karena warganya sama-sama mayoritas pemeluk agama Islam, juga karena kontribusi satu sama lain yang menguntungkan.

 

https://i0.wp.com/arabindonesia.com/wp-content/uploads/2015/08/Rumah-Bung-Karno-Jl-Pegangsaan-Timur-56-Jakarta.jpg

Faradj Martak dan Rumah Proklamasi Kemerdekaan

FARADJ MARTAK DAN RUMAH PROKLAMASI

BUNG KARNO Membacakan Teks Proklamasi di di rumah beliau, di Jl. Pegangsaan Timur 56, yang dibelikan Faradj Martak

Sudah puluhan tahun berlalu sejak Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di rumah kediaman beliau di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Tapi, nyaris tak ada yang tahu: siapa yang membelikan rumah tersebut untuk menjadi kediaman Bung Karno?

Rumah bersejarah yang menjadi tonggak awal berdirinya negara Republik Indonesia ini ternyata dibeli oleh seorang saudagar besar keturunan Arabbernama Faradj bin Said Awad Martak, President Direktur N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Marba.

Rumah di Jl. Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta yang kemudian menjadi rumah bersejarah Bangsa Indonesia, rumah yang pernah di huni oleh Presiden pertama republik ini, rumah yang kemudian dijadikan tempat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, ada dan resmi menjadi milik Bangsa Indonesia adalah berkat usaha dan jasa besar Faradj bin Said Awad Martak, President Direktur N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Marba.
Surat Penghargaan Pemerintah untuk Faradj Martak

Atas jasanya itu, pemerintah RI kemudian memberinya ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak. Ucapan tersebut disampaikan secara tertulis atas nama Pemerintah Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1950, yang ditandatangani oleh Ir. HM Sitompul selaku Menteri Pekerdjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia.

Dalam ucapan terima kasih tersebut juga disebutkan bahwa Faradj bin Said Awad Martak juga telah membeli beberapa gedung lain di Jakarta yang amat berharga bagi kelahiran negara Republik Indonesia.

Rumah bersejarah di Jl. Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta itu sayangnya kini musnah tanpa jejak karena dirobohkan atas permintaan Bung Karno sendiri pada 1962. Di atasnya kemudian dibangun Gedung Pola, dan tempat Bung Karno berdiri bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI itu lalu didirikan monumen Tugu Proklamasi. Dan sejak itulah jalan Pegangsaan Timur berubah menjadi Jalan Proklamasi.

Faradj bin Said Awad Marta adalah saudagar terkemuka di Jakarta (dulu Batavia) sejak zaman kolonial Belanda hingga era kemerdekaan. Ia kelahiran Hadramaut, Yaman Selatan. Anaknya, yang menjadi penerus kerajaan bisnisnya dulu adalah Ali bin Faradj Martak, yang dikenal dekat dengan Bung Karno.

RUMAH BUNG KARNO di Jl. Pegangsaan Timur 56 yang dibelikan oleh Faradj Martak

Beberapa aset miliknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Salah satunya adalah Hotel Garuda, di Jogjakarta. Gedung MARBA di kota lama Semarang juga merupakan salah satu jejaknya. MARBA sendiri adalah singkatan dari Martak Badjened (Marta Badjunet), perusahaan yang dirintisnya bersama keluarga fam Badjened yang sama-sama berasal dari Hadramaut.*

BERSAMBUNG

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2018 in Sejarah

 

Fakta Pancasila yang Wajib Kita Ketahui

psila6

Tau enggak sih lo kalau hari ini, 1 Juni 2016, adalah hari kelahiran Pancasila? Mungkin sebagian besar dari lo baru tau karena belum lama ini keluar wacana bahwa tanggal 1 Juni akan menjadi hari libur nasional. Sayangnya hari ini enggak jadi libur karena baru akan diliburkan pada tahun depan.

Pasti dari lo ada yang mau banget hari ini libur kan? Tapi jangan cuma mau liburnya aja, lo sebagai warga negara Indonesia yang baik harus terus ingat kalau 1 Juni adalah hari lahirnya dasar negara kita. Nah, biar lo tau lebih jauh tentang dasar negara kita, yuk simak fakta-fakta menariknya.

  1. Pidato Bung Karno di hadapan anggota BPUPKI adalah cikal bakal terbentuknya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia
  2. Ide Pancasila lahir saat Bung Karno dalam pengasingan di Ende, NTT. Tepatnya saat beliau melihat pohon sukun.

psila8

  1. Selain Bung Karno, 2 tokoh lain yaitu M. Yamin dan Soepomo juga mengusulkan dasar negara. Namun usul “Panca Sila” Bung Karno yang pada akhirnya diterima oleh BPUPKI.supomo

 

  1. Dasar negara kita ini enggak bakal jadi kayak sekarang kalau enggak ada Panitia Sembilan yang merumuskan usul Pancasila Bung Karno. Nah jadilah Piagam Jakarta yang menjadi asal-usul Pancasila yang disetujui pada 22 Juni 1945

psila1

  1. Nah dulu bunyi sila pertama versi Panitia Sembilan itu “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam….”. Tapi pada akhirnya diganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

psila2

 

  1. Lambang Pancasila adalah hasil karya Sultan Hamid II dan telah mengalami 3 kali mengalami perubahan desain hingga menjadi lambang yang sekarang lo kenal.

psila3

  1. Burung Garuda dipilih menjadi lambang pancasila karena sering muncul di berbagai dongeng zaman dulu sebagai lambang kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin.

psila4

  1. Tapi lo tau enggak selain lambang Garuda versinya Sultan Hamid II, sempat ada kandidat lambang lainnya yang didesain oleh Moh. Yamin namun ditolak karena penggunaan matahari dianggap kejepang-jepangan.

psila5

 

  1. Peringatan hari lahir Pancasila dimulai sejak 1964. Tapi sejak 1970 pemerintah berhenti merayakannya hingga kembali diperingati lagi pada 2010.

psila6

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2017 in Uncategorized

 

Kasus Penistaan Agama 1918, HOS Cokroaminoto Pun mendemo pemerintah Hindia Belanda, dan Sunan Surakarta,

Ketika 1918, Kasus Penistaan Agama, HOS Cokroaminoto Pun Bentuk Pasukan 35.000 Orang

  • demo

DEMO MUSLIMIIN NUSANTARA MENUNTUT KEADILAN TERHADAP KELAKUAN PENGHINA ROSULULLOH DI JAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Pada awal Januari tahun 1918, surat kabar harian bernama “Djawi Hisworo” pernah muncul suatu artikel yang berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad, shollollohu ‘alaihi wasallam. Artikel tersebut ditulis oleh Djojodikoro, dan berjudul “Pertjakapan Antara Martho dan Djojo”.

Artikel itu memuat kalimat bertuliskan:

“Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem AVH, minoem Opium, dan kadang soeka mengisep Opium.”

Kalimat itu secara jelas menuduh bahwa Nabi – shollollohu ‘alaihi wasallam – adalah pemabuk, dan suka mengkonsumsi Opium.

Sontak, artikel tersebut mendapat reaksi besar dari masyarakat Muslimiin Nusantara di waktu itu.

Salah satu tokoh Islam, yaitu H.O.S Tjokroaminoto – Pahlawan Nasional RI – bahkan segera membentuk organisasi bernama Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM).

Struktur TKNM ini terdiri dari:

Ketua: HOS (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto
Bendahara: Syekh Roebaja bin Ambarak bin Thalib

Sekretaris: Sosrokardono

Setelah dibentuk, TKNM menyeru kepada masyarakat Indonesia untuk menghadiri perkumpulan besar yang berlokasi di Kebun Raya Surabaya, pada tanggal 6 Februari 1918.

Perkumpulan ini diadakan sebagai sikap kaum muslim terhadap penghinaan Nabi.

Tahukah berapa kaum muslim yang ikut dalam aksi tersebut?

Diperkirakan tidak kurang daripada 35.000 orang!

Tuntutannya hanya satu, yaitu mendesak pemerintah Hindia Belanda, dan Sunan Surakarta, untuk segera mengadili Djojodikoro dan Martodarsono (pemilik surat kabar), atas kasus penistaan Nabi, shollollohu ‘alaihi wasallam.

Di waktu itu, tentu saja media tidak seperti sekarang. Tidak ada media sosial macam facebook, twitter, dan tidak ada TV. Radio pun hanya segelintir orang yang punya.

TNKM hanya bermodalkan pesan lisan dan media seleberan kertas untuk mengumpulkan massa sebesar itu.

Dan tentunya tidak ada bayaran atau Nasi Bungkus untuk mengumpulkan mereka.

Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya kemarahan masyarakat Muslim Indonesia yang mengikuti 124.000 nabi sejak awal jaman, yang diutus oleh Tuhan Yang Maha Esa, Allah, saat mengetahui Nabi mereka dihina.

cokro

Belajarlah sejarah lebih banyak lagi jika masih tidak sehat, dan mengatakan bahwa Aksi Damai Bela Qur’an yang diikuti dua jutaan manusia dari Sabang sampai Merauke, adalah upaya memecah belah bangsa.

H.O.S Tjokroaminoto adalah salah seorang Pahlawan Nasional yang tidak diragukan lagi jasanya dalam perjuangan pra-kemerdekaan Indonesia.

Jadi beranikah anda bilang H.O.S Tjokroaminoto (mentor bung Karno) adalah penebar isu SARA?

Beranikah anda bilang bahwa Guru Bangsa itu berusaha memecah-belah bangsa?

Beranikah anda bilang bahwa 35.000 massa yang berkumpul di tahun 1918 itu adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti makna toleransi?

Kalau anda berani, bisa jadi justru anda yang penebar isu SARA, andalah yang memecah-belah bangsa, dan anda mungkin sekali termasuk orang bodoh, yang tidak tahu makna toleransi.

  • ati itu menyusul ucapan para politisi dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang menyebut Aksi Bela Islam III yang akan digelar pada tanggal 2 Desember (212) merupakan aksi makar untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.

Lebih lanjut, pendiri Yayasan Pendidikan Bung Karno itu membandingkan peristiwa 1965 dan 1989 dengan tuduhan makar dari penguasa saat ini terhadap para aktivis yang mengkritik berbagai persoalan kebangsaan. Aksi 2 Desember, lanjutnya, dilakukan karena para aktivis menilai pemerintah Jokowi tidak becus menangani masalah bangsa.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 25, 2016 in Uncategorized

 

Dilingkaran Kekuasaan Perkaya Diri

Bongkaran bocoran wikileaks

harta

Bocoran Wikileaks itu dimuat dalam edisi Jumat, 11 Maret 2011, koran itu menampilkan judul besar-besar di halaman depan, “Yudhoyono ‘abused power’: Cables accuse Indonesian President of corruption.” Berita serupa juga dimuat harian utama Australia lainnya, Sydney Morning Herald.

Media The Age menulis kasus dugaan korupsi yang menyeret Kiemas itu terkait proyek-proyek infrastruktur. Menurut The Age, Kiemas diyakini telah diuntungkan oleh sejumlah proyek seperti proyek Jakarta Outer Ring Road senilai US$2,3 miliar.

The Age juga menyebut Kiemas diuntungkan oleh proyek jalur kereta api double track dari Merak sampai Banyuwangi, Jawa Timur, senilai US$2,4 miliar. Tidak hanya itu, Kiemas juga disebut terkait kasus jalur trans Kalimantan senilai US$2,3 miliar, dan proyek trans Papua yang nilainya mencapai US$1,7 miliar.

Menurut The Age, Wikileaks menulis tak lama setelah menjadi presiden pada 2004, Yudhoyono turut campur dalam penanganan sebuah kasus yang melibatkan Taufiq Kiemas. Kiemas dituding menggunakan pengaruh istrinya sebagai Ketua Umum PDIP untuk melindunginya dari tuntutan hukum berkaitan dengan sebuah kasus, yang disebut diplomat AS dalam laporannya sebagai “korupsi yang melegenda selama kepemimpinan istrinya sebagai presiden.”

Terkait tudingan ini, PDI Perjuangan menilai informasi yang dibocorkan Wikileaks sangat diragukan kebenarannya. PDI Perjuangan menyerahkan agar pemerintah merespons penuh pemberitaan yang juga menyeret Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Kami meragukan kebenarannya,” kata salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, Arif Budimanta, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Jumat 11 Maret 2011.

Arif mendesak pemerintah harus merespons resmi atas pemberitaan itu. Bagi PDI Perjuangan, kata Arief, semua informasi bocoran Wikileaks itu harus diklarifikasi terkait soal apa saja. PDI Perjuangan menilai pemberitaan bocoran Wikileaks itu bak isu perombakan kabinet atau reshuffle dan evaluasi koalisi.

“Menurut kami, tidak ada hal aneh saat Ibu Mega (menjadi Presiden). Buat apa direspons serius. Kami serahkan kepada pemerintah. Itu kan juga mengenai hubungan kedua negara, penyikapan diplomatik,” ujar politisi yang juga Ketua Megawati Institute ini.Dibalik Layar Mafia Penguasa Tambang RI

Buat anda yang akan memilih Presiden di Indonesia, kami kabarkan bahwa semua tidak akan mendukung rakyat dan hanya membela kepentingan kroni dan dinasti.Tidak ada harapan lagi untuk mempercayai manusia-manusia yang akan maju ke 2014. Setelah kalian membaca ini, berpikir ulang lah untuk memilih partai dan calon pemimpin yang selalu dibangga-banggakan baik itu di yudikatif, legislatif hingga eksekutif.
Kemana Umat Islam Indonesia ketika bangsanya di rampok?
Ini sudah benar-benar menggurita, kita semua di buat terbuai oleh segenap manusia-manusia yang katanya pintar dan mampu memimpin bangsa ini.
Pandainya mereka semua bersandiwara di depan rakyat. Di media massa hingga TV mereka pura-pura saling membenci tapi di belakang itu mereka saling menyayangi, saling berbagi, saling melindungi hingga saling menjual aset bangsa.
Untuk merubah bangsa ini,kita harus mengubah sistim. Jika tidak, maka bangsa ini akan terus menerus terpuruk. Mungkin akan hilang dari peta dunia.

1. Dominasi Maskapai-maskapai tambang AS di Nusantara, baik tambang mineral maupun tambang migas

Mulai dari perusahaan tambang tembaga-perak-emas Freeport McMoran di Papua Barat, perusahaan tambang emas Newmont di Minahasa (Sulut) & Sumbawa (NTB), perusahaan tambang migas ChevronTexaco (d/h Caltex) di Riau dan juga menguasai produksi geothermal di Jawa Barat (setelah Unocal lebur ke dalam ChevronTexaco) sampai dengan perusahaan tambang migas ExxonMobile yang sudah menguras Aceh kini diizinkan menghisap kekayaan Blok Cepu.

Kegiatan eksplorasi perusahaan-perusahaan tambang itu didukung oleh perusahaan-perusahaa­n jasa konstruksi industri migas AS, seperti kelompok Halliburton (Kellog, Brown & Root) yang bermitra dengan PT PP Berdikari milik yayasan-yayasan Soeharto, dan McDermott, yang bermitra dengan Bob Hasan, seorang kroni Soeharto.

Orang-orang Kunci di bidang Pertambangan, di luar Menteri Pertambangan dan aparat formalnya, adalah Seksi Ekonomi Kedubes AS, yang merupakan pelobi kepentingan perusahaan-perusahaa­n migas AS, yang berperan dalam alokasi konsesi migas ConocoPhillips di Celah Timor IMA (Indonesian Mining Association), lama dikuasai oleh

1. Benny Wahyu dari INCO.
2. Jantje Lim Poo Hien (Yani Haryanto), pemimpin Harita Group, kroni mendiang Presiden Soeharto (tetangga di seberang rumah Soeharto di Jl. Cendana), pemilik 10% saham dalam PT Kelian Equatorial Mining (KEM), mitra Rio Tinto & penyandang dana bagi Kent Bruce Crane, bekas operator CIA dan pemasok senjata api kecil bagi pemerintah AS dan negara-negara lain.
3. Ada lagi nama Jusuf Merukh, bergelar “Raja Kontrak Karya Emas”, pemegang saham minoritas dalam belasan kontrak karya tambang emas dari Aceh sampai dengan Maluku Tenggara; pernah dekat dengan Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto dan James Riady, boss Lippo Group yang mengfasilitasi masuknya pompa bensin Shell pertama di kompleks Lippo Karawaci.
“Kabinet SBY,kabinet indonesia bersatu sejatinya bermakna bersatu garong sumber daya alam Indonesoa” Ujar Rio dari Baretaz
Ramai ramai para kabinet indonesia bersatu garong sumber daya alam. Paling tidak tiga orang di antara segelintir decision maker ekonomi Indonesia atau keluarga dekat mereka ikut mengeruk rezeki berlimpah dari minyak dan gas bumi, sebelum mereka bergabung ke dalam Kabinet ‘Indonesia Bersatu’ pimpinan SBY.

4. Di puncak anak tangga tentunya perlu disebutkan mantan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla sendiri, yang keluarganya adalah pemilik Nuansa Group. Menantu JK, Soesanto Soepardjo, yang menikah dengan putri tertua Jusuf Kalla, Muchlisah Kalla, diserahi memimpin PT Kalla Inti Kalla Nuansa Group, salah satu investor yang tertarik menggarap sumur minyak di Blora, Jawa Tengah.

5. Di luar urusan Blok Cepu, kelompok Bukaka yang dipimpin oleh Ahmad Kalla, adik kandung sang Wakil Presiden, punya hubungan bisnis dengan salah satu raksasa migas dari AS, ConocoPhillips. Berkongsi dengan perusahaan daerah Batam, PT Bukaka Barelang Energy sedang membangun pipa gas alam senilai 750 juta dollar AS setara Rp. 7,5 trilyun untuk menyalurkan gas alam dari Pagar Dewa, Sumatera Selatan, ke Batam.

Nama perusahaannya, PT Bukaka Barelang Energy. Gas alamnya sendiri berasal dari ladang ConocoPhillips di Sumatera Selatan.

“Inilah Karnaval para artis migas..!!”

1) Karnaval ini meliputi mantan Menko Ekuin Aburizal Bakrie sekarang menjadi calon presiden dari Golkar (Golongan ingkar), mantan Menaker Fahmi Idris, dan mantan Menteri Urusan BUMN Sugiarto.

Di masa kediktatoran Soeharto, adik-adik Ical ikut membangun perusahaan-perusahaa­n perdagangan minyak anak-anak dan adik sepupu Soeharto di Hong Kong dan Singapura, di bawah nama “Mindo”, “Permindo”, dan “Terrabo”.

Setelah Soeharto dilengserkan oleh gabungan kekuatan IMF, tentara, dan gerakan mahasiswa, Ical dan adik-adiknya melepaskan diri dari kelompok Mindo itu lalu Pertamina menutup keran perusahaan-perusahaa­n tersebut.

Belum jelas apakah perkongsian antara keluarga Bakrie dan keluarga Soeharto di pabrik pipa PT Seamless Pipe Indonesia Jaya, di perusahaan perkebunan PT Bakrie Sumatra Plantations, dan di Bank Nusa, juga telah berakhir.

Sebelum era presiden Soeharto berakhir, Bakrie Bersaudara sudah berhasil membangun imperium bisnis migas mereka sendiri. Indra Usmansyah Bakrie, adik Ical, tercatat sebagai Presiden Komisaris Kondur Petroleum S.A perusahaan swasta yang berbasis di Panama.

Perusahaan itu dimiliki oleh PT Bakrie Energi, yang 95 % milik Bakrie Bersaudara dan 5% milik Pan Asia, yang pada gilirannya milik Rennier A.R. Latief, CEO dan Presdir Kondur Petroleum SA.

Di Indonesia, perusahaan ini bergerak di bawah nama PT Energi Mega Perkasa Tbk yang sejak tahun 2004 terdaftar di Bursa Efek Jakarta, dan juga dipimpin oleh Renier Latief. Perusahaan ini sekarang menjadi perusahaan migas swasta nasional kedua terbesar setelah Medco Group.

Di mancanegara, kendaraan bisnis minyak Bakrie bersaudara ini tetap bergerak dengan nama Kondur Petroleum SA, dan beroperasi di Kroasia, Uzbekistan, Yaman dan Iran. Tapi sebelumnya, sebagai operator Kawasan Production Sharing Selat Malaka (KPSSM), Kondur telah berbisnis dengan Shell, yang menampung minyak mentah itu untuk dimurnikan di Australia.

Selain di Kondur Petroleum SA, Bakrie Bersaudara juga memiliki saham dalam PT Bumi Resources Tbk, yang sedang mengalihkan usahanya dari sektor perhotelan ke pertambangan, khususnya pertambangan migas dan bahan baku enerji yang lain.

Hampir 22% saham perusahaan itu milik Minarak Labuan, maskapai minyak milik Nirwan Dermawan Bakrie, yang telah menanamkan 33 juta dollar AS di Yaman. Diversifikasi usaha itu dilakukan dengan membeli 40% saham Korean National Oil Corporation (KNOC), yang menanam 4,4 juta dollar AS dalam unit pengolahan minyak TAC Sambidoyong di Cirebon.

Selain di Indonesia, KNOC melakukan eksplorasi migas di sebelas negara lain, termasuk Libya, Afrika Selatan, Yaman, Vietnam, Venezuela, Peru dan Argentina.

Dominasi ekonomi politik Aburizal Bakrie dijamannya suharto dan megawati, walaupun sudah digeser dari Menko Ekuin ke Menko Kesra, dapat kita lihat dari alotnya penyelesaian ganti rugi bagi korban-korban lumpur PT Lapindo Brantas, yang sahamnya sebagian milik PT Energi Mega Persada. Sebagian lagi sahamnya milik kelompok Medco.

Lain lagi dengan Fahmi Idris, dia adalah anggota Grup Kodel (“Kelompok Delapan”), yang berkongsi dengan perusahaan migas AS, Golden Spike Energy. Kodel sendiri juga bergerak dalam bidang pertambangan migas, melalui anak perusahaannya, PT FMC Santana Petroleum Equipment Indonesia, yang berkongsi dengan kelompok Nugra Santana milik keluarga Ibnu Sutowo almarhum.

Dulu,sebelum perombakan di era kabinet SBY-JK yang terakhir, Sugiarto, yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Urusan BUMN, adalah mantan Direktur Keuangan PT Medco Energi Internasional Tbk, perusahaan swasta Indonesia terbesar di bidang migas, milik Arifin Panigoro dan keluarganya.

Kelompok Medco itu pada awalnya ikut berkembang karena perkongsiannya dengan besan Soeharto, Eddy Kowara Adiwinata (mertua Siti Hardiyanti Rukmana) dan salah seorang Menteri, yakni Siswono Judohusodo. Ekspansinya ke negara-negara Asia Tengah eks-Uni Soviet dilakukan dengan membonceng ekspansi pengusaha muda yang waktu itu masih termasuk keluarga Cendana, yakni Hashim Djojohadikusumo.

Sesudah berakhirnya masa kepresidenan Soeharto, manuvermanuver politik Arifin Panigoro, yang spontan mendukung gerakan reformasi, menyelamatkan kelompok bisnis ini, yang muncul sebagai penyandang dana PDI-P dan berhasil mengorbitkan Megawati Soekarnoputri ke kursi RI-1.

Setelah pudarnya bintang Megawati Soekarnoputri, Arifin Panigoro keluar dari PDI-P dan mendirikan partai baru, Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) bersama Laksamana Sukardi.

Sementara itu, Medco semakin berkembang, dan berusaha melakukan diversifikasi ke sektor pembangkitan tenaga listrik geothermal maupun tenaga nuklir, setelah berkongsi dengan Pertamina menyadap sumber-sumber migas di Sulawesi Tengah dan sedang mengambil ancang-ancang menjadi produsen migas No. 2 terbesar di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Dengan demikian, kelompok Medco dan unit-unit migas dari kelompok Bakrie, dapat digolongkan sebagai maskapai transnasional (TNC) juga.

Hatta Rajasa yang sekarang menjabat Menko perekonomian sekaligus besannya SBY, pernah menjadi eksekutif Medco (1980-3), sebelum mendirikan perusahaan konsultan manajemen, PT InterMatrix Bina Indonesia, yang bekerja sama dengan Pertamina dan perusahaan-perusahaa­n perminyakan asing.Saat ini Hatta sedang memonopoli batubara untuk PLTU di Cilegon Banten.(KPK jadi ayam sayur)

Sebagai anak Palembang, Insinyur Pertambangan lulusan ITB itu tidak asing dengan dunia perminyakan. Mertuanya salah seorang staf Stanvac, ketika Hatta jatuh cinta kepada Okke, dokter gigi yang kini sebagai isterinya.

Mantan Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) sendiri, Purnomo Yusgiantoro, adalah Wakil Pemimpin Perusahaan PT Resource Development Consultant, di mana M.S. Kaban, Menteri Kehutanan, menjadi konsultan. Entah apa bidang bisnis PT itu. Namun embelembel “resource development” jatuhnya tidak jauh dari sumber-sumber daya energi juga.

Sutan Batughana,ini juga berbisnis oil dan gas.Dimana ia menjadi Komisaris di PT Timas Suplindo.Proyek yang sedang di garong adalah Star Energy nilainya 20 jt dollar dengan mark up.Yang terbaru Lifting Platform Bravo pertamina dan ada yg udah kontrak di sulawesi nilainya sekitar 1.5 milyar dolar.

Untuk sang anak presiden,Ibas,jangan kita tanyakan,perusahaannya banyak di segala bidang.Sebagai tambahan saja,ibas juga berbisnis oil dan gas melalui perusahaannya bernama Swiber bergerak di penyewaan kapal pengangkut oil dan gas.Dia juga merangkap menjadi komisaris

So,bagaimana dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri?

Kedekatan SBY dengan Letjen (Purn.) T.B. Silalahi, staf ahli Presiden bidang sekuriti, sangat rentan dimanfaatkan oleh Tomy Winata, pimpinan kelompok Artha Graha. Soalnya, T.B. Silalahi orang kunci di Artha Graha. Kenyataannya, Artha Graha, yang sebagian saham banknya milik Yayasan Kartika Eka Paksi, lengan bisnis TNI/AD, juga ikut mengadu untung di Blok Cepu.

Dalam rush para pelaku bisnis top di Indonesia untuk mendapat bagian dalam pengeboran minyak bumi di blok Cepu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama Tomy Winata.

Selain dia, pengusaha yang sudah menampakkan minatnya untuk ikut menggarap blok Cepu adalah

1.Surya Paloh, melalui perusahaannya, PT Surya Energi Raya, Ketua partai Nasdem (nasi adem), yang digandeng oleh PT Asri Dharma milik Pemkab Bojonegoro

2.Dahlan Iskan, boss Grup Jawa Pos

3.Ilham Habibie, putra sulung mantan presiden B.J. Habibie

4. Letjen (Purn.) A.M. Hendropriyono, mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara)

5. Hartati Murdaya, pimpinan kelompok CCM (Central Cakra Murdaya);

6.Laksdya Sudibyo Rahardjo.

7.Susanto Supardjo, menantu Jusuf Kalla.

Hampir semua nama-nama diatas itu merupakan tokoh lama di bidang politik dan ekonomi yang masih aktif sampai sekarang.

Sudibyo Raharjo, mantan Dubes R.I. untuk Singapura dan mantan penasehat Otorita Batam, adalah mertua Thareq Kemal Habibie, putra kedua B.J. Habibie. Setahu saya, purnawirawan perwira TNI/AU itu tidak terlalu dekat dengan SBY.

Berbeda halnya dengan ‘trio’ Hendropriyono, Tomy Winata, dan Hartati Murdaya. Trio itu punya pertalian bisnis yang berputar di seputar keluarga Hendropriyono. Di masa jayanya sebagai Kepala BIN, Hendropriyono juga masuk dalam kelompok Artha Graha, karena menjadi Presiden Komisaris PT Kia Motors Indonesia (KMI), yang termasuk kelompok Artha Graha.

Tomy Winata pribadi, menjadi salah seorang pemegang saham PT KMI. Sedangkan seorang putera Hendro, Ronny Narpatisuta Hendropriyono, menjadi salah seorang direktur PT KMI, bersama Fayakun Muladi, putera mantan Menteri Kehakiman Muladi. Ronny, pada gilirannya, juga komisaris PT Hartadi Inti Plantations, penguasa areal konsesi kelapa sawit seluas 52 ribu hektar di Kabupaten-kabupaten Buol dan Toli-Toli di Sulawesi Tengah.

Berarti, keluarga Hendropriyono punya hubungan bisnis yang cukup erat dengan Tomy Winata maupun dengan Hartati Murdaya. Melihat kenyataan itu, boleh jadi trio Hendropriyono-Tomy Winata-Hartati Mudaya akan bekerjasama untuk mendapatkan bagian dari mega proyek blok Cepu itu.

Dengan mengungkap semua kaitan bisnis migas keluarga dan konco-konco Presiden, mantan2 Wakil Presiden,mantan2 menteri dan para Menteri, baik yang sudah terwujud maupun yang sedang digarap, kita dapat memahami kepentingan mereka untuk menaikkan harga BBM, yang naik sangat tidak proporsional dengan kemampuan kocek rakyat.

Bayangkan saja, harga bahan bakar minyak (BBM), yang kemarin rata-rata naik 125% jelas-jelas menunjukkan bias ke arah kepentingan kelas menengah dan atas.

Dari keterangan di atas terlihat bahwa ada Menteri yang bisnis keluarganya punya kaitan dengan Shell, yakni Aburizal Bakrie.

Kebetulan Ical juga penyandang dana Freedom Institute dan kebetulan juga Freedom Institute dipimpin oleh Rizal Mallarangeng, yang abangnya, Alfian Mallarangeng, dan ‘kebetulan’ lagi dulunya salah seorang jurubicara Presiden SBY,Menpora dan kebetulan di tangkap KPK.

Lalu, betulkah semua ‘kebetulan’ itu memang ‘kebetulan’? Ataukah tangan-tangan Shell memang begitu kuat mencengkeram ke dalam berbagai celah pemerintah dan masyarakat sipil di Indonesia? Siapa pelobi masuknya Shell ke pemasaran BBM? Ini dapat ditelisik dari lokasi pendirian pompa bensinnya yang pertama, yakni di depan Hypermart Lippo Karawaci di Tangerang.

Tanah di mana SPBU Shell itu berdiri, adalah bagian dari kota satelit Lippo Karawaci seluas 500 hektar, milik PT Lippo Karawaci Tbk. James T. Riyadi (lahir di Jakarta, 7 Januari 1957), adalah pemegang saham utama perusahaan itu.

Dia memimpin kelompok Lippo di Indonesia dan di AS. Sedangkan ayahnya, Mochtar Riady, memimpin usaha kelompok Lippo di Tiongkok dan kebetulan lagi merupakan penyandang dana terbesar untuk Jokowi Ahok.

Kerjasama ayah dan anak ini pernah menimbulkan kontroversi di AS, ketika kelompok Lippo menyumbang satu juta dollar AS untuk dua kali pemilihan Presiden William (Bill) Clinton.

Kedekatan mereka dengan Bill Clinton membuahkan hasil yang lumayan menguntungkan: sebuah pembangkit listrik raksasa yang dibangun kelompok Lippo di Tiongkok, mendapat pinjaman dari Bank Exim AS, yang sejatinya hanya meminjamkan dana kepada perusahaan-perusahaa­n AS.

Tidak banyak orang yang masih ingat peranan kelompok Lippo dalam skandal korupsi Bill Clinton itu, berkat kelihaian strategi human relations kelompok itu, yang menyasar kelas menengah-atas keturunan Tionghoa.

James Riady telah menyumbang pembangunan banyak gereja di berbagai kawasan pemukiman mewah di Indonesia. Kapela (gereja kecil) di kampus UKSW, Salatiga solo dimana kampung jokowi berasal, itu juga merupakan sumbangan Lippo.

Ayah James, Mochtar Riady, bahkan duduk dalam kepengurusan yayasan pengelola perguruan tinggi Kristen itu, yang telah memecat Arief Budiman, cendekiawan keturunan Tionghoa, yang sangat kritis terhadap perkembangan konglomerat di Indonesia.

Selain itu, kelompok Lippo dikenal sebagai salah satu donor PDI-P. PDI-P sendiri tidak dapat diharapkan karena penunjukan ExxonMobil sebagai pengelola Blok Cepu. Ini tidak terlepas dari dominannya peranan Megawati Soekarnoputri dan suaminya, Taufik Kiemas, di fraksi terbesar ke 2 di DPR-RI itu.

Padahal keluarga ini merupakan pedagang BBM yang semakin berjaya di wilayah DKI. Dengan memiliki 13 SPBU, keluarga Mega-Taufik sangat berhasil di bidang pemasaran BBM, dan masih terus berniat membuka pompa bensin baru, dengan merek Pertamina maupun yang lain.

Semua SPBU milik keluarga Mega-Taufik sudah berhasil menjual lebih dari 15 ribu liter gabungan premium, pertamax dan solar. Bahkan salah satu di antaranya, yaitu yang berlokasi di kawasan Pluit, Jakarta Barat, mampu menjual 90 ribu liter sehari.

Makanya, mereka sangat diuntungkan dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM tahun lalu. Padahal, keluarga Taufik Kiemas bukan satu-satunya anggota parlemen yang berjualan minyak. Lalu, untuk apa mereka mau menentang masuknya maskapai migas asing, mulai dari hulu sampai ke hilir..??

Dari semua yang ditulis diatas,saya jadi ingat keterangan Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Hendrik Sinaga.

Hendrik mengatakan, tujuh parpol yang terlibat Migas pertambangan itu terdiri atas pihak Sekretariat Gabungan (Setgab), oposisi dan partai pendatang baru.

Selain fungsionaris dan kader parpol, pihak korporasi juga terlibat dengan cara berlindung di balik izin yang didapatkan dari parlemen atau parpol.Korporasi, baik nasional maupun trans nasional, mendapatkan proteksi politik untuk mengeksploitasi sumber daya alam dari tujuh parpol itu.

“Tujuh parpol itu adalah Golkar, Demokrat, NasDem, Gerindra, PKS, PAN, dan PDI-P. Sementara tiga parpol lainnya yaitu PPP, PKB dan Hanura juga terlibat, hanya keterlibatannya belum mendetail,” terangnya.

Golkar terlihat dari peran ketua umum partai tersebut yang secara langsung, terlibat dalam praktik politik penjarahan melalui bisnis tambang yang dikelola Bakrie Grup.

Sementara itu, keterlibatan Demokrat dan Gerindra terlihat dari izin tumpang tindih di Kutai Timur. Kasus ini pun berbuntut dengan digugatnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga ketua Dewan Pembina Demokrat, Pemda Kutai Timur dan Pemerintah Indonesia ke arbitrase Internasional Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington DC, Amerika Serikat.

Kalau Nasdem, terlibat karena Surya Paloh punya saham sepuluh persen di Blok Cepu dan tambang emas di Banyuwangi. Gerindra juga terlibat karena adiknya Prabowo, Hasyim Djoyohadikusumo berbisnis di migas.
Lebih jauh, selain kasus sapi, PKS juga terlibat langsung dalam pemilihan Komisaris PT Newmont. Politisi PKS, Dzulkifli Mansah dipilih menjadi komisaris Newmont.
Sedangkan PAN terlibat karena peran ketua umumnya, Hatta Rajasa, yang telah malang melintang di bisnis migas sebelum menjadi menteri koordinator perekonomian. Keterlibatan PDIP sendiri melalui perizinan tambang yang diloloskan kepala daerah.

Kalau sudah seperti ini,bagaimana tidak seorang Antasari Azhar direkayasa kasusnya, mau membersihkan negara dari para mafia tapi disikat dari segala penjuru. Mafia dan Godfather berkolaborasi saling bahu membahu membungkam Antasari Azhar. [RioC/Muhammad/voa-islam]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 22, 2016 in Uncategorized

 

Kerajaan di Jawa pada Masa Turki Utsmani

 

raja-jawa

Pada tanggal 17 November 2013, Laman Ottoman History Picture Archives mengupload sebuah foto yang dikutip dari koran Turki lama yang menampilkan sosok para Bangsawan Kerajaan Jawa (Mataram) yang semasa dengan Sultan Abdul Hamid II.

Tertulis dalam keterangan foto berbahasa Turki:Jawa Amiri Hadhiri Urtaji Abdurrahman(berkemungkinan besar maksudnya adalah Raden Mas Murtejo, Hamengkubuwono VII yang memerintah Kesultanan Yogyakarta dari tahun 1877-1920).

Lalu di sebelahnya tertulis: Amirik Waziri Raden Hadi Fani Sasradiningrat. Tidak diketahui lebih lanjut, apakah foto ini diambil ketika sebuah kunjungan (Utusan Turki ke Yogya atau sebaliknya) ataukah dalam momentum lain. Tapi yang pasti, foto ini memberikan gambaran bahwa terdapat hubungan yang cukup erat antara Imperium Turki Utsmani dengan Kesultanan Yogyakarta.

Seperti diketahui, Sultan Abd-ul-Hamid II lahir pada tanggal 21 September 1842 dan wafat pada tanggal 10 Februari 1918, ia merupakan Sultan (Khalifah) ke-27 yang memerintah Daulah Khilafah Islamiyah Turki Utsmani yang menggantikan saudaranya Sultan Murad V pada 31 Agustus 1876.

Sepanjang pemerintahannya, Sultan Abdul Hamid II menghadapi berbagai dilema. Pada 1909 Sultan Abd-ul-Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer, sekaligus memaksanya untuk mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk yang kedua kalinya. Ia diasingkan ke Tesalonika, Yunani.

Selama Perang Dunia I, ia dipindahkan ke Istana Belarbe. Pada 10 Februari 1918, Abd-ul-Hamid II meninggal tanpa bisa menyaksikan runtuhnya institusi Negara Khilafah (1924), suatu peristiwa yang dihindari terjadi pada masa pemerintahannya. Ia digantikan oleh saudaranya Sultan Muhammad Reshad (Mehmed V) .

Selama periode pemerintahannya, Sultan Abd-ul-Hamid II menghadapi tantangan terberat yang pernah dijumpai kaum muslimin dan Kekaisaran Ottoman (Usmaniyah) saat itu:

  • Konspirasi dari negara-negara asing (seperti Perancis, Italia, Prusia, Rusia, dll) yang menghendaki hancurnya eksistensi Khilafah Usmaniyah.
  • Separatisme yang dihembuskan negara-negara Barat melalui ide nasionalisme, yang mengakibatkan negeri-negeri Balkan (seperti Bosnia Herzegovina, Kroasia, Kosovo, Bulgaria, Hongaria, Rumania, Albania, Yunani) melepaskan diri dari pangkuan Kekaisaran Ottoman. Begitu pula dengan lepasnya Mesir, Jazirah Arab (Hejaz dan Nejd) dan Libanon baik karena campur tangan negara asing ataupun gerakan dari dalam negeri. Akibatnya, di kawasan Balkan saat itu dikenal sebagai kawasan “Gentong Mesiu” karena konflik yang ada di kawasan itu dapat sewaktu waktu meledak terutama terlibatnya negara negara adikuasa masa itu (Kerajaan Ottoman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Inggris, Perancis, Kekaisaran Jerman dan Rusia. Konflik ini meledak saat Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Krisis di kawasan yang sekarang dikenal sebagai bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.
  • Perlawanan dari organisasi yang didukung negara-negara asing seperti organisasi Turki Fatat (Turki Muda), Ittihat ve Terakki (Persatuan dan Kemajuan).
  • Kekuatan Yahudi dan Freemasonry, yang menginginkan berdirinya komunitas Yahudi di Palestina.

Beberapa peristiwa pada zaman Sultan Abd-ul-Hamid II:

hamid

1840
Awal rencana pembuatan jalur kereta api yang membentang di Timur Tengah yang juga mencakup Jalur kereta api Hijaz yang menghubungkan antara Damaskus dengan Madinah yang juga direncanakan sampai ke Mekkah dan Jeddah. Jalur kereta api ini dibangun bertujuan untuk mempersatukan wilayah Kekaisaran (Kekhalifahan) Usmaniyah dengan sarana transportasi modern saat itu.

1876
Revolusi Bulgaria dengan bantuan Rusia gagal.
Serbia menyerang kaum muslimin dengan bantuan Rusia, kaum muslimin mengalahkan mereka, mengambil alih Bulgaria dan seluruh Serbia.

1877
Rusia dan Rumania dikalahkan setelah menyerang kaum muslim.
Rusia dan Hongaria mengambil alih Pleven, Bulgaria.
Rusia dikalahkan dan Tsar dibebaskan. Rusia telah kalah sebanyak 6 kali.

1878
Rusia mengambil alih Sofia, Pleven, dan Edrine di Turki.
Perjanjian damai dengan Rusia.
Bulgaria dan Serbia merdeka.
Edrine dan kawasan lain kembali kedalam wilayah Kekaisaran Usmaniyah.
Inggris mengambil alih Siprus.
Perjanjian Berlin, pihak Eropa membagi-bagikan tanah kaum muslimin.

1908
Jalur kereta api Hijaz yang menghubungkan antara Damaskus dengan Madinah dioperasikan. Rencananya, Jalur ini akan dihubungkan sampai Mekkah dan Jeddah. Namun karena keterbatasan dana dan sering adanya gangguan dari para pemuka suku setempat, jalur ini hanya dihubungkan sampai dengan Madinah. Keberadaan Jalur ini sangat mempermudah kelancaran jamaah haji dengan sarana transportasi modern saat itu. Berbeda dengan jalur di Timur Tengah lainnya seperti halnya Jalur kereta api Baghdad, Jalur kereta api ini dibangun tanpa bantuan dari luar negeri khususnya kekaisaran Jerman.

Sultan Abdul Hamid II: Pembela Palestina
Sejak zaman Kesultanan Turki Utsmani, bangsa Israel sudah berusaha tinggal di tanah Palestina. Kaum zionis itu menggunakan segala macam cara, intrik, maupun kekuatan uang dan politiknya untuk merebut tanah Palestina.

Di masa Sultan Abdul Hamid II, niat jahat kaum Yahudi itu begitu terasa. Kala itu, Palestina masih menjadi wilayah kekhalifahan Turki Utsmani. Sebagaimana dikisahkan dalam buku Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II karya Muhammad Harb, berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum Yahudi untuk menembus dinding Kesultanan Turki Utsmani, agar mereka dapat memasuki Palestina.

Pertama, pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan Abdul Hamid II, untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab Sultan dengan ucapan ”Pemerintan Utsmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina”. Mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Kedua, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara Yahudi, pada 1896 memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid II sambil meminta izin mendirikan gedung di al-Quds. Permohonan itu dijawab sultan, ”Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri”.

Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah Utsmaniyyah. Karena gencarnya aktivitas Zionis Yahudi akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid II. Kedatangan Hertzl kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut. Di antara sogokan yang disodorkan Hertzl adalah: uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; Membayar semua hutang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; Membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank; Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.

Namu, kesemuanya ditolak Sultan. Sultan tetap teguh dengan pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan, ”Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.”

Sultan juga mengatakan, ”Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”

Sejak saat itu kaum Yahudi dengan gerakan Zionismenya melancarkan gerakan untuk menumbangkan Sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon “liberation”, “freedom”, dan sebagainya, mereka menyebut pemerintahan Abdul Hamid II sebagai “Hamidian Absolutism”, dan sebagainya.

”Sesungguhnya aku tahu, bahwa nasibku semakin terancam. Aku dapat saja hijrah ke Eropa untuk menyelamatkan diri. Tetapi untuk apa? Aku adalah Khalifah yang bertanggungjawab atas umat ini. Tempatku adalah di sini. Di Istanbul!” Tulis Sultan Abdul Hamid II dalam catatan hariannya
.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2016 in Uncategorized